kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45811,59   9,89   1.23%
  • EMAS1.054.000 0,57%
  • RD.SAHAM 0.85%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Mengupas legenda kacang Sihobuk (bagian 1)


Sabtu, 24 Agustus 2019 / 09:00 WIB
Mengupas legenda kacang Sihobuk (bagian 1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mendengar kacang tanah, ingatan kita pasti mengarah ke produk kacang tanah besutan beberapa pabrik ternama. Ada Kacang Garuda atau Dua Kelinci. Tapi jangan salah, camilan yang biasa menjadi teman setia kala menyeruput kopi atau menonton pertandingan sepakbola tersebut justru ada yang diproduksi oleh usaha kecil menengah hingga industri rumah tangga.  

Beberapa daerah memang menjadi sentra kacang tanah,  seperti di Tuban Jawa Timur. Kalau di tanah Sumatra, ada salah satu sentra pembuat kacang tanah yang cukup tersohor. Bahkan kacang dari wilayah ini menjadi buah tangan saat berkunjung ke Tarutung, namanya adalah Kacang Sihobuk.

Saat KONTAN bertandang ke desa tersebut awal Agustus ini, suara memilah kacang dengan tampah anyaman terdengar cukup nyaring di salah satu rumah produksi kacang garing khas Tapanuli Utara tersebut.  Pekerja lainnya duduk melingkar memilah kembali kacang yang sudah dibersihkan dengan tampah.

Baca Juga: Kacang Sihobuk, oleh-oleh khas Tapanuli Utara yang semua kemasannya seragam

Ternyata, keberadaan kacang Sihobuk itu sudah ada akhir 1970-an. Para perajin kala itu berkumpul di Desa Sihobuk, tapi banjir besar yang terjadi di tahun 1980-an membuat banyak perajin lantas mulai menyebar ke desa-desa lainnya hingga di sekitar Kecamatan Tarutung.

"Terjadi erosi di dataran yang lebih tinggi dan air langsung turun," kenang Sihar Pakpahan, salah satu perajin kacang Sihobuk kepada KONTAN.

Kini, para pembuat kacang Sihobuk tak hanya berkutat di Desa Sihobuk saja, tapi satu kecamatan di Tarutung bisa dijumpai para perajin camilan renyah tersebut, mulai dari yang memakai peralatan tradisional hingga mesin menyangrai kacang.

Pakpahan sendiri mulai meneruskan usaha dari orangtua sejak 2010. "Kami berjualan masih di jalan depan desa dan itu saja, kami selalu kehabisan stok," katanya.

Biasanya, para produsen kacang Sihobuk menjual dalam ragam kemasan, mulai dari yang terkecil hingga terbesar. Dan Pakpahan menjualnya dari harga Rp 10.000 per kemasan seukuran susu kental manis hingga Rp 400.000 per kemasan dengan bobot hingga lima kilogram. "Itu yang paling mahal," katanya.

Selain Pakpahan, ada juga Sabar Manalu, pemilik UD Marroan Kacang Sihobuk yang ada di Desa Simamora. Berbeda dengan Pakpahan, Manalu sudah menggunakan mesin otomatis dalam menyangrai kacang.

Sama seperti Pakpahan,  Manulu juga menjual kacang Sihobuk dalam beberapa ukuran. Untuk kemasan dengan berat 380 gram dijual dengan harga Rp 20.000. Dan untuk ukuran kaleng susu yang besar, harganya mencapai Rp 280.000 per kemasan.

Dalam sebulan, Manulu bisa menjual rata-rata 300 kaleng. Sedangkan, Pakpahan tidak seberuntung Manulu, karena baru bisa melego hingga 10 kaleng ukuran besar saban bulannya.

Biasanya, kacang Sihobuk ramai diburu para pendatang dan turis saat libur sekolah atau saat hari raya keagamaanan. Kacang ini juga jadi buruan warga setempat atau orang Batak di daerah lain sebagai salah satu camilan untuk hajatan. Malah, kini kacang sihobuk jadi oleh-oleh para turis.           n

(Bersambung)



TERBARU

[X]
×