kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Menengok sentra kain ulos di tanah Batak (bagian 1)


Sabtu, 12 Oktober 2019 / 09:00 WIB
Menengok sentra kain ulos di tanah Batak (bagian 1)

Reporter: Agustinus Respati, Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - TOBA SAMOSIR. Saat kita diskusi soal pakaian adat Batak, Anda pasti tidak bisa lepas dari ulos dan songket. Dua kain tenun tersebut merupakan jati diri dari Suku Batak sejak dahulu kala. Namun, dewasa ini banyak ditemukan kain ulos dan songket hasil pabrikan.

Kain tradisional ulos dan songket ini memang dibuat secara spesial, karena melalui proses tenun berminggu-minggu lamanya. Sebab, seorang penenun setiap hari harus duduk berjam-jam dengan tekun untuk menghasilkan kain berkualitas, rapi, dan presisi.

Rupanya ulos yang dibuat secara manual masih tetap ada, tepatnya di Kampung Banoealoehoe Toroean, Kecamatan Sigumpar, Toba Samosir, Sumatra Utara. Di sini masih terdapat beberapa anak muda yang menggeluti pembuatan tenun tradisional.

Ketika sampai di kampung ini, bayangan Anda mengenai jajaran orang menenun di depan rumah atau barisan kain ulos warna-warni yang dipajang rapi seperti kampung wisata akan sirna. Namun, pengunjung akan disambut dengan hamparan kebun jagung yang baru ditanam dan pekarangan yang masih penuh belukar. Kita juga perlu sedikit bersabar karena jalan menuju ke kampung ini sedikit terjal.

Untuk bisa menemukan penenun ulos dan songket di kampung ini, Anda perlu sedikit melongok ke dalam rumah. Ketika di dalam rumah ada seperangkat alat tenun atau yang lazim disebut gedokan, sudah pasti rumah tersebut memproduksi tenun.

Suara kayu pohon aren yang berbenturan itu adalah suara dari gedokan, alat yang digunakan untuk menenun. Ketika mendengarnya, di sana pasti ada orang menenun. Tapi, jangan ke sana pada hari Minggu, karena sebagian besar warga di sana pasti akan pergi beribadah saat hari itu.

Hebatnya, di kampung ini yang menggarap tenun dengan cara tradisional adalah orang yang tergolong muda. Memang beberapa ibu-ibu masih ada yang menenun, tapi jumlahnya tidak banyak lagi. Asti Panjaitan ialah salah satu pengrajin tenun mengaku sudah belajar membuat tenun ini sejak kelas 5 Sekolah Dasar (SD).
"Awalnya saya dimarahi ibu ketika ingin belajar menenun karena dianggap mengganggu," tutur Asti kepada KONTAN beberapa waktu lalu.

Saat ini Asti dan kakaknya Herta Panjaitan membuat songket dan ulos di rumah. Dalam satu bulan, kakak beradik ini mampu membuat dua pasang songket yang terdiri dari selendang dan sarung.

Lantaran proses pembuatan tenun tradisional memang memakan waktu yang lama, maka wajar satu kain mereka berdua kerjakan di bandrol Rp 7 juta hingga Rp 10 juta per setel. Saban bulan mayoritas pengrajin ulos hanya mampu menyelesaikan satu setel kain ulos, itupun menggunakan sistem pemesanan lebih dahulu.

Perajin lain adalah Risma Simangunsong. Sama halnya seperti Asti, ibunya juga merupakan penenun. Dalam sebulan, Risma hanya mampu mengerjakan satu setel kain.
"Sebenarnya bisa satu setel dan satu selendang, tapi itu sudah sangat diforsir tenaganya," ungkap dia. Untuk satu setel ulos, Risma memasang tarif sesuai permintaan. Biasanya harga satu setel di antara Rp 6,5 juta sampai Rp 9 juta.      

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×