kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   -50.000   -1,73%
  • USD/IDR 16.995   46,00   0,27%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Memburu lontong di kota buaya (1)


Jumat, 18 September 2015 / 15:19 WIB
Memburu lontong di kota buaya (1)


Reporter: Rani Nossar | Editor: Tri Adi

Di Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, ada tiga kelurahan yang dikenal sebagai sentra lontong. Salah satunya di Kelurahan Banyu Urip. Di sini ada sekitar 50 warga yang berprofesi sebagai pembuat lontong untuk memasok pedagang makanan khas Jawa Timur. Dalam sebulan, omzetnya bisa mencapai Rp 36 juta.

Lontong. Kudapan terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang atau anyaman daun kelapa muda (janur) ini, jadi makanan pengganti nasi masyarakat di Indonesia.

Lazimnya, lontong dimasak dengan cara dikukus untuk disajikan sebagai menu tambahan makanan lainnya seperti sate, gulai, gado-gado, ketoprak, dan lain-lain.

Di Kecamatan Sawahan, Surabaya Jawa Timur, ada permukiman warga yang dikenal sebagai kampung lontong. Di kampung ini, ada tiga kelurahan yang mayoritas warganya berprofesi membuat lontong, yakni di Kelurahan Petemon, Kupang Krajan, dan Banyu Urip.

Boleh dibilang, warga di tiga kelurahan itu produsen lontong terbesar di Jawa Timur. Mereka memasok sebagian besar pedagang makanan khas tradisional di seantero Surabaya. Sebut saja rujak cingur, pecel Madiun, lontong cap go meh, lontong balap, lontong kikil, lontong Kupang, lontong mie, dan tahu lontong Surabaya.

Pada awal September ini, KONTAN mengunjungi salah satu sentra produksi lontong di kawasan Banyu Urip, tepatnya di Jalan Banyu Urip Lor VIII. Di kampung ini, ada sekitar 50 penduduk yang memproduksi lontong.

Salah satu perajin lontong di Kelurahan Banyu Urip adalah Yuli Risma. Wanita berusia 48 tahun ini bilang, kampungnya sudah jadi sentra pembuatan lontong sejak tahun 2000. Ia berkisah, pada awalnya, Kelurahan Petemon Barat dan Banyuurip adalah sentra pembuatan tempe. Ketika itu, hanya sebagian warga yang memproduksi lontong.

Namun, ketika Indonesia dilanda krisis moneter pada tahun 1998 hingga 2000, banyak perajin tempe gulung tikar lantaran tidak mampu membeli kedelai. Sejak saat itu, para perajin tempe mulai beralih usaha menekuni pembuatan lontong.

Yuli sendiri awalnya adalah pedagang sayur mayur. Ia kerap merugi saat berjualan sayur. Jika tidak laku, sayuran itu banyak yang busuk. Jadi harus dibuang.

Karena itu, mulai tahun 2005, Yuli mengalihkan usahanya ke pembuatan lontong. Awalnya Yuli mencoba membuat empat keranjang lontong. Satu keranjang berisi 95 lontong.

Usahanya terus berkembang. Saat ini, dalam sehari, Yuli bisa memproduksi 16 keranjang lontong. "Alhamdulillah habis terus dan tidak pernah mubazir," kata Yuli.

Yuli menjual lontongnya dengan harga Rp 700 (ukuran sedang) dan ukuran besar Rp 1.000 per biji. Lontong itu dipasok Yuli untuk pedagang makanan di Pasar Asem, Surabaya. Dalam sehari, Yuli mengaku bisa mengantongi omzet Rp 1,2 juta atau sekitar Rp 36 juta per bulan.

Produsen lontong lainnya di sentra ini adalah Novita. Ia menekuni usaha ini sejak 2011. Ia meneruskan usaha mertuanya. Dengan dibantu satu karyawan, Reni bisa memproduksi 700 lontong per hari. Harganya dibanderol Rp 1.200 per biji. Dengan penjualan sebanyak, itu, Reni bisa meraup omzet Rp 800.000 per hari atau sekitar Rp 25 juta per bulan.   

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×