Reporter: Marantina | Editor: Havid Vebri
Bekal pengalaman menjadi kunci R. Aj. Sari Ayu Artina sukses menjadi konsultan spa. Perempuan yang lebih dikenal dengan nama Sari Soekresno ini tak hanya memiliki klien di sekitar Jakarta saja, tapi hingga berbagai daerah di tanah air.
Memang, perempuan kelahiran Jakarta, 47 tahun silam ini sudah malang melintang di bisnis spa sejak 1993. Awalnya, Sari membuka salon muslimah Sari Soekresno di Depok. Tujuannya, membantu para muslimah supaya lebih memerhatikan kesehatan dan kebersihan diri.
Konsep salon yang ia kembangkan banyak ditiru pebisnis lain. Usahanya juga berkembang bagus. Berbekal pengalaman itulah, ia percaya diri menawarkan jasa konsultan spa sejak 2003. Sejatinya, kemampuan Sari kian terasah, karena rajin mengikuti berbagai pelatihan manajemen spa.
Bahkan, ia memegang sertifikat internasional dari Asia SPA Institute (ASI) di Singapura pada 2011. Berbagai macam konsultasi diberikan Sari kepada klien. Bukan hanya dari sisi bisnis, tapi juga sisi motivasi. “Kadang ada klien yang sekadar ingin dimotivasi, tapi, tak jarang juga yang ingin dibantu bisnis mulai dari nol sampai berjalan,” tutur lulusan Tata Rias di Universitas Negeri Jakarta ini.
Bagi klien yang hanya butuh motivasi, Sari mematok tarif Rp 150.000 per jam. Sementara, untuk konsultasi start up yang disertai pelatihan empat orang karyawan, hingga mulai pengoperasian, ia memungut biaya Rp 55 juta. Tarif ini, di luar akomodasi, apabila klien ingin buka salon di luar Jakarta.
Selain konsultasi, ia juga memberikan jasa lain, seperti studi kelayakan tempat, desain ruangan, rincian kebutuhan ruangan, pemilihan perlengkapan spa, pelatihan terapis, pembuatan SOP, hingga teknik marketing untuk klien.
Rata-rata klien yang datang pada Sari sudah mendapat informasi tentang dirinya dari internet atau buku karangannya, Sukses Berbisnis Salon Muslimah (2010). Nah, setelah sepakat soal tarif untuk konsultasi, Sari akan mengirim proposal yang berisi tugas dan hak Sari sebagai konsultan spa, serta klien sebagai partner bisnis. Jika proposal disetujui, pembicaraan lebih serius dilakukan hingga teken kerja sama.
Hebatnya, klien yang datang bukan saja orang-orang yang mau membuka salon muslimah. Soalnya, Sari juga menerima klien yang ingin memulai bisnis spa anak, kafe, hingga butik. “Pada intinya, manajemen bisnis itu sama saja yang berhubungan dengan SDM, pemasaran, dan finansial, jadi klien bisa sharing bisnis apa saja dengan saya,” tutur Sari yang berharap bisa go international ini.
Sejauh ini, Sari sudah memberikan konsultasi pada setidaknya 38 pemilik salon di wilayah Jabodetabek, Jambi, Mataram, Malang, Semarang, hingga Makassar.
Ia mengaku, bisa menerima dua klien saban bulan. Dengan kata lain, ia bisa mengantongi rata-rata omzet Rp 110 juta sebulan. Sari menyarankan, pengelola tempat spa harus menguasai keterampilan dan pengetahuan tentang bisnis salon dan spa.
Hal ini perlu karena, namanya bisnis, pasti tidak selalu berjalan mulus. “Di bisnis spa, sangat penting menganggap karyawan sebagai keluarga, tapi pemilik juga harus tegas,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













