kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Mengukur kelezatan budidaya labu madu (bagian 1)


Jumat, 29 Maret 2019 / 10:20 WIB

Mengukur kelezatan budidaya labu madu (bagian 1)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tanaman labu cenderung kurang populer bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, tidak untuk labu madu. Belakangan ini, labu madu mulai menjadi tren di sebagian kalangan sebagai alternatif pangan dan mulai banyak ditemukan di sejumlah pasar modern yang membidik kelas premium.

Selain pangan alternatif, labu madu juga mulai populer sebagai makanan pendamping ASI bergizi tinggi. Bagi para ibu muda masa kini yang memiliki buah hati berumur mulai satu tahun hingga di bawah lima tahun pasti akrab dengan olahan labu madu. Labu berbentuk bulat memanjang ini punya kandungan gizi yang beragam. Mulai dari vitamin A, zat besi, asam folat dan kandungan serat yang tinggi.

Naiknya popularitas tanaman yang juga sering disebut butternut squash atau butternut pumpkin ini membuat sejumlah petani mulai beralih ke komoditas tersebut sejak lima tahun lalu. Bahkan beberapa daerah di Indonesia menjadi sentra budidaya labu madu.

Salah satunya di Kediri Jawa Timur. "Potensi labu madu cukup bagus, saya mendorong sesama petani di sini beralih menanam labu madu," kata Sulistyo Purnomo, petani labu madu asal Desa Toyoresmi, Kediri, Jawa Timur. Ia menyebut desanya kini menjadi menjadi salah satu sentra penghasil labu madu di Kediri.

Pria yang akrab disapa Sulis itu mulai budidaya labu madu sejak 2016. Awalnya, ia menanam singkong dan melon. Melihat potensi labu madu yang besar, ia pun banting setir menanam labu madu. Keberhasilan Sulistyo dan timnya membudidayakan labu madu menginspirasi warga sekitar yang sebagian besar adalah petani. Satu per satu warga beralih dari tanaman singkong, ketela dan melon ke labu madu.

Hal ini tidak terlepas dari harga labu madu yang kompetitif. Di tingkat petani, harganya sekitar Rp 12.000–Rp 15.000 per kg. "Di supermarket bisa sampai Rp 65.000 per kg," jelasnya.

Sekali panen, Sulistyo bisa menghasilkan 500 sampai 700 buah labu madu, dengan perkiraan berat sekitar 1 ton–2 ton. Satu buah labu madu memiliki berat 1,5 kg–3 kg. Setiap satu batang tanaman labu madu bisa menghasilkan 5 sampai 7 buah. Hasil panen tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di sekitar Jawa Timur serta ke Yogyakarta, Jakarta, hingga Banjarmasin.

Tak mau kalah, Indra Mahyudi, petani labu madu asal Medan juga menanam komoditas tersebut di lahan seluas 2,5 hektare sejak empat tahun lalu. Ia pun bakal terus memperluas areal tanam karena permintaan yang besar. "Sebagian besar untuk pasar menengah atas di Jawa dan Bali," tuturnya.

Labu madu hasil panenan Indra dibanderol Rp 10.000–Rp 13.000 per kilogram. Dalam sekali panen, ia bisa menghasilkan 50 ton–75 ton labu madu. Hasil panen tersebut dikirimkan ke berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Medan, Pontianak, Makasar, Semarang dan Yogyakarta.

Ia berharap, labu madu ini tidak cuma menyasar segmen menengah ke atas saja tapi juga bisa lebih luas lagi. "Bisa menjangkau seluruh kalangan, apalagi olahan labu mau banyak variasi," tuturnya.

(Bersambung)


Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Markus Sumartomjon

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0592 || diagnostic_web = 0.3104

Close [X]
×