Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.140
  • EMAS707.000 -0,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Menelusuri kampung tertua Bumi Pajajaran (1)

Sabtu, 15 Desember 2018 / 07:15 WIB

Menelusuri kampung tertua Bumi Pajajaran (1)

KONTAN.CO.ID - Selama ini, Bogor identik dengan Kebun Raya atau daerah puncak di kabupaten Bogor sebagai tempat wisata. Namun siapa sangka jika kota yang terkenal dengan sebutan kota hujan ini juga memiliki tempat wisata budaya. Letaknya ada di Kampung Budaya Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.

Kampung Budaya Sindang Barang berjarak sekitar 9 kilometer (km) dari pusat kota Bogor. Konon, kampung tersebut merupakan kampung tertua di Jawa Barat.

Anda bisa menuju ke sana dengan menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum. Ambil contoh, kereta commuterline (KRL) arah Bogor. Setelah sampai stasiun Bogor, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum nomor 02 jurusan terminal Bubulak-Sukasari, turun di Bogor Trade Mal (BTM). Kemudian disambung kembali dengan angkutan nomor 03 jurusan Ramayana- Ciapus yang memiliki tanda SBR (Sindangbarang).

Menggunakan transportasi umum maupun mobil pribadi, Anda harus berjalan kaki sekitar 200 meter dari parkiran mobil untuk sampai ke dalam kawasan Kampung Budaya Sindang Barang. Meski jaraknya tak terlalu jauh dari pusat kota, Anda bakal melewati jalan berkelok sepanjang perjalanan.  

"Ini kampung tertua di Jawa Barat yang masih bertahan sampai sekarang. Kami meyakini kampung ini sudah ada sejak abad ke-12. Lalu kampung ini direvitalisasi sekitar tahun 2006 dan diresmikan tahun 2007," jelas Ukat Sukatma, Penanggung Jawab Keamanan Adat dan Sejarah Kampung Budaya Sindang Barang.

Ia menjelaskan, kampung bersejarah tersebut sengaja direvitalisasi oleh pemda  untuk melestarikan peninggalan sejarah dan tradisi lokal leluhur Sunda Wiwitan. Nama Sindang Barang sendiri tertulis dalam Babad Pajajaran, berada di bawah kepemimpinan Prabu Siliwangi dengan Kutabarang sebagai ibukotanya.

Memasuki kawasan kampung budaya ini, para pengunjung akan disambut oleh pemandangan Imah Gede (rumah besar). Imah Gede digunakan sebagai tempat berkumpul dan bermusyarawah masyarakat dengan tetua adat dan para kokolot. Kokolot adalah sebutan bagi sesepuh adat Kampung Sindang Barang.

Selain Imah Gede, terdapat pula lumbung padi yang sangat ikonik. Mata para pengunjung juga akan dimanjakan oleh hijaunya hamparan sawah dan ladang yang mengelilingi Kampung Budaya Sindang Barang. Unsur sejarah dan kentalnya adat istiadat di kampung inilah yang menjadi daya tarik bagi para pengunjung.

Staf bagian umum manajemen Kampung Budaya Sindangbarang, Rohman Hidayat menjelaskan, konsep tradisional dan adat istiadat sengaja dijaga cukup ketat di Kampung Budaya Sindang Barang agar masyarakat bisa merasakan sensasinya. "Kalau datang ke sini, seakan- akan bisa punya gambaran dulu kehidupan penduduk di sini itu seperti apa," ungkapnya.

Rohman menginformasikan bahwa Kampung Budaya Sindang Barang buka setiap hari, mulai pukul 09.00 WIB- 17.00 WIB. Para pengunjung juga dikenakan tiket masuk sebesar Rp 25.000 per orang (akhir pekan) atau Rp 20.000 per orang saat hari biasa.    

(Bersambung)


Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0545 || diagnostic_web = 0.3841

Close [X]
×