kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menengok sentra kain ulos di tanah Batak (bagian 3)


Sabtu, 12 Oktober 2019 / 09:20 WIB
Menengok sentra kain ulos di tanah Batak (bagian 3)

Reporter: Agustinus Respati, Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - TOBA SAMOSIR. Maraknya perajin tenun di Kampung Banoealoehoe Toroean, Sigumpar, Toba Samosir saat ini sejatinya baru terjadi dua tahun terakhir.
Salah satu pemicunya, artis  dan publik figur Astrid Tiar menggunakan songket ini dalam pesta pernikahannya 2012. Sejak itu, tenun songket buatan penenun di Kampung Banoealoehoe Toroean dikenal masyarakat dan mulai banyak peminat.

Permintaan meningkat dan puncaknya terjadi dua tahun lalu. "Saya tidak pernah berpikir akan booming seperti sekarang. Tapi inilah buah kesabaran selama puluhan tahun terbayar," ujar Asti Panjaitan,  penenun di Kampung Banoealoehoe Toroean, Sigumpar, Toba Samosir kepada Tim Jelajah Ekonomi KONTAN 2019.

Hanya, permintaan songket yang  melejit  ini tidak diimbangi dengan bertambahnya jumlah penenun baru.

Rerata penenun di sana, saat ini, sudah berumur atau inang-inang. Alhasil,  kemampuan berproduksi juga terbatas. Jarang ditemui perajin tenun yang berusia muda.
Di sisi lain, peralatan produksi juga terbatas, pada alat tenun bukan mesin yang ada. Karena itulah, Asti mencoba menyiasatinya dengan membentuk kelompok penenun. Ia pun menggunakan nama Asti sebagai nama kelompok tenun.

Ia memilih anggota kelompok yang punya kemampuan menenun rapi, karena ingin mengutamakan kualitas. Saat ini ada sepuluh pengrajin yang tergabung di Kelompok Tenun Asti.

Pemerintah daerah juga sudah turun tangan membantu meningkatkan produktivitas dengan berbagai program. Namun minat warga untuk menjadi penenun tak banyak.
Hanya Asti dan Herta Panjaitan saudaranya yang termasuk penenun muda di kampungnya. "Yang lain ya inang-inang dan mereka sering banyak acara, kadang ke sawah, kadang sehingga tidak menenun full sehari," jelas Herta Panjaitan.

Penenun lainya Risma Simangunson menceritakan anak muda yang baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) di kampung ini pilih langsung merantau. Mereka menganggap penghasilan dari menenun ulos tak mencukupi biaya hidup.

Di sisi lain persaingan kain tenun ulos ini makin ketat dengan hadirnya pabrik yang bermunculan di Balige. Tenun hasil pabrik ini dijual lebih murah sehingga banyak menjadi pilihan masyarakat. Apalagi tak banyak orang yang bisa membedakan mana kain yang baik dan kurang.

Keterbatasan produksi tenun tradisional di Kampung Banoealoehoe Toroean, Kecamatan Sigumpar, Toba Samosir ini membuat Asti dan rekan-rekanya tak berani jualan di media sosial. Ia khawatir saat pesanan membludak justru tak bisa melayani semua.

Kini dengan keterbatasan, penenun di kampung ini berupaya melestarikan tradisi yang ditinggalkan nenek moyangnya dengan motif dan warna yang indah. "Kami berkarya supaya warisan nenek moyang kita ini tidak hilang," tutup Asti.   

(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×