kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Melihat dari dekat sentra pembuatan emping di Jiput, Pandeglang (2)


Sabtu, 12 Oktober 2019 / 10:20 WIB
Melihat dari dekat sentra pembuatan emping di Jiput, Pandeglang (2)

Reporter: Ratih Waseso, Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JIPUT. Tidak ada yang menyangka bahwa di Desa Banyuresmi, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Banten menjadi salah satu sentra pembuat emping yang terbuat dari melinjo. Di daerah inilah, proses pembuatan emping mulai dari menggeprek biji melinjo tanpa kulit hingga dimasak menjadi ragam produk emping tersaji.

Padahal untuk bisa mencapai daerah tersebut, terutama dari Jalan Labuan-Pandeglang, butuh perjuangan karena jalan yang berliku. KONTAN pun sampai harus meminta bantuan ojek sepeda motor setempat untuk bisa mencapai desa tersebut, terutama untuk bisa menemui salah satu produsen emping terbesar di desa tersebut yakni Eli Suhaeli.

Pemilik produk dengan label Emping 96 ini sudah menjalani bisnis sejak 15 tahun yang lalu. Saat ini, dirinya sanggup mengolah dan memproduksi hingga 1,5 ton bahan baku melinjo untuk bisa dijadikan bahan baku emping per harinya.

Cara produksi  pun tergolong unik. Pria yang pernah bekerja di Jakarta ini memberdayakan warga setempat untuk menumbuk tau menggeprek biji melinjo tanpa kulit menjadi bahan baku utama emping. Setidaknya ada 200 warga Desa Banyuresmi yang menjadi rekanan Eli dan kebanyakan adalah para ibu-ibu desa setempat.

Salah satunya adalah Mukibah. Ibu rumah tangga yang rumahnya berdekatan dengan tempat produksi emping milik Eli ini bisa menggeprek biji melinjo antara 7 kilogram - 8 kilogram per harinya. "Dulu bisa mencapai 15 kilogram per hari, tapi saat ini sudah menjelang tua," tuturnya kepada KONTAN.

Setiap satu kilo bahan emping yang sudah digeprek, Mukibah mendapat upah sekitar Rp 4.000. Artinya dalam sehari ia bisa mendapat upah minimal Rp 27.000 per hari, atau Rp 810.000 per bulan.

Menurut Eli, biasanya para perajin paling banyak bisa menyetor geprekan melinjo hingga 10 kilogram per hari. Kalau dirata-rata dari setiap pengumpulan geprekan melinjo dari warga sekitar, Eli bisa mendapatkan lebih dari satu ton bahan baku emping.

Dari bahan baku tersebut, Eli hingga saat ini hanya membuat dua produk emping. Yakni rasa original dengan harga Rp 40.000 per bungkus serta rasa pedas manis dengan banderol Rp 38.000 per bungkus.

Setelah jadi, ia pun langsung memasarkan emping produksinya ke beberapa daerah yang ada di Pandeglang. Namun sebagian besar dilempar ke Jakarta.

Yang menarik, Eli tidak perlu lagi mengirim emping produksinya hingga ke kota-kota lainnya. Sebab mitra pengepul empingnya bakal melempar lagi produk tersebut ke sejumlah daerah dan kota-kota di luar Jakarta.

"Kami ada bos (pengepul) di Jakarta dan ada kontrak usaha juga dengannya," katanya tanpa merinci.

Biasanya Eli mengirim empingnya satu bulan sekali ke Jakarta. Jumlahnya sekitar 1,5 ton sampai 2 ton. Jumlah tersebut bisa bertambah banyak saat ada momen spesial, seperti jelang Lebaran atau Tahun Baru. Pengiriman emping di periode tersebut bisa tembus 2,5 ton per hari.

Dengan upaya tersebut, saban bulan rata-rata Eli bisa mendapat omzet hingga Rp 1,5 miliar per bulan dari dua produk empingnya.             

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×