kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Mendata mata yang memandang


Minggu, 14 Januari 2018 / 17:15 WIB
Mendata mata yang memandang


Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Johana K.

KONTAN.CO.ID - Siapa bilang kemacetan yang mendera kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta merupakan musibah. Bagi sebagian orang dan pebisnis, kemacetan yang terjadi justru menjadi celah bisnis yang menggiurkan. Terutama bagi pemasang iklan di kendaraan roda empat alias mobil pribadi dan sejenisnya.

Tak heran bila banyak perusahaan sejenis berseliweran yang menawarkan sarana untuk mengiklankan di kendaraan roda empat. Malah tak jarang, iklan media luar ruang ini sudah terpatri di sepeda motor, khususnya ojek online.

Namun, para pemasang iklan di media luar ruang, khususnya di otomotif tersebut, tidak mengetahui secara pasti. Seberapa efektifkah iklan tersebut menarik minat konsumen?

Melihat potensi bisnis tersebut, I Made Harta Wijaya, mendirikan KarAds pada Juli 2016. Hasilnya, hingga kini, Made mengklaim sudah menggaet lebih dari 2.000 mitra pengemudi  pribadi berplat hitam yang ada di Jabodetabek serta puluhan pengiklan. Sebanyak 90% mitra pengemudi tersebut merupakan mitra dari taksi online. "Kami ingin semua orang bisa beriklan di outdoor dengan mudah dan murah. Istilahnya democratizing outdoor, outdoor for everyone,” jelas Made kepada KONTAN.    

Akan tetapi, inovasi yang dibuat KarAds bukan hanya terletak pada beriklan lewat media mobil. KarAds juga menawarkan sepaket sistem dan model data analitik untuk mengukur efektifitas dari iklan yang ditempel di media mobil dan sarana otomotif lainnya. Inilah yang membedakan KarAds dengan perusahaan sejenis.  "Nilai model bisnis yang kami tawarkan lebih ke data analitik-nya. Kalau beriklan di mobil mungkin sudah ada beberapa perusahaan yang menggarap,” tutur Made menjelaskan perbedaan perusahaan ini dengan yang sejenis.   

Nah, ide menggarap iklan sekaligus data analitik tersebut muncul karena selama ini pengukuran tingkat efektifitas untuk iklan luar ruang atau outdoor belum ada yang menggarap. Di sisi lain, biaya yang dikeluarkan pengiklan untuk iklan luar ruang lumayan besar. Namun, pihak pengiklan selama ini tidak mengetahui efektifitas beriklan di media outdoor.

Ini berbeda dengan iklan di media yang lain. Ambil contoh iklan di media digital atau media online yang bisa dilihat dari klik per view. Atau juga dengan pengukuran media iklan televisi yang kerap kali memakai lembaga survei seperti Nielsen. "Iklan outdoor belum pernah ada ukurannya," jelasnya.  

Seperti apa pengukuran yang KarAds lakoni? Menurut Made, untuk mengukur efektivitas iklan di badan mobil, ada sejumlah indikator. Seperti rute perjalanan, kepadatan rute, berapa banyak kendaraan yang lewat di rute tersebut, atau berapa banyak orang yang lewat di suatu rute dan jalan.

Tidak hanya menawarkan jasa iklan mobil kepada para pengiklan, KarAds juga bekerjasama dengan sejumlah mitra pengemudi untuk menyediakan media mobil. Made bilang siapapun bisa bergabung menjadi mitra pengemudi KarAds, asalkan memenuhi kriteria yang disyaratkan.

Kriteria untuk menjadi mitra pengemudi yaitu, usia mobil yang digunakan tidak lebih dari 10 tahun, surat-surat seperti STNK, BPKB lengkap dan tidak memiliki masalah soal pajak kendaraan.  Selain itu jarak pergerakan mobil yang ditempuh minimal 1.000 kilometer (km) sampai 1.500 km per bulan. Made menjelaskan persyaratan minimal pergerakan mobil tersebut ia pakai sebagai salah satu indikator untuk menghitung efektifitas iklan yang ditempel di sebuah kendaraan.

Hitungan tersebut berdasarkan dari survei yang pernah pihak KarAds lakoni. Biasanya mobil-mobil yang berseliweran di Jakarta dan sekitarnya, punya pergerakan normal rata-rata antara 12.000 km sampai 15.000 km per tahun.

Nah, jika ada mitra KarAds ternyata mobil yang bersangkutan belum mencapai pergerakan minimal, maka pihak KarAds akan memberi waktu tambahan untuk bisa memenuhi persyaratan minimal  tersebut. Setelah itu, mobil tersebut bisa memulai debut pertamanya sebagai pembawa iklan.

Setelah mendapat tugas dan tanggungjawab sebagai pembawa iklan, mitra pengemudi tentu akan mendapat kompensasi sesuai dengan jenis pemasangan iklan. Kompensasi yang didapat mitra pengemudi mulai dari  Rp 300.000 sampai  Rp 1 juta per bulan, tergantung bagian mobil mana yang dipasang iklan.

Kompensasi tersebut di luar dari bonus. Mitra pengemudi juga akan mendapatkan bonus dari KarAds jika ada program khusus, seperti membagi flyer atau konvoi.      

Menurut Made, biasanya program khusus yang melibatkan mitra pengemudi tersebut merupakan permintaan tambahan dari pengiklan. "Program tambahan yang melibatkan mitra pengemudi, tentu ada bonus. Karena untuk program khusus ada biaya tambahan yang harus dibayarkan oleh pengiklan,” ujar Made.

Adapun bentuk iklannya sendiri berupa stiker atau wrap yang biasa ditempel di bagian tertentu sebuah mobil.

Sedangkan tarif yang dipatok untuk pengiklan mulai dari Rp 800.000 sampai Rp 1,5 juta per bulan untuk iklan di bagian kaca belakang mobil. Dan untuk bagian lain, seperti full belakang mobil, body samping, body depan dan full body punya tarif masing-masing. "Yang pasti tarifnya masih terjangkau. Tarif maksimal (full body) masih di bawah Rp 10 juta per bulan," terang Made yang menyebut tarif tersebut sudah mencakup semua fasilitas, termasuk biaya pemasangan stiker dan pajak iklan.

Sejauh ini, para klien atau pengiklan datang dari industri telekomunikasi, e-commerce, produk konsumer, makanan dan minuman serta perusahaan digital lainnya. Biasanya perusahaan tersebut memilih dua paket yang disediakan yakni paket standar atau paket sesuai keinginan konsumen (customized).  

Selain itu, klien juga berhak mengajukan beberapa permintaan khusus, seperti mobil jenis apa yang dipakai dan rute mana saja yang dilewati. Seperti iklan yang terpasang lewat rute yang padat kendaraan. Seta harus ditempel di mobil jenis MPV, seperti Luxio, Avanza, Xenia  dan yang lain.

Desain dan konsep kreatif iklan, Made menyerahkan sepenuhnya kepada klien. Ia menyarankan konten yang dipakai untuk iklan mobil ini berbeda dengan iklan media outdoor lain. Selain itu, KarAds juga menyediakan pilihan kontrak pemasangan iklan, yaitu 3, 6 dan 12 bulan. Kontrak tersebut berlaku bagi klien pengiklan dan mitra pengemudi.

KarAds juga menawarkan sistem online terpadu bagi klien pengiklan. Begitu iklan di mobil dipasang dan biaya dilunasi, klien pengiklan langsung mendapatkan nama sandi dan kata kunci untuk bisa masuk ke sistem online terpadu di KarAds.

Di sistem tersebut, klien pengiklan bisa memantau pergerakan mobil yang dipilih membawa iklan sekaligus sejumlah data yang mencakup jarak tempuh harian, titik berhenti, rute perjalanan, kepadatan traffic dan sebagainya. Bahkan, klien pengiklan bisa langsung mendapatkan laporan harian dari data pergerakan mobil. Dari data tersebut, klien bisa mengecek seberapa efektif iklan tersebut terpampang di media luar.   

Pihak KarAds juga memasang piranti GPS (global positioning system) di masing-masing mobil mitra pengemudi untuk menjaga keamanan dan memantau pergerakan mobil sekaligus mengukur efektifitasnya.

GPS akan dipasang ketika mobil sudah siap berkeliling untuk beriklan. Mitra pengemudi juga berhak memilih iklan jenis apa yang ingin mereka bawa.

Untuk memudahkan komunikasi antara pihak KarAds dan mitra pengemudi, KarAds mengembangkan aplikasi yang bisa diunduh lewat Google Playstore. Lewat aplikasi tersebut, calon mitra pengemudi bisa mendaftar, memilih iklan dan berkomunikasi dengan pihak KarAds.

Semua persyaratan dan pemenuhannya juga bisa dilihat lewat aplikasi tersebut. "Lewat aplikasi itu, mitra pengemudi bisa berkomunikasi dengan kami. Mereka bisa mengunggah data dan persyaratan.

Dan setiap jatuh tempo pembayaran kompensasi, mitra pengemudi wajib meng-upload foto mobil mereka sebagai bukti kalau iklannya masih terpasang. Semua lewat aplikasi,” jelas Made.

Ia berharap ke depan, KarAds tak hanya menawarkan jasa iklan, tapi juga lebih berkembang menjadi penyedia jasa pengolahan data analitik. Sehingga yang ditawarkan bukan sekadar jasa iklan dan data mentahnya saja. Sebab ada keinginan data mentah itu bisa diolah sehingga menjadi data potensial untuk keperluan klien ke depannya.

Selain itu, KarAds juga ingin masuk ke tahap hubungan yang lebih erat (engagement)  dengan konsumen.  Bila selama ini iklan outdoor baru sampai tahap awareness saja, ke depan KarAds ingin bisa mulai menggarap sampai ke konsumen. Misalnya menaruh produk di mobil dan mitra pengemudi menawarkan ke penumpang.   

Masih membutuhkan sosialisasi

Pengamat telekomunikasi dan start up dari Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi berpendapat persaingan di bisnis periklanan memang semakin ketat saat ini. Kondisi ini harus membuat si perusahaan yang bersangkutan harus bisa berinovasi supaya bisa memenangkan persaingan bisnis. Dan inovasi yang dilakukan KarAds perlu diapresiasi.

Nah, apa yang sudah KarAds lakoni dengan berinovasi membuat data analitik untuk mengukur efektivitas sebuah iklan di media ruang luar atau outdoor patut, ia apresiasi. Sebab, apa yang dilakoni perusahaan tersebut memadukan antara media konvensional dan digital. "Kalau yang ditawarkan hanya iklan mobil saja, saya rasa beberapa pemain sudah ada yang lebih dulu jalan. Tapi KarAds bisa memadukan antara iklan dengan data, mungkin masih belum ada yang terjun di bisnis seperti ini," ungkap Heru kepada KONTAN.

Namun, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan pihak KarAds agar bisnisnya bisa berkembang. Pertama, ia menyarakan supaya pihak KarAds melakukan perawatan berkala dan pengembangan di bidang teknologi informasi (TI).

Pasalnya, data analitik yang ditawarkan KarAds melibatkan banyak data digital. Maka dari itu pihak KarAds harus ekstra hati-hati dalam mengelola dan menyajikan data tersebut. "Sebenarnya masukan ini lebih ke teknis. Mereka harus punya back up data atau antisipasi jika sewaktu-waktu ada sistem yang error. Karena bicara soal data digital ini memang agak krusial," terang Heru.

Kedua, pihak KarAds perlu gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya para calon pengiklan soal konsep iklan mobil. Ini lantaran di  Indonesia, iklan mobil belum lazim ditemui. Bahkan sebagian masyarakat ada yang masih asing dengan iklan yang ada  mobil. Tak jarang, ada juga yang meragukan efektifitasnya dari keberadaan iklan tersebut.

Kalau ini terjadi, tentu bakal merugikan laju bisnis dari KarAds, dan tentu juga perusahaan lain yang sejenis. "Sosialisasi harus terus dilakukan. Edukasi produk bisnis juga perlu dilakukan, agar masyarakat makin aware dengan iklan mobil dan tertarik menggunakannya," sahutnya.

Sebab, menurut Heru, sebagian besar pengiklan masih lebih tertarik memasak iklan media luar ruang di papan reklame alias billboard. Maklum ada beberapa keunggulan yang tidak bisa didapat dari iklan di mobil atau sepeda motor.

Misalnya, iklan di billboard saat ini sudah lebih canggih dari sebelumnya. Kalau dulu iklan di billboard cuma sebatas iklan foto yang statis, kini sudah lebih hidup. Malah, kini mulai banyak iklan media ruang luar yang menyajikan bak televisi raksasa, artinya produk yang diiklankan jadi hidup.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×