kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Melihat dari dekat sentra pembuatan kopi Lintong (bagian 2)


Sabtu, 07 September 2019 / 09:50 WIB

Melihat dari dekat sentra pembuatan kopi Lintong (bagian 2)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Geliat usaha kopi di tanah Batak ini tak lepas dari peran dua orang penggiat yakni Gani Silaban dan Manat Samosir. Gani Silaban bersama petani kopi lainnya yang tergabung dalam KSU-POM Humbang memiliki kiat unik memasarkan bukan hanya kopi, tetapi juga proses mulai menanam sampai jadi secangkir kopi.

Kopi Lintong telah mendapatkan pengakuan dari Kemen­terian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui penerbitan ser­tifikat Indikasi Geografis (IG). Saat ini KSU-POM Humbang beranggotakan 80 orang petani.

Kini petani di Humbang Hasundutan tidak hanya berfokus pada produk hilir berupa kopi, tapi merambah sektor menjual proses produksi karena berpotensi mendatangkan cuan juga.

Baca Juga: Kopi Halmahera, Antam (ANTM) targetkan penambahan 120 ribu pohon kopi di Maluku Utara

Salah satunya model agrowisata dengan menawarkan Kopi Tour. "Kami akan menerima tamu-tamu dari berbagai daerah, berbagai negara untuk bisa melihat secara langsung bagaimana petani membudidayakan kopinya, memprosesnya," jelas Gani Silaban kepada tim KONTAN Jelajah Ekonomi Pariwisata 2019.

Wisatawan asing tertarik mengikuti proses pembuatan kopi dari hulu hingga hilir, yang menggunakan alat-alat tradisional. Mereka ingin mendapatkan pengalaman mengolah kopi dengan tangannya sendiri. "Mereka ikut memanen, menyangrai dan menggiling kopi yang baik, dengan alat-alat manual tradisional," sambung Gani.

Gani sudah melayani kunjungan wisatawan dari beberapa negara seperti Jepang, Myanmar, Filipina, Arab Saudi, Jerman, Cheko, Amerika Utara, Amerika Selatan, Korea, India, Israel, Singapura, Malaysia

Baca Juga: Mengelola hutan dan menciptakan peluang bagi waga Papua

Ke depannya paket agrowisata ini akan menyasar wisatawan domestik. Rencananya untuk wisatawan domestik sebanyak 1-5 orang akan dikenai biaya sebesar Rp 200.000 per orang, 5-10 orang Rp 150.000 per orang dan 10-20 orang lebih Rp 100.000 per orang.

Belakangan, Gani sedang menjajaki kerja sama dengan Kementrian Pariwisata untuk pengembangan hunian singgah di sekitar Desa Nagasaribu. Kementerian Pariwisata melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan membantu mengembangkan kawasan tersebut menjadi ramah wisatawan.

Gani juga meminta tamu-tamu yang datang  memberikan ulasan di media sosial atau laman internet lain agar bisa menceritakan pengalamannya ke dunia luar.

Sementara Manat Samosir, tidak spesifik ingin mengembangkan agrowisata. Tapi ia membuka pusat pengolahan kopi yang ia kelola yang terintegrasi dengan ratusan pohon kopi kepada wisatawan. Di lahan 1,5 hektare ia membuat tempat pembibitan kopi dan ada sekitar 300 batang pohon kopi. Ia juga melakukan penjemuran dengan kapasitas 20 ton, mesin sortir, dan mesin roasting di tempat sama.

Nah, saat wisatawan berkunjung ke tempat ini, mereka bisa langsung menikmati seduhan kopi dan proses dari hulu ke hilir dari kopi lintong.
Sembari menata tempat agar bisa menampung wisatawan, Manat terus mengembangkan kemampuan kelompok petani yang beranggotakan 600 anggota, agar bisa menerima tamu dengan baik.         

(Bersambung)


Reporter: Ratih Waseso
Editor: Markus Sumartomjon


Close [X]
×