kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Mantan konsultan, sukses jadi bos ritel (1)

Senin, 14 September 2015 / 10:00 WIB

Mantan konsultan, sukses jadi bos ritel (1)

Berita Terkait

Sejak tahun 2014, sosok Anggara Hans Prawira naik daun, apalagi setelah diangkat menjadi Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Sumber Alfaria).

Keputusan perusahaan pemilik jaringan minimarket Alfamart ini menunjuk pria yang akrab disapa Hans ini sebagai orang nomor satu cukup mengejutkan karena dia bukanlah keluarga dari Djoko Susanto, pendiri sekaligus pemilik Alfamart.


Apalagi, Sumber Alfaria selama ini identik sebagai perusahaan keluarga. Terpilihnya Hans di kursi nomor satu di perusahaan itu membuyarkan persepsi itu.

Siapa sebenarnya Hans Prawira sampai bisa dipercaya memimpin minimarket terbesar di Tanah Air ? Jika menilik perjalanan kariernya, Hans bukanlah anak baru di Alfamart.

Dia telah mengabdi di Sumber Alfaria sejak tahun 2001 hingga saat ini. Dengan kata lain, pria kelahiran tahun 1972 ini memiliki andil besar dalam mengembangkan bisnis Alfamart.

Namun, sektor ritel yang telah membesarkan namanya saat ini ternyata digelutinya secara tak sengaja. Hans kepada KONTAN beberapa waktu lalu, menuturkan bahwa dia sudah mulai bekerja pada tahun 1994, atau saat usianya 22 tahun. Ketika itu, dia mengaku bergabung dengan konsultan Prasetio Utomo & Co. atau Arthur Andersen meski belum merampungkan kuliahnya di jurusan Akuntansi Universitas Trisakti.

Setahun setelah bekerja sebagai konsultan inilah, Hans baru dinyatakan lulus dan menyandang gelar sarjana akuntansi.

Memiliki ijasah sarjana menbuat Hans makin percaya diri untuk membangun karier sebagai seorang profesional sebagai konsultan. Profesi ini disebut Hans sebagai ajang menimba ilmu sebanyak-banyaknya, mulai dari audit keuangan hingga strategi bisnis. "Saya bergabung sebagai konsultan buat belajar," tutur Hans.

Enam tahun berkarier sebagai konsultan membuat Hans mulai berpikir untuk terus mengembangkan diri, salah satunya lewat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Pada tahun 2000, Hans memutuskan untuk mengambil cuti dari pekerjaannya demi melanjutkan pendidikan master dari IPMI Business School dan Monash University Australia dan berhasil diselesaikannya dalam waktu setahun.

Setelah memiliki gelar Strata dua (S-2), Hans masih kembali ke tanah air pada tahun 2001 untuk meneruskan pekerjaan sebagai konsultan. Namun, jalan hidup telah mengubah keputusannya. Hans meninggalkan pekerjaan sebagai konsultan setelah bertemu dengan Djoko Susanto.

Hans mengaku kenal Djoko lantaran berteman baik dengan Feny, anak Djoko saat masih bekerja sebagai konsultan.

Pada awal tahun 2000-an tersebut, Djoko disebut Hans tengah serius mengembangkan bisnis minimarket di bawah bendera PT Alfa Minimart Utama (AMU).

Hans bilang, Djoko mengajaknya bergabung dengan harapan latar belakang pendidikannya di bidang keuangan, ditambah pengalamannya sebagai konsultan bisa membantu memajukan bisnis minimarket Alfamart.

Saat bergabung Alfa Minimart baru memiliki 43 gerai dan Hans diangkat sebagai Direktur Keuangan perusahaan.

Djoko memang tak salah memilih Hans. Belum lama menjabat, dia sudah melihat peluang besar dari bisnis minimarket. "Saya melihat konsep minimarket ini menarik karena berhadapan langsung dengan konsumen," ujarnya.

Apalagi, dia bilang kala itu persaingan bisnis minimarket masih longgar dan konsumen lebih akrab dengan format ritel besar seperti supermarket atau hipermarket. Maklum, pesaing utama saat itu hanya Indomaret yang dikelola PT Indomarco Prismatama. Persaingan itu pun berlanjut hingga saat ini.

Hans pun bekerja dibawah komando Feny yang ketika itu ditunjuk Djoko menjadi Presiden Direktur AMU. Kolaborasi keduanya berhasil membuat jumlah gerai Alfa Minimart terus bertambah. Tahun 2002, nama Alfa Minimart berganti menjadi Alfamart dan bendera AMU pun berganti menjadi Sumber Alfaria.

Menjaga pertumbuhan

Perkembangan jumlah gerai dan bisnis Alfamart berbanding lurus dengan perkembangan karier Hans di AMRT. Setelah tujuh tahun duduk sebagai Direktur Keuangan  Alfamart,  tahun 2008, Hans duduk sebagai deputy managing director.

Setahun berselang, yakni pada tahun 2009,  menjadi tahun yang penting bagi tonggak sejarah Alfamart maupun karier Hans. Pada tahun tersebut, Sumber Alfaria resmi menjadi perusahaan terbuka lewat penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) dengan ticker AMRT "Setelah perusahaan IPO, saya dituntut untuk menguasai bidang selain keuangan," ujarnya.

Karier Hans terus menanjak seiring makin ekspansifnya AMRT. Tahun 2011, Hans mendapat promosi menjadi Managing Director  AMRT. Jabatan ini selalu mampu dijawab lewat kinerja yang memuaskan perusahaan.

Puncaknya, Hans mendapat restu dari pemegang saham untuk menggantikan Feny menjadi Presiden Direktur AMRT pada Juni 2014, atau 13 tahun sejak pertama kali bergabung dengan perusahaan. Feny sendiri kini menduduki posisi sebagai Presiden Komisaris AMRT.

Dipercaya menakhodai AMRT, Hans mengaku tidak berambisi mengejar posisi itu. Dia mengaku selalu menjalankan prinsip sederhana dalam bekerja, yakni just do your best.

Dia mengatakan, dengan melakukan yang terbaik dalam pekerjaan, orang lain akan objektif memberi penilaian atas kinerjanya di perusahaan. (Bersambung)

 


Reporter: Adisti Dini Indreswari
Editor: Dikky Setiawan

TERBARU
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0720 || diagnostic_web = 0.4352

Close [X]
×