kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45904,83   21,77   2.47%
  • EMAS938.000 -0,42%
  • RD.SAHAM -1.82%
  • RD.CAMPURAN -0.92%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Memanen peluang bisnis dari sarana hidroponik


Sabtu, 14 November 2020 / 10:15 WIB
Memanen peluang bisnis dari sarana hidroponik


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bercocok tanam di rumah secara hidroponik kini menjadi salah satu kegemaran baru selama pandemi korona. Tak ayal, pebisnis hidroponik yang juga menyediakan perlengkapan lain termasuk bibit sayuran ikut ketiban pulung.

Tolhas Pascal S, misalnya, pemilik usaha dengan label HidroponikSby asal Surabaya, menikmati lonjakan omzet hingga 120% di masa pandemi ketimbang sebelumnya. Usaha yang dia geluti sejak tahun 2019 ini paling bagus meraup omzet Rp 5 juta sebelum pandemi. "Kini, sebulan bisa Rp 12 juta per bulan," ungkapnya kepada KONTAN.

Pascal menyediakan ragam perlengkapan hidroponik. Ada netpot, rockwool, bibit, hingga instalasi hidroponik. Untuk instalasi hidroponik, ia membanderol dengan harga mulai Rp 900.000 hingga Rp 3 juta. Namun, harga tersebut bisa saja lebih murah sesuai model pesanan pelanggan. Lalu, harga netpot atau pot hidroponik mulai Rp 450-
Rp 500 per buah, dan bibit hidroponik dipukul rata Rp 10.000 per paket, baik sawi, selada, bayam, kangkung. maupun lainnya. 

Selain perlengkapan hidroponik, Pascal juga menjual sayuran hasil panen hidroponik. Harganya antara   Rp 10.000 sampai Rp 25.000 per 150 gram. 
Untuk bibit sayur, dia hanya melayani pesanan di sekitar Surabaya dan Sidoarjo. Tetapi untuk perlengkapan hidroponik, ia memasarkan di Jawa Timur via sarana digital. 

Baca Juga: Warna-warni cuan dari budidaya ikan cupang

Saat ini, Pascal masih terus memantau perkembangan bisnis hidroponik di tengah masyarakat, guna mengantisipasi laju bisnisnya.

Pemain di bisnis hidroponik lainnya ialah Tria Khoirulina dengan label Rumah Sayurku asal Malang, Jawa Timur. Sama seperti Pascal, Tria juga mengalami lonjakan permintaan perlengkapan hidroponik dibanding sebelum pandemi. Ia menjualnya ke seluruh Indonesia lewat media sosial.

Tapi, untuk paket hidroponik pemula yang sebelumnya dia jajakan justru malah menurun saat pandemi. Di paket ini, Tria menyediakan starter kit untuk memulai hidroponik. Biasanya ia bisa menjajakan antara 3 dan 10 paket pemula, kini hanya mendapat 1-6 pesanan per bulan. Kendalanya ternyata di bahan baku untuk menyediakan paket tersebut.

Selain itu, Tria menjajakan bibit hidroponik yang hanya dia jual di area Malang dan sekitarnya. Alhasil, omzet yang ia raup pun melonjak. Sebelum pandemi, rata-rata meraup omzet Rp 1,5 juta hingga Rp 3,3 juta per bulan. Kini saban bulan, Tri bisa mendekap Rp 2,5 juta sampai Rp 7 juta "Rencananya, ingin kembangkan ke produk olahan," ujarnya ke KONTAN.

Sedangkan pemain lawas seperti Nia Iskandar, pemilik Restumi Hidroponik di Bandung, Jawa Barat, awalnya memasok sayuran hidroponik ke sejumlah restoran dan supermarket di sekitar Bandung. Namun selama pandemi, ia mengalihkan perhatian ke penjualan online karena banyak pelanggannya yang tutup. Kini, ranah online jadi alternatif pasar baginya.

Selanjutnya: Sambut wisatawan, desa wisata siapkan fasilitas protokol kesehatan

 




TERBARU
Corporate Valuation Model Presentasi Bisnis yang Persuasif

[X]
×