kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Melongok sentra sepatu Medan Denai (3)


Jumat, 15 Desember 2017 / 10:30 WIB
Melongok sentra sepatu Medan Denai (3)

Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Johana K.

KONTAN.CO.ID -  Meski menempati lokasi yang kurang strategis, para perajin sepatu di sentra  produksi sepatu kawasan Denai, Medan, Sumatra Utara tetap berkreasi ikuti model terkini. Saat KONTAN menyambangi lokasi pada September lalu, terlihat koleksi sepatunya tak jauh  berbeda dengan model-model yang dipajang di pertokoan. 

Paling banyak hasil karya mereka adalah sepatu laki-laki model kasual. Warnanya beragam, mulai dari hitam, putih, abu-abu, hingga biru. 
 
Amran, salah satu perajin sering terinspirasi dari model yang sedang naik daun di dunia. Dunia maya menjadi media mengakses info fesyen terkini. Selain itu, pelanggan juga seringkali membawa model sendiri.  
 
Para perajin cukup agresif meluncurkan model baru. Tiap tiga bulan, pasti ada satu desain baru.  "Patokannya, saat sepatu mulai kurang laku, itu tandanya harus buat model baru," ujar Amran.  
 
Setiap ada model baru, Amran pun langsung menawarkannya ke toko-toko yang ada di Medan, Tebing Tinggi, Aceh dan lokasi lainnya. Bila cocok, baru akan diproduksi dalam jumlah banyak. 
 
Meski sudah menjalani usaha ini cukup lama, bukan berarti Amran bebas hambatan. Kesulitan mendapat pelanggan baru menjadi kendalanya saat ini. 
 
Selain itu, modal juga menjadi masalah utamanya. Saat pesanan sedang ramai, dia sering kekurangan modal untuk memenuhi seluruh pesanan konsumen. Pasalnya, uang muka tidak cukup menutupi biaya produksi. 
 
Meski jumlah perajin tidak banyak, persaingan cukup ketat dan tidak sehat. "Ada yang memasang harga sangat murah, di sini harganya sendiri-sendiri," cerita Amran.  Agar tetap bertahan, dia pun lebih memilih mempertahankan kualitas, kerapian, serta ketelitian produk. 
 
Jonny Syafril Chan, perajin sepatu lainnya juga mengatakan, bila persaingan disana tidak sehat. Tidak jarang salah satu dari perajin sengaja menurunkan harga sehingga merusak pasar. "Mereka turun harga cuma sementara nanti juga normal lagi jadi biarin saja," katanya. Padahal, perajin masih berhadapan dengan sepatu impor yang harga lebih murah dengan model yang lebih cantik dan modis.  
 
Untuk mempertahankan usahanya, dia selalu mengikuti trend model-model terbaru, mepertahankan kualitas, serta menjalin hubungan baik dengan pelanggan. Sekitar dua atau tiga bulan sekali, laki-laki yang lebih akrab disapa Tojo ini selalu buat model baru.
 
Kedepan, dia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan kepada mereka dengan membentuk tim pemasaran yang membantu dalam penjualan produk dan dapat kembali mendatangkan pengunjung ke pusat produksi sepatu tersebut. Alhasil, suasana dapat kembali bergairah dan penjualan mereka pun dapat ikut terkerek naik.
 
(Selesai)



TERBARU
Terpopuler

[X]
×