kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Manis pahit bisnis gerai martabak


Sabtu, 26 Oktober 2019 / 09:35 WIB

Manis pahit bisnis gerai martabak

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Siapa yang tidak  kenal martabak. Salah satu camilan favorit masyarakat Indonesia ini punya banyak penggemar, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Tak heran, kita dengan gampang menjumpai gerai atau tukang martabak di perumahan atau pinggir jalan di banyak daerah, baik itu  di kota besar hingga kota kecil.
Malah, gerai martabak sempat booming dua tahun belakangan. Penyebabnya, ada menu anyar di camilan tersebut. Yakni, ragam topping kekinian yang ditawarkan di sejumlah gerai martabak.

Cara ini tentu pebisnis gerai martabak tempuh untuk bisa menarik minat konsumen. Terutama, kaum milenial yang doyan dengan ragam kudapan kekinian tersebut.
Martabak kekinian bahkan menjadi salah satu menu utama dari sejumlah pebisnis gerai makanan ini. Termasuk juga, yang menawarkan kemitraan usaha untuk mempercepat ekspansi gerai.

Dalam rubrik review Waralaba pekan ini, KONTAN membahas kembali perkembangan bisnis kemitraan gerai martabak dari tiga pemain: Martabak Teladan, Martabak Queen, dan Martabak Banditz. Berikut usalannya:

Martabak Teladan

Salah satu pelaku usaha yang menawarkan kemitraan martabak adalah Bhakti Desta Alamsyah, dengan label Martabak Teladan. Usaha yang dia rintis sejak 2010 ini telah menawarkan kemitraan sejak 2016, dengan tiga paket.

Setahun berlalu usai KONTAN menulisnya, kini mitra Martabak Teladan telah bertambah menjadi 12 gerai. Sebelumnya, jumlah gerai mitra Teladan baru delapan.
Bhakti menyebutkan, seluruh mitranya tersebar di Bandung, Bengkulu, Cimahi, Cirebon, Lahat, Muara Enim, Palembang, Toraja, Toli Toli, Sorong, Manokwari, dan Natuna. "Gerai pusat cuma ada dua. Kalau mitra total saat ini ada 12 gerai," katanya kepada KONTAN, Kamis (17/10).

Kalau jumlah mitra bertambah, berbeda dengan paket investasi yang Bhakti tawarkan. Paket kemitraan Martabak Teladan sampai saat ini belum ada perubahan harga. Martabak Teladan menawarkan kemitraan dengan investasi mulai dari Rp 125 juta sampai Rp 175 juta.

Paket kemitraan pertama adalah mini restoran dengan nilai investasi Rp 125 juta. Fasilitas yang mitra dapatkan adalah seluruh perlengkapan restoran dengan ukuran lokasi 25 meter persegi (m²), bahan baku awal, penggunaan merek usaha, pelatihan, branding, dan fasilitas lain.

Kedua, paket restoran dengan investasi Rp 150 juta. Yang mitra peroleh sama dengan paket sebelumnya. Hanya saja, luas lokasi yang harus mitra siapkan sekitar 50 m². Lalu ketiga, paket restoran kafe senilai Rp 175 juta dengan luas minimal tempat yang harus mitra siapkan  sekitar 75 meter persegi.

Sejauh ini, Bhakti mengklaim, tidak mengalami kendala bisnis yang berarti di usaha tersebut. Justru, prospek usahanya ia nilai semakin prospektif. Ini setelah keberadaan teknologi digital yang mempermudah proses pengantaran martabak ke tangan konsumen via layanan pesan antar dari ojek online.

Terlebih, Martabak Teladan juga sudah memasarkan secara digital lewat media sosial. Pemintaan pun Bhakti klaim bertambah dengan fasilitas pemasaran digital itu.
Selain memanfaatkan teknologi, Martabak Teladan juga tidak melupakan inovasi seperti dari sisi menu. Tahun ini saja, Bhakti sudah mengeluarkan 12 menu anyar untuk bisa mengikuti selera kekinian dari konsumen mereka.

Kalau ditotal, ada sekitar 60 menu yang tersaji di Martabak Teladan. Mulai varian manis, asin, hingga kombinasi. Harga jualnya mulai Rp 15.000 sampai Rp 50.000 seporsi.

Melihat potensi martabak yang terus berkembang, Bhakti pun menargetkan ingin menambah 12 gerai mitra lagi sampai akhir tahun. "Total tahun ini ingin mencapai 24 gerai mitra. Ini sudah ada 12 gerai, jadi ada tambahan 12 gerai mitra lagi," harapnya.

Martabak Queen

Pemain lainnya dari kemitraan martabak adalah Martabak Queen yang Fariz Elka Prawira rintis sejak Maret 2016. Namun, berbeda dengan Martabak Teladan, tawaran paket kemitraan di Martabak Queen sudah dia hentikan pada awal 2018. Padahal, gerai Martabak Queen sempat booming di 2016–2017.

Menurut Fariz, untuk saat ini, bisnis kemitraan martabak sudah tidak musiman lagi. Ini masih ditambah lagi dengan kendala lainya, seperti bahan baku yang sudah tidak bisa dibilang murah lagi.

Padahal, Martabak Queen sempat memiliki lima mitra yang bergabung. Tapi pada akhirnya, mereka juga tidak beroperasi lagi. Sejak saat itu, Fariz pun memutuskan untuk berhenti menawarkan kemitraan Martabak Queen. “Kemitraan sudah ditutup sejak awal 2018, karena menyangkut tren bisnis dan daya beli yang rendah," ujarnya.

Sampai saat ini, gerai Martabak Queen yang masih jalan ada tiga gerai yang merupakan milik pribadi Fariz. Gerai ini masih bertahan di sekitar Tangerang, seperti Karawaci, Cikupa, dan Periuk Sangiang. "Kami masih bertahan dengan gerai pribadi," ujarnya.

Sejauh ini, Fariz belum ada niat untuk membuka kemitraan lagi. Ada kendala bisnis yang hingga kini belum bisa ia pecahkan. Yakni, menemukan strategi bisnis yang pas untuk bisa mengembangkan bisnis martabak lagi. "Belum menyiapkan strategi baru, jadi masih kami tutup tawaran franchise-nya," ucap dia.

Martabak Banditz

Usaha besutan Nico Siahaan yang mulai bergulir pada 2015 lalu nampak berjalan lancar. Kerjasama kemitraan yang dia mulai pada 2017 masih terus ia tawarkan.

Saat KONTAN mengupas pada 2018, Martabak Banditz punya  sembilan gerai yang tersebar di Sumatra Utara dan Jakarta. Kini, gerainya bertambah menjadi 15 outlet dan mayoritas masih berlokasi di sekitar Sumatra Utara, seperti Pematang Siantar, Tarutung, dan Karo. Ada pula gerai mitra yang beroperasi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) juga Duri (Riau). "Saya mengincar pasar daerah karena persaingan belum seketat di Jakarta dan kota-kota lain," kata Nico ke KONTAN.

Meski berpusat di Jakarta, Nico berani menggarap pasar di daerah kecil. Karena itu, tak jarang dia mengalami hambatan untuk mengirim bahan baku ke mitra bisnis. Kendala ini kerap ia alami saat liburan panjang atau hari raya. "Biasanya, butuh waktu seminggu untuk pengiriman demi biaya yang lebih murah. Ada kargo yang bisa cepat sampai, tapi, biayanya lebih mahal," ungkapnya.

Karena kendala tersebut, tidak jarang beberapa gerai mitra terpaksa berhenti beroperasi sementara. Ketika bahan baku sudah datang, barulah mereka membuka gerai lagi. Bahkan, ada mitra yang terpaksa menutup gerai dalam jangka waktu lama.

Soal kontrol terhadap mitra juga Nico akui menjadi tantangan tersendiri. Ia kesulitan untuk mengontrol penerapan standar operasional di setiap gerai milik mitra. "Memang, sistemnya harus dibenahi lagi agar ke depan lebih rapi dan teratur," katanya.

Untuk paket investasi kemitraan yang Nico tawarkan masih sama. Mulai Rp 10 juta sampai Rp 45 juta. Mitra mendapatkan seluruh fasilitas lengkap untuk siap berjualan dengan merek Martabak Banditz. Harga jual martabak pun masih  sama, yaitu Rp 20.000 sampai Rp 50.000 per loyang khusus di luar Jakarta.         


Reporter: Elisabeth Adventa, Ratih Waseso, Venny Suryanto
Editor: Markus Sumartomjon



Close [X]
×