Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.578
  • SUN95,67 0,00%
  • EMAS656.000 -0,46%

Mengunyah renyah bisnis keripik pare dan jengkol

Minggu, 25 November 2018 / 07:00 WIB

Mengunyah renyah bisnis keripik pare dan jengkol

KONTAN.CO.ID - Sudah menjadi hal lumrah bila anak-anak atau sebagian orang tidak menyukai sayur yang pahit, seperti pare dan jengkol. Rasa dagingnya yang pahit membuat sayuran ini kurang nyaman dikonsumsi.

Namun, kini, pare dan jengkol diolah menjadi keripik dan kerupuk dengan aneka rasa. Tujuannya, agar dapat dikonsumsi semua kalangan tanpa takut dengan rasa pahitnya.

Kezia Elok, pemilik Om Pare asal Semarang, Jawa Tengah mengatakan, inovasi produk ini berhasil menarik perhatian khalayak karena bentuknya jadi keripik. Untuk melengkapinya, ia menyediakan tiga pilihan rasa, yakni original, balado, dan pedas. "Produk ini cukup mengundang rasa penasaran dan akhirnya mendorong mereka untuk beli," katanya.  

Perempuan yang lebih akrab disapa Elok ini bercerita, awalnya konsumen hanya membeli dua sampai tiga pak karena penasaran. Setelah tahu rasanya, banyak konsumen yang membeli lagi hingga menjadi pelanggan.

Konsumennya pun datang dari berbagai kota seperti  Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Aceh dan Medan.  Maklum, Elok memasarkan keripik lewat media digital.  

Kini, setiap bulan. Elok mengolah sekitar 100 kg pare kering. Dia menggandeng petani asal Boyolali untuk memenuhi seluruh kebutuhan parenya.

Untuk harganya, Elok mematok Rp 15.000 per bungkus (150 gram). Sayang, dia enggan menyebutkan omzet yang dikantonginya per bulan.

Sekedar info, perempuan berusia 23 tahun ini mulai membuka usaha sejak 2014 lalu. Dia menghabiskan waktu sekitar satu tahun untuk melewati tahap trial and error.

Pemain keripik berasa pahit lainnya adalah Mintarsih. Berbeda dengan Elok, ia mengolah jengkol menjadi kerupuk.

Pemilik Oyoh Jengkol asal Sumedang, Jawa Barat ini mengatakan, dalam bentuk kerupuk, konsumen lebih nyaman mengkonsumsi jengkaol. Mereka tidak perlu takut lagi akan bau mulut meski makan dalam jumlah banyak. "Ada pembeli yang bilang jadi tidak bisa berhenti sebelum habis karena rasanya nagih," katanya.

Selain rasanya lebih enak, Mintarsih tak menambahkan bahan pengawet dan pemutih. Alhasil, Oyoh Jengkol hanya bertahan dalam 4-5 bulan.

Sama dengan Elok, perempuan berhijab ini membuat tiga variasi rasa yaitu original, barbeque, dan pedas. Untuk harganya dipatok Rp 15.000 per pack (80 gram).

Total produksinya mencapai 500 sampai 1000 pieces per bulan. Dia menggandeng hampir 10 orang petani jengkol di Sumedang, Jawa Barat untuk mengamankan kebutuhan bahan bakunya.

Untuk konsumennya berasal dari berbagai daerah di nusantara. Produknya pun juga kerab diborong pelancong manca negara saat hendak pulang ke negara asalnya, Malaysia, Mesir, dan Australia.          


TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0552 || diagnostic_web = 0.3891

Close [X]
×