kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Mengulur fulus dari panjangnya tongtoll


Jumat, 15 September 2017 / 12:20 WIB
Mengulur fulus dari panjangnya tongtoll


Reporter: Elisabeth Adventa, Mia Chiara | Editor: Johana K.

KONTAN.CO.ID - Tak hanya kalangan perbankan yang bisa tersenyum dengan berlakunya pembayaran non-tunai pada gerbang-gerbang tol. Sejumlah pengusaha yang jeli mengendus peluang usaha, kecipratan rezeki dari kebijakan yang berlaku mulai 1 Oktober nanti.  

Tak menunggu lama, penjualan produk tongkat e-toll pun segera marak.  Tongkat e-toll atau yang sering disebut tongtoll ini berupa tongkat panjang yang di ujungnya berbentuk kotak dan menjadi tempat e-toll card. Nah, tongkat ini bisa membantu pengendara mobil melakukan tapping pada mesin.

Maklum, seringkali pengendara kesulitan melakukan tapping lantaran jarak yang jauh. Sementara, jika dekat-dekat, takut spion atau pelek roda menggesek mesin itu atau pembatas jalan. Belajar dari pengalaman tersebut, Aditya Mulia Purnomo menjadi penjual tongtoll baru-baru ini.    

“Waktu itu saya mau pulang ke Jawa dan merasa kesulitan karena jarak mesin tap terlalu jauh. Nah, saya lihat ada beberapa orang yang menjual tongtoll ini. Dari situ saya lihat, kalau jualan tongtoll ini prospektif juga,” tuturnya.

Meski baru memulai bisnis penjualan tongtoll, Aditya bisa menjual 20-30 buah tongtoll setiap harinya. Ia melihat sejak produk ini muncul dan jadi pembicaraan hangat di media sosial, peminat tongtoll juga makin banyak. “Saya yakin peminat tongtoll ini akan lebih banyak lagi apa bila peraturan ini sudah berlaku.”ujarnya.

Ia membanderol tongtoll miliknya mulai Rp 15.000–Rp 50.000 per buah. Harga tersebut tergantung bahan tongtoll dan modelnya. Bahan tongtoll ada yang dari plastik, ada pula yang dari logam ringan.  

Praktis dalam sebulan, Aditya bisa mengantongi minimal Rp 9 juta dari jenis tongtoll yang paling murah. Konsumen Aditya datang dari berbagai kota, seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, Cibubur, dan Bekasi. “Yang jelas kebanyakan konsumen yang setiap harinya mondar-mandir keluar-masuk Jakarta lewat tol,” jelasnya.  

Tak hanya penjualan tongtoll Aditya yang laris. Gloria, penjual tongtoll lainnya juga melontarkan hal yang sama. Ia mengaku, menjual tongtoll atau yang disebutnya GTO stick karena sedang booming.

Sejak Mei 2017, Gloria sudah memasarkan tongtoll. “Sebenarnya saya lebih sering jualan makanan di akun Instagram, karena sedang tren dan sebentar lagi wajib pakai e-toll. Jadi bolehlah momentum ini dimanfaatkan,” tuturnya.

Gloria menjual tongtoll dari bahan plastik lewat akun Istagram miliknya. Harga tongtoll tersebut dibanderol Rp 15.000–Rp 25.000. “Kalau beli banyak, harganya bisa makin murah,” ujarnya.

Dalam sehari, Gloria bisa menjual sampai 30 buah tongtoll. Omzetnya diperkirakan mencapai Rp 13,5 juta dalam sebulan. Sama seperti Aditya, konsumen Gloria kebanyakan berasal dari sekitaran Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, Cibubur dan Karawang.

Jika ingin ikutan jualan tongtoll, di sini belinya

Munculnya tongkat ajaib untuk membantu pengendara mobil melakukan tapping kartu e-toll membuat sebagian masyarakat bertanya, darimana barang itu berasal? Aditya Mulia Purnomo, salah seorang penjual tongkat e-toll alias tongtoll mengaku langsung membeli barang dagangannya  tersebut dari pabriknya.

"Kami mengambil langsung dari pabriknya yang ada di Bandung. Jadi tongtoll bukan barang impor seperti tongsis atau barang-barang lainnya," ungkapnya. Tongtoll ternyata diproduksi di dalam negeri, tidak seperti kebanyakan barang yang selalu di impor dari negeri Tiongkok.

Karena Aditya langsung mengambil dari pabrik yang ada di Bandung, maka Ia pun menjual tongtoll secara eceran dan grosir. "Bisa ngecer, bisa juga kalau mau ambil banyak. Bahkan kemarin ada juga yang mau menjadi reseller kami," katanya. Namun, tentu saja, jika membeli dari pabrik, ada batas jumlah pembelian yang harus dipenuhi konsumen.

Jika Aditya langsung mengambil dari pabrik di Bandung, lain halnya dengan Gloria, penjual tongtoll lainnya. Ia mengaku membeli tongtoll dari pedagang grosir yang ada di daerah Glodok. "Saya ambil dari sebuah toko di Glodok. Cuma, memang mereka bukan toko yang khusus jual tongtoll. Jual tongtoll kalau ada peminatnya saja," tuturnya.

Gloria mengatakan dirinya menemukan pedagang grosir tongtoll via internet. Kemudian memesannya via internet. "Saya lupa persisnya dimana tokonya karena awal saya beli itu lewat online. Dan bilangnya tokonya ada di sekitar Glodok," ujarnya.

Baik Gloria maupun Aditya menjual tongtoll lewat gerai daring. "Semua jualnya online, lewat sosial media, Tokopedia maupun Olx," terang Aditya. Mahasiswa fakultas ekonomi sebuah universitas swasta ini mengaku optimistis jika tongtoll ke depannya masih tetap akan laku.

Gloria pun mengungkapkan hal yang sama. Ia mengatakan fasilitas kemudahan yang ditawarkan tongtoll membuat barang tersebut menjadi kebutuhan tersendiri bagi pengguna jalan tol.

"Pengguna jalan tol pasti butuh tongtoll. Karena memang bentuk mobil kan beda-beda, ada yang rendah dan tinggi. Jaraknya ke mesin tapping waktu berhenti juga beda-beda, sedangkan kebanyakan orang malas untuk turun dan nge-tap kartunya. Apalagi, kalau antrian panjang," jelas Gloria.

Tongtoll tersedia dengan beragam warna, ada hijau, merah muda, merah, kuning, biru muda, biru tua dan ungu. Bentuk tongtoll ada dua jenis, yakni mirip spatula dan mirip tongsis dengan bahan logam ringan.

Tongtoll yang bentuknya mirip spatula berbahan plastik dan lebih lentur, namun pengguna tidak bisa mengatur panjang atau pendeknya. Sedangkan tontoll yang bentuknya mirip tongsis, pengguna bisa mengatur sendiri panjang tongtoll sesuai kebutuhan. Selain itu, pegangannya juga terasa lebih kuat karena terbuat dari logam ringan. Berminat jualan tongtoll?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×