kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.859
  • SUN90,98 -0,39%
  • EMAS612.058 0,33%

Mengisi kandang lewat jalur digital

Minggu, 10 Juni 2018 / 10:05 WIB

Mengisi kandang lewat jalur digital



Bagi hasil syariah

Gilang mengatakan, Kandang.in tak hanya mengincar para investor. Namun, ia juga sekaligus ingin membantu para peternak Indonesia untuk tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan teknologi digital dalam memperoleh pendanaan.

Bagi calon investor yang ingin menanamkan modalnya melalui Kandang.in, cukup membuka website dan pilih 'Mulai investasi'. Lalu, akan muncul informasi peternak dan jenis ternak apa yang ingin didanai. "Jadi, saat calon investor membuka website Kandang.in, sudah tersedia daftar peternak yang sudah kami seleksi.

Disana juga tersedia informasi mengenai peternak, jenis ternak, periode ternak, dan jumlah kebutuhan dananya," terang Gilang. Setelah sudah diajukan, investor akan mendapatkan proposal investasi mengenai penjelasan tentang ternak dan simulasi keuntungan.

Selain itu, kata Gilang saat permintaan proposal disetujui dan telah mengirim sejumlah dana sesuai kesepakatan, investor akan diberi link untuk mengakses 'Dashboard Investor' guna memperoleh laporan setiap bulan hingga masa panen.

Sementara untuk peternak, tambah Gilang, yang akan dibantu pendanaan hanya peternak yang sudah memiliki kandang saja. Jadi,  bagi yang belum punya kandang tidak bisa memperoleh pendanaan.

Meski belum setahun berdiri, per Mei 2018, Kandang.in tercatat telah memiliki 100 investor tetap dan 40% sudah melakukan investasi ulang dan saat ini sudah ada sekitar 1.000 permintaan untuk mendapatkan proposal. "Saat ini sudah ada 100 investor dan 40% sudah melakukan investasi ulang atau setelah terima hasil jual ternak mereka melakukan investasi ulang." ujarnya.

Menurutnya, resmi meluncur pada akhir tahun lalu, Kandang.in sudah mencatatkan jumlah investasi sebesar Rp 1,6 miliar. Hingga akhir  tahun 2018, mereka memasang target untuk memperoleh dana investasi sebesar Rp 3 miliar. "Saat ini masih Rp 1,6 miliar. Harapannya sampai akhir tahun ini kami bisa mencatatkan nilai investasi sekitar Rp 3 miliar" ujarnya.

Selain itu, tambah Gilang, saat ini Kandang.in sudah bekerja sama dengan tiga  kelompok ternak besar yang mencakup 100 hingga 200 peternak setiap kelompoknya. Selain itu, ada juga peternak kecil yang tersebar di Blitar, Trenggalek, Lombok, Cikampek, Malang dan Banjarmasin.

"Kami sudah punya mitra peternak di enam kota dan dalam waktu dekat akan menambah kota, yakni di Wonogiri untuk ternak kambing dan Madura untuk ternak ayam," kata Gilang. Sebarannya, di Lombok ada peternak ayam, di Blitar untuk ayam dan sapi, sementara peternakan domba ada di Banjarmasin dan Cikampek.

Sementara untuk pendapatan, tambah Gilang, keuntungan diperoleh dengan sistem bagi hasil sesuai kaidah syariah. Gilang menjelaskan setelah panen dan jual hasil ternak, dana yang akan dibagikan merupakan dana yang telah dikurangi biaya pangan dan operasional. "Keuntungan yang kami terapkan di

Kandang.in menggunakan sistem bagi hasil syariah atau menggunakan akad mudharobah," jelas dia.
Investor sebagai pemilik usaha pasif. Jadi, dia hanya menitipkan dananya namun secara konvensional dikelola oleh dari para peternak. Lalu, penjualan hasil panen, akan dikurangi berbagai biaya yang telah dikeluarkan, seperti biaya bibit, operasional dan sebagainya. Selisih dari perhitungan itu dianggap keuntungan bersih yang kemudian akan dibagikan kepada Kandang.in, investor, dan peternak.
Gandeng Kemdes

Meski sudah punya pengalaman sebelumnya dalam bisnis ini, bukan berarti Gilang tak mendapati kendala saat awal mengembangan Kandang.in. Ia mengalami berbagai kendala selama proses pengembangan usahanya, seperti pendanaan, infrastruktur teknologi, serta jangkauan dan jumlah peternak yang masih minim.

"Saat ini kendala utama kami adalah pendanaan. Untuk pengembangan platform Kandang.in ini kami masih menggunakan dana pribadi sehingga kami masih sangat membutuhkan bantuan pendanaan dari pihak luar" ujarnya.

Selain pendanaan, kata Gilang, platform gagasannya juga mengalami kendala di jumlah peternak yang ada. Ia mengaku jumlah peternak yang dimiliki saat ini masih sedikit. "Saat ini jumlah peternak yang kami miliki masih sangat minim karena mencari dan mendapatkan peternak yang jujur dan sesuai syarat kami sangat sulit," tuturnya. Sebagai contoh saja, saat ini sudah ada lebih dari 1.000 permintaan untuk bisa investasi namun belum bisa terealisasi semua.

Namun, sebagai bentuk upaya pengembangan platform, Kandang.in akan bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemdes PDTT) guna mendukung peternak-peternak di daerah tertinggal. "Belum lama ini, kami mengadakan diskusi dengan Kemdes guna memperluas jangkauan peternak, sekaligus membantu peternak-peternak di desa tertinggal," kata Gilang.

Saat ini, telah dilakukan tahap pemetaan daerah mana saja yang akan dibantu dan jenis ternak apa. Nantinya, Kandang.in berperan sebagai penyedia investor dan Kemdes sebagai penyedia infrastruktur dari peternak yang ada di daerah, seperti kandang, pangan, dan sebagainya.                     


Reporter: Nur Pehatul Janna
Editor: Johana K.

BISNIS START-UP

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0011 || diagnostic_api_kanan = 0.0695 || diagnostic_web = 0.3518

Close [X]
×