kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Melihat penghasil mi sohun legendaris di Klaten (bagian 2)


Sabtu, 06 Juli 2019 / 12:25 WIB

Melihat penghasil mi sohun legendaris di Klaten (bagian 2)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Slamet Sumo Suwito mulai merintis usaha mi asal Tiongkok sejak zaman kemerdekaan. Kini, usaha ini telah menjadi penopang hidup warga di Desa Manjung, Ngawen, Jawa Tengah.

Kelapa Desa Manjung, Waliyono menceritakan, Mbah Sumo adalah orang pertama yang membuat mi sohun di desanya. Keahlian Mbah Sumo itu dia dapat saat dirinya bekerja di sebuah pabrik pembuatan mi sohun milik pengusaha keturunan Tionghoa di Kota Klaten.

Di sana, Mbah Sumo tidak cuma bekerja tapi juga mempelajari cara membuat dan memproduksi mi sohun yang ia kerjakan sehari-hari. Bermodal ilmu yang dia dapat, Mbah Sumo memutuskan keluar dari perusahaan mi sohun tersebut untuk membuka usaha sendiri.

Bersama dengan beberapa teman, Mbah Sumo merintis industri rumah tangga pembuatan mie sohun di desa asalnya yaitu Manjung. "Dulu peralatan yang dipakai masih sederhana," tuturnya.

Lambat laun, usaha Mbah Sumo yang disebut Bapak Sohun ini mulai menggeliat dan mendapat perhatian dari warga sekitar. Mbah Sumo pun tidak pelit untuk menularkan ilmu ke warga sekitar hingga akhirnya makin banyak warga yang menggeluti usaha mi sohun tersebut hingga kini. Waliyono mencatat, hingga saat ini setidaknya ada sekitar 70 rumah tangga yang memproduksi mi sohun di Manjung.

Rupanya Mbah Sumo menularkan resep pembuatan mi sohun yaitu dengan menggunakan bahan dasar ganyong dan pati aren. Namun seiring berjalannya waktu, ganyong semakin sulit didapat dan pembuat mi sohun di Manjung hingga kini hanya memakai pati aren saja. Justru dengan pemakaian bahan baku pati aren inilah yang membuat produk mi sohun racikan Manjung dikenal masyarakat luas.

Dedy Mustafa, salah satu pembuat mi sohun asal Manjung mengatakan, sekitar tahun 2000-an, para pembuat mi sohun di Manjung sempat memakai bahan baku tepung sagu untuk membuat mi sohun. Tapi pemakaian bahan baku tersebut tidak berlangsung lama. "Sekitar 10 tahun yang lalu sudah kembali memakai pati aren," tuturnya.

Para produsen mi sohun, termasuk dirinya menyebut mi sohun yang terbuat dari pati aren lebih bagus ketimbang memakai tepung sagu. Selain itu, harga jual mi sohun dari pati aren lebih tinggi dari yang berbahan baku tepung sagu.

Tapi ia akui bahwa memakai tepung sagu dalam proses pembuatan mi sohun memang lebih gampang dari memakai pati aren. Kelebihan lainnya adalah sedikit limbah yang dihasilkan.

Proses pembuatan mi sohun di Desa Manjung dilakukan secara bertahap. Menurut Dedy bahan baku mi sohun yaitu pati aren direndam dengan air kurang lebih enam hari. Selama perendaman, diberi sedikit kaporit untuk membersihkan kotoran yang menempel di bahan baku tersebut. "Pemberian kaporit di hari ketiga dan kelima, selebihnya direndam air biasa" tuturnya.

Setelah bersih, bahan baku pati aren ini dimasak hingga matang dengan menggunakan api kayu pohon aren. Setelah matang, adonan dimasukan ke mesin untuk dicetak menjadi mie sohun. Proses selanjutnya adalah penjemuran mi sohun selama satu hari sampai dua hari tergantung panas mentari.

(Bersambung)


Reporter: Ratih Waseso
Editor: Markus Sumartomjon

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = 0.0005 || diagnostic_web = 0.2559

Close [X]
×