kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Melihat perjalanan Teuku Dharul Bawadi merintis usaha mengembangkan Bawadi Coffee (1)


Sabtu, 27 Juli 2019 / 11:15 WIB

Melihat perjalanan Teuku Dharul Bawadi merintis usaha mengembangkan Bawadi Coffee (1)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banyak jalan menuju Roma. Peribahasa tersebut sering mengingatkan kita bahwa banyak cara untuk menuju kesuksesan. Bicara soal cara menggapai kesuksesan, ternyata tak melulu soal ijazah dan nilai bagus. Tak lulus dari bangku kuliah bukan berarti Anda tak bisa menggapai kesuksesan.

Hal tersebut dibuktikan oleh Teuku Dharul Bawadi, pemilik Bawadi Coffee. Pemuda kelahiran Aceh tersebut pernah gagal menamatkan kuliahnya saat semester 6 di masa perkuliahannya. Dari kegagalannya itulah, pria yang akrab disapa Bawadi ini mulai berencana untuk merintis bisnis.

"Saat mau lanjut ke semester 7, saya melihat kawan-kawan hanya mengejar untuk jadi PNS setelah lulus. Sedangkan saya waktu itu berpikir ingin menciptakan lapangan kerja bagi orang lain, jadi saya ingin segera mungkin membuat bisnis," ungkapnya kepada KONTAN.

Dalam proses merintis bisnis, Bawadi akhirnya memilih untuk terjun ke industri kopi. Pilihannya tersebut bukanlah tanpa alasan. Komoditas kopi hasil tanah kelahirannya punya potensi besar untuk bisa dikembangkan. Bahkan peluang untuk bisa merambah ke pasar internasional juga terbuka lebar.

Ia mengambil contoh salah satu jenis kopi di daerah asalnya yakni kopi gayo. Jenis kopi ini sudah punya nama dan sering kali memenangkan kontes kopi tingkat internasional. "Jadi kenapa saya tidak menggarap peluang ini karena di Aceh sendiri masih jarang pemain yang menggarap serius peluang bisnis ini," katanya memberi alasan.

Dengan modal Rp 30 juta hasil tabungan sendiri, Bawadi pun mantap mendirikan Bawadi Coffee pada tahun 2014. Produk unggulan kopi yang ditawarkan yakni kopi jenis arabika asal Gayo, Aceh. Sejak awal mendirikan usaha kopi ini, ia langsung membidik pasar ekspor. Bahkan di awal memasarkan Bawadi Coffee, ia langsung memasarkan ke luar negeri.

"Waktu awal saya memasarkan kopi arabika gayo ke beberapa lokasi di Malaysia dan Singapura. Saya memang memasang target awal kopi Bawadi bisa langsung ke Malaysia," terangnya.

Produk Bawadi Coffee dijual Rp 15.000 sampai Rp 250.000 tergantung ukuran. Ada kemasan dan ukuran satu kilogram. Kini, Bawadi mengolah sekitar 12 ton–14 ton kopi setiap bulan. Ia bekerjasama dengan 1.840 petani kopi asal Aceh yang saat ini menjadi mitra bisnisnya.

Saat ini, jangkauan pasar ekspor Bawadi Coffee semakin luas. Tercatat sudah ada delapan negara tujuan yakni Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, China, India, Australia, dan Kanada. Dengan hasil tersebut, Bawadi saat ini bisa meraup omzet Rp 600 juta per bulan.

(Bersambung)


Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Markus Sumartomjon


Close [X]
×