Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Rizki Caturini
Sentra budidaya ikan nila di dusun Nayan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta sudah ada sebelum tahun 2000. Namun, lantaran para pembudidaya masih belum memiliki organisasi yang memiliki kegiatan untuk meningkatkan hasil pembudidayaan, akibatnya sentra ini belum memproduksi ikan nila dalam jumlah besar.
Setelah lima tahun berjalan sendiri-sendiri, warga desa Maguwoharjo kemudian membentuk Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) yang diberi nama Mino Ngudi Lestari pada 2005. Awalnya kelompok ini beranggotakan 19 orang. Seiring berjalannya waktu, anggota aktif kelompok ini terus bertambah. Saat ini anggota kelompok telah mencapai 28 orang.
Heri Santoso, Ketua KPI Mino Ngudi Lestari, mengatakan, perkembangan aktivitas pembudidayaan ikan nila di kelompok ini makin tinggi setelah menjadi binaan Pertamina.
Teknik budidaya yang tadinya menggunakan teknik yang seadanya, kini menjadi lebih profesional setelah mendapatkan pengarahan dan penyuluhan. Ini membuat hasil produksi ikan nila pun meningkat.
Sebelumnya, para pembudidaya ikan nila sulit mendapatkan hasil budidaya satu sampai dua ton dalam setahun. Kini, kapasitas satu ton sampai tiga ton hanya diperoleh dalam waktu tiga bulan saja.
Dulu masa panen pun hanya dilakukan dua kali dalam setahun. Saat ini, panen ikan nila bisa dilakukan setahun empat kali. KPI Mino Ngudi Lestari sudah menerapkan cara pembenihan ikan yang baik atau yang biasa singkat dengan CPIB. Bahkan pada 2013, KPI ini telah mendapatkan sertifikat CPIB excellent yang diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Di KPI ini, ada unit pengolahan ikan yang dibangun di atas lahan seluas 200 m². Unit pengolahan ini terdiri dari ruang pemrosesan produk kering, ruang pemrosesan produk basah, ruang pameran produk, ruang administrasi, serta dilengkapi standar peralatan dan mesin produksi yang aman untuk produksi makanan. Di unit pengolahan ini, hasil produksi ikan nila diolah menjadi aneka makanan seperti nila krispi, bakso ikan, nuget, otak-otak, ikan nila beku dan breaded fillet nila.
Dengan aktivitas pengolahan ini, nilai produk pun bisa ditingkatkan. Dulu, setelah panen, ikan hanya dijual ke pasar dan kolam pemancingan dengan harga Rp 16.000 per kilogram (kg). Adapun jika pembudidaya menjual hasil panennya ke KPI Mino Ngudi Lestari, harganya sedikit lebih tinggi, yakni sekitar Rp 18.000 per kg.
Saat ini, dengan mengolahnya menjadi berbagai produk olahan, Agus Mintolip, anggota KPI Mino Ngudi Lestari mengatakan, margin usaha yang diterima petani bisa meningkat Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per kg dibanding menjual ikan mentah.
Laba usaha para petani pun meningkat. Ketika panen hanya dua kali setahun, laba yang didapat pembudidaya tidak menentu. Saat ini, dalam tiga bulan sekali, mereka setidaknya bisa mengantongi laba bersih Rp 750.000. Produk olahan mereka dipasarkan ke pusat-pusat oleh-oleh di Yogyakarta, Solo, dan Magelang. n
(Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













