Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Menggenggam fulus dengan sentuhan teknik hias decoupage

Minggu, 22 Juli 2018 / 16:05 WIB

Menggenggam fulus dengan sentuhan teknik hias decoupage



KONTAN.CO.ID - Bicara soal tren fesyen memang tak ada habisnya. Ibarat roda, tren fesyen selalu dan akan terus berputar. Bagi pecinta kegiatan kreatif (crafter), seni decoupage rasanya tidak asing lagi. Seni asal negeri Menara Eiffel ini sempat booming, khususnya di kalangan crafter sejak tiga tahun lalu.

Decoupage sendiri merupakan seni menghias sebuah benda dengan menempelkan tisu bergambar. Saat awal dikenal di Indonesia, decoupage kebanyakan diaplikasikan pada perkakas rumah tangga atau benda-benda dekorasi rumah, seperti rak atau almari.

Namun, setahun belakangan, decoupage mulai diaplikasikan pada berbagai jenis tas. Mulai dari clutch, tote bag, tas selempang sampai tas jinjing. Sejumlah pelaku usaha kreatif pun melirik peluang ini. Tas etnik decoupage tak luput dari buruan para pecinta fesyen. "Karena tren tas anyaman rotan kayaknya sudah mulai menurun. Jadi saya kembangkan dengan kombinasi decoupage. Ternyata banyak juga yang suka," kata Erni Utami, pemilik Griya Etnik asal Bali.

Ia melihat tas anyaman rotan dan bambu nampak monoton dan khawatir jika konsumen jadi bosan karena kurangnya inovasi. Didorong oleh keinginan untuk berinovasi, Erni menempelkan aneka motif tisu decoupage untuk mempercantik tas anyaman rotan buatannya. Ia menjualnya dengan harga mulai Rp 175.000 sampai Rp 220.000 per buah.

"Ternyata setelah ditempel decoupage, banyak pelanggan yang cari juga. Sebulan rata-rata saya bisa jual 100 - 150 tas rotan decoupage," ujar Erni. Konsumen tas rotan decoupage buatan Griya Etnik berasal dari berbagai kota seperti Bali, Jakarta, Bandung, Jogja, Palembang, Medan, Makassar dan Surabaya.

Percikan laba dari hasil kreasi tas decoupage juga dirasakan oleh Heny Turniawati, pemilik Heny Craft asal Pekalongan, Jawa Tengah. Bisnis decoupage ditekuninya sejak tahun 2013 lalu mulai merambah ke tas sejak tahun 2015. "Awalnya saya hanya tempel untuk rak atau wadah dari kayu, seperti tempat tisu. Lalu lihat ada peluang untuk tas, jadi saya kembangkan juga," tuturnya pada KONTAN, Selasa (18/7).

Aneka kreasi tas decoupage mulai dari dompet, clutch sampai tas jinjing wanita dari anyaman daun pandan maupun kulit, dibanderol mulai dari harga Rp 90.000 hingga Rp 500.000 per buah. Heny mengaku saban bulannya dirinya bisa menjual sampai 50 buah tas jinjing dan 40-an buah dompet atau clutch.

"Pelanggan dari banyak kota, kebanyakan masih dari sekitar Jawa Tengah, seperti Semarang, Solo, Pekalongan, Demak. Banyak juga yang pesan dari Bali. Selebihnya ada yang dari Aceh, Jakarta, Surabaya sampai Kendari," papar Heny. Ia pun mengatakan jika wisatawan asing dari Amerika dan Eropa juga kerap membeli beberapa tas decoupage buatannya.     


KERAJINAN

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0866 || diagnostic_web = 0.4174

Close [X]
×