kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Masih ada peluang di bisnis pempek


Minggu, 06 Januari 2019 / 06:45 WIB
Masih ada peluang di bisnis pempek

Reporter: Elisabeth Adventa, Sugeng Adji Soenarso, Tri Sulistiowati, Venny Suryanto | Editor: Johana K.

8 Ulu Cik Ning

 
Pelaku usaha kemitraan pempek lainnya adalah Imron Casidy asal Jakarta yang membesut brand Pempek 8 Ulu Cik Ning pada tahun 2010. Saat diulas KONTAN pada 2013, Pempek ini sudah memiliki 25 gerai yang tersebar di wilayah Jawa, Riau, dan Lombok.
 
Endang Yopie Yanty, Manajer Pemasaran Pempek 8 Ulu Cik Ning, mengatakan, pihaknya baru saja menutup tawaran kemitraan. "Kami tidak lagi menjalankan kemitraan, tapi gerai mitra lama tetap berjalan. Kami tetap kontrol dan memasok bahan pempek," jelasnya. 
 
Konsep kemitraan Pempek 8 Ulu Cik Ning juga berubah.  Memanfaatkan keberadaan gerai lama, Endang membuka kesempatan kepada UKM yang ingin menjajakan ragam produk dijual di gerai Pempek 8 Ulu Cik Ning dengan membayar biaya Rp 2,5 juta. "Misal mitra ingin menjual produk kerupuk lele, cukup membayar Rp 2,5 juta per produk selamanya bisa jualan di gerai kami," ucapnya.
 
Adanya perubahan konsep kemitraan ini dikarenakan Pempek 8 Ulu Cik Ning ingin lebih memberdayakan pelaku UKM. Pempek 8 Ulu Cik Ning pun tidak memungut biaya royalti, tapi sistem bagi hasil. 
 
Endang mencontohkan, ketika mitra membanderol produknya seharga Rp 17.000, pihaknya akan menjual seharga Rp 20.000. Laba sebesar Rp 2.000 akan dibagi ke pihak pusat dan mitra.  "Sementara Rp 1.000 untuk sedekah,” katanya. 
 
Produk yang ia terima adalah yang berasal dari air laut dan air tawar di negeri ini. Rupanya ia ada obsesi ingin mengenalkan produk makanan UKM ke pasar global.
 
Dengan konsep anyar ini, ia menargetkan dalam tiga tahun bisa memasarkan ragam produk tersebut hingga ke 50 gerai pempek.                   




TERBARU

Close [X]
×