kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Mengecap manis budidaya si buah langka kecapi


Sabtu, 02 Juni 2018 / 14:05 WIB

Mengecap manis budidaya si buah langka kecapi

KONTAN.CO.ID - Kini, mungkin sebagian besar orang justru mengenal kecapi sebagai nama salah satu jenis alat musik. Namun, ternyata kecapi (Sandricom Koetjape) merupakan tanaman khas Jakarta yang kini keberadaannya sudah langka.

Penduduk asli Betawi dulu banyak menanam pohon kecapi di pekarangan rumah. Namun, karena buahnya kalah populer dengan buah lainnya yang punya nilai jual lebih tinggi, seperti rambutan, mangga atau durian, kecapi pun tak dilirik lagi. Saat ini, hanya segelintir orang yang menanam pohon dengan nama lain sentul atau santol ini.

Buah kecapi sendiri, sekilas seperti manggis, yang terdiri dari beberapa buah berwarna putih. Hanya, kulit buahnya berwarna kuning. Yang matang, rasanya dominan manis dan sedikit masam.

Kini, berkembang kecapi bangkok. Seperti namanya, buah kecapi jenis ini punya ukuran lebih besar atau dua sampai tiga kali lebih besar dari buah kecapi umumnya. Rasanya juga lebih manis dan segar. Tak heran, kecapi bangkok pun jadi buruan.

Lahar Mahdi, pembudidaya tanaman asal Purworejo, Jawa Tengah mengatakan, meski banyak yang mencari kecapi bangkok, namun peminatnya hanya kalangan tertentu saja, seperti kolektor atau penggemar tanaman. "Saya rasa tanaman ini masih kurang publikas,i jadi orang umum belum banyak yang tahu dan kenal," tegasnya.

Pasalnya, dalam setahun dia hanya mampu menjual sekitar 500 bibit kecapi bangkok. Mahdi menjual bibit kecapi bangkok ini Rp 25.000 untuk bibit berukuran 30cm dan Rp 100.000 untuk bibit berukuran 1,5 meter.

Meski lahan pembibitannya ada di Purworejo, namun penjualan bibitnya tak terbatas hanya di kota-kota sekitarnya atau seputar Jawa Tengah. Mahdi sudah mengirim bibit kecapi bangkok ini hingga Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Selain dari mulut ke mulut, dia juga melapak daring.

Penjual bibit kecapi bangkok lainnya adalah Puriyani Hasanah, seorang pembudidaya tanaman  asal Bogor, Jawa Barat. Namun, meski tak menuai penjualan yang tinggi, Puri bilang, selalu ada konsumen yang mencari tanaman tersebut.  

Sebab, Puri hanya membudidayakan tanaman untuk suvenir. Bbibit tanamannya dijadikan sebagai suvenir acara-acara spesial seperti pernikahan, ulang tahun, dan lainnya.

Puri mengaku hanya membibitkan tanaman ini saat ada pesanan dari konsumen. Dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyiapkan tanaman.

"Biasanya konsumen sekali beli jumlahnya bisa ratusan karena untuk suvenir," katanya. Untuk harganya di patok Rp 9.000 per bibit dengan ukuran 30 cm. Bila permintaan sedang tinggi, dia menjalin mitra dengan pembudidaya lainnya yang berada di Bogor.

Pelanggannya datang dari berbagai kota di wilayah Jabodetabek. Untuk menjaga tanaman tetap dalam kondisi bagus, pengirimannya pun menggunakan pick up atau kendaraan pribadi sang pembeli.      


Reporter: Tri Sulistiowati
Editor: Johana K.


Close [X]
×