kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Melihat dari dekat sentra pembuatan emping di Jiput, Pandeglang (1)


Sabtu, 12 Oktober 2019 / 10:15 WIB
Melihat dari dekat sentra pembuatan emping di Jiput, Pandeglang (1)

Reporter: Ratih Waseso, Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JIPUT. Masyarakat Indonesia tak asing lagi dengan camilan gurih sedikit pahit yang terbuat dari buah melinjo. Emping, begitu kudapan ini punya nama, kerap jadi pelengkap makanan layaknya kerupuk.

Tentu, bukan cuma daerah Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang memproduksi camilan yang khas juga saat Lebaran ini. Di Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Banten, tepatnya di Desa Banyuresmi, juga membuat emping.

Saat memasuki desa tersebut akhir pekan kemarin, terlihat para ibu-ibu di teras rumah tengah menggeprek biji melinjo yang telah disangrai dan dikupas kulitnya. Eli Suhaeli, pengusaha emping yang ada di Desa Banyuresmi, menuturkan, pembuatan emping sudah menjadi tradisi yang ada di kampungnya. "Sekitar 80% para ibu menggeprek melinjo untuk emping  di rumah saat suami pergi ke sawah," katanya kepada KONTAN, Rabu (2/10).

Eli sendiri adalah generasi kedua yang meneruskan usaha sang ayah yang sudah bergulir sejak 30 tahun silam. Kini, usahanya mulai ia serahkan kepada sang anak sekitar tiga bulan lalu.

Ada sekitar 200 perajin emping yang menyetorkan melinjo yang sudah digeprek ke Eli. Satu perajin emping bisa menyetor maksimal 10 kilogram setiap hari. Ia yang menyediakan bahan baku melinjo yang sudah dikupas kulitnya dan dikirim ke warga untuk digeprek.

Hasil geprekan melinjo tersebut, Eli hargai sekitar Rp 4.000 per kilogram untuk bahan baku emping cupis atau ukuran kecil, dan Rp 5.000 sekilo bagi bahan baku emping yang besar. Saban hari, dia bisa mengeluarkan dana Rp 5 juta sebagai biaya upah perajin emping.

Bahan baku biji melinjo  Eli dapatkan dari daerah Ciomas dan Cibaliung, Pandeglang.  Sekali beli, Eli langsung memborong 10–15 ton biji melinjo kupasan.

Sedangkan untuk proses pembuatan emping terbilang cukup panjang. Pertama, biji melinjo disangrai kemudian dikupas kulitnya baru digeprek. Setelah itu, biji melinjo yang sudah pipih membentuk lingkaran dijemur hingga kering. Khusus untuk emping dengan satu biji bisa langsung dikeringkan dengan mesin dan langsung digoreng.

Proses berikutnya adalah pemberian rasa tambahan untuk emping varian pedas manis. Ada beberapa produk yang Eli produksi, yaitu emping pedas kecil, emping pedas lebar, dan emping manis yang dia pasarkan ke Jakarta. Untuk emping original, emping pedas manis daun jeruk, dan emping mentah hanya ia jual di sekitar Pandeglang.

Eli membanderol harga emping mulai Rp 38.000 per bungkus sampai Rp 40.000 per bungkus. Sedangkan untuk emping rasa original, harga per kilonya bisa mencapai Rp 45.000.

Salah satu perajin emping yang menyetor ke Eli adalah Mukibah. Ia biasa mulai menggeprek biji melinjo pada pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Sehari-harinya, dia mampu menumbuk sekitar tujuh kilo biji melinjo.

Produktivitas tesebut, Mukibah akui menurun. Maklum, usianya mulai senja. "Dulu, saya bisa menumbuk 10 kilogram sampai 15 kilogram biji melinjo sehari," katanya kepada KONTAN, Rabu (2/10) pekan lalu.

Profesi menumbuk biji melinjo untuk dijadikan emping sudah menjadi tradisi di Jiput. Pekerjaan ini bisa membantu perekonomian keluarga warga desa ini.      

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×