kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Mendesain untung dari usaha kebaya encim (2)


Sabtu, 25 Januari 2020 / 10:35 WIB
Mendesain untung dari usaha kebaya encim (2)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebaya peranakan saat ini sudah menjadi pakaian yang eksklusif, terutama untuk produk yang proses pembuatannya masih mengandalkan tangan alias handmade. Maklum, untuk bisa membuat satu kebaya encim, istilah lain dari kebaya yang berasal dari perpaduan budaya Tionghoa dan lokal ini, bisa lebih dari satu bulan. Dan tentu, harganya tergolong fantastis, mencapai jutaan rupiah per potong.

July Sintha, perajin kebaya encim sekaligus pemilik Kebaya Nyonya Baba, mengaku, saban bulan bisa membuat lima hingga enam kebaya. Sebab, ia dapat bantuan dari empat karyawannya untuk urusan bordir dan pembuatan kerancang (lubang kebaya) yang memang butuh waktu.
 
Untuk memasarkan kebaya yang punya corak cerah tersebut, Sintha menjualnya di Galeri Hadiprana Art Center yang berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan. Selain itu, ia juga memanfaatkan pemasaran digital khususnya Instagram. 
 
Keberadaan media sosial tersebut ternyata membawa berkah buat Sintha. Para penyuka kebaya peranakan ala Kebaya Nyonya Baba ada yang berasal dari negeri seberang. Sebut saja, dari Malaysia dan Singapura.  
 
Melihat hasil yang positif itu, terbersit keinginan Sintha untuk terus melebarkan sayap usahanya. Contoh, membuka bisnis penyewaan kebaya encim. Tapi, ia belum memastikan, kapan bisnis baru itu bakal ia lakoni. 
 
Yang jelas, Sintha menyadari, untuk membeli kebaya tradisional ini memang mahal. Satu kebaya buatannya ia beri banderol harga mulai Rp 5,5 juta sampai Rp 8 juta per potong. Itu sebabnya, ia berencana membuka persewaan kebaya.
 
Untuk tarif sewa, tergantung kesepakatan dengan si penyewa, tidak ada patokan. "Kami masih memilih jenis kebaya yang akan disewakan, soalnya kami menyediakan juga kebaya siap pakai," katanya ke KONTAN.
 
Rencana lainnya yang sudah masuk daftar Sintha adalah melakukan promosi ke pasar yang lebih luas. Tapi, ia tidak memerinci lebih lanjut. Yang terang, upaya itu untuk terus mengenalkan kebaya peranakan ke khalayak banyak di Indonesia.
 
Sebab, selain memproduksi kebaya encim, Shinta juga membuat selop yang kerap menjadi pelengkap. Selop berlabel Kebaya Nyonya Baba berbanderol harga Rp 2,5 juta per pasang, dengan motif bordir dan berbahan baku kulit domba.
 
Dalam sebulan, Sintha sanggup memproduksi hingga sepuluh pasang selop. "Untuk pembelian satu paket, yakni  kebaya, sarung batik, dan selop, nilainya berkisar Rp 7,5 juta sampai Rp 10 juta," tutur Sintha.
 
Untuk bawahan kebaya yaitu kain batik, Sintha tidak memproduksi sendiri. Kain batik tersebut ia dapatkan dari beberapa teman perajin batik yang berasal dari Cirebon, Pekalongan, dan Lasem (Rembang).
 
Djoko Kurniawan, konsultan bisnis dan waralaba dari DK Consulting, menilai, potensi usaha kebaya peranakan masih positif. Soalnya, masih banyak perempuan Indonesia yang senang memakai kebaya di acara resmi. "Ini merupakan usaha jangka panjang dan tidak akan tergerus oleh waktu," ujar dia..
 
Usaha kreatif ini bisa terus berkembang dengan mengusung budaya lokal.     
 
(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×