kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Memintal laba dari kain tenun Sumba (bagian 1)


Sabtu, 09 November 2019 / 09:40 WIB

Memintal laba dari kain tenun Sumba (bagian 1)

KONTAN.CO.ID - SUMBA. Indonesia memang kaya dengan aneka jenis produk kerajinan. Selain batik yang sudah mendunia, ada lagi satu produk hasil kerajinan tangan yang juga tidak kalah tenar dari batik, yakni kain tenun. Dan salah satu kain tenun yang punya corak dan ciri khas khusus yang cukup dikenal luas adalah kain tenun asal Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Siapa sangka, kain tenun Sumba ini sudah mulai dipakai oleh para desainer lokal. Malah untuk bisa mendapatkan kain tersebut, tak jarang para perancang busana lokal rela untuk mencarinya sampai ke tempat asal yakni Sumba.

Menurut Ronny Sonbay, salah satu perajin kain tenun Sumba, salah satu penyebab yang membuat kain tenun ini jadi tenar adalah berkat keberadaan teknologi digital. Rupanya, mulai ramai perajin tenun Sumba yang memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produk mereka. Termasuk juga dirinya yang sudah memanfaatkan media sosial untuk memasarkan ragam produk tenun Sumba.

Cara lain yang dilakukan perajin adalah dengan mengikuti pameran kerajinan, terutama yang ada di Jakarta. "Dengan ikut pameran membuat tenun Sumba semakin dikenal luas," kata perajin yang sudah berkiprah di tenun Sumba sejak tahun 2016 ini kepada KONTAN belum berselang.

Sejak awal ia memproduksi tenun Sumba ini di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Ada beberapa jenis motif kain yang menjadi ciri khas tenun ini, termasuk juga yang ia produksi. Salah satunya motif kaluda yang menceritakan nenek moyang atau leluhur dari penduduk Sumba dengan kegiatan beternak.

Dengan upaya tersebut, Ronny dalam sebulan rata-rata bisa menjual antara 50 potong kain sampai 70 potong sebulan. Sedangkan dalam kondisi sepi, kain tenun Sumba yang terjual berkisar antara 25 kain sampai 35 kain saja. Dengan hasil tersebut, dalam sebulan ia rata-rata bisa meraup omzet sekitar Rp 50 juta sampai Rp 60 juta per bulan.

Melihat hasil tersebut, membuat warga yang lain juga ikut-ikutan terjun di bisnis tenun Sumba. Seperti Chelsea Hartono yang baru mulai berusaha tenun Sumba sejak tahun 2018.

Meski baru berbisnis tenun Sumba, ia mengklaim sudah mendapatkan pendapatan yang relatif tinggi. Hasil tersebut tidak terlepas dari  upaya penjualan yang memanfaatkan teknologi digital sehingga pasar kain tenun Sumba ini tidak terbatas di Sumba saja tapi juga daerah lain di Indonesia.

"Peminat tenun Sumba sudah cukup banyak. Sampai ada artis hingga  selebgram yang pergi ke Sumba dan mengenakan tenun Sumba," katanya kepada KONTAN.
Adapun awal mula menjalani bisnis tenun Sumba ini karena dirinya memang asli daerah Sumba, yakni dari Waingapu, Sumba Timur. Selain itu dirinya tertarik dengan motif dari tenun Sumba yang khas.

Kalau Ronny pertama kali berbisnis mengandalkan toko offline di daerahnya, Chelsea justru langsung memanfaatkan media sosial dan beberapa marketplace yang ada. Dari jaringan pemasaran tersebut, ia bisa menjual ragam produk tenun Sumba. Yakni mulai dari kain, selendang, sarung dan sebagainya.

Sayang, Chelsea tidak mau memberi gambaran soal pendapatan yang ia terima dalam satu bulan. Yang jelas dalam membuat tenun kain Sumba ini ia kerap kali memakai bahan baku alami khas Sumba. Seperti daun nila, pewarna dari kayu kombu dan akar kombu.     

(Bersambung)


Reporter: Venny Suryanto
Editor: Markus Sumartomjon



Close [X]
×