kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Mengupas legenda kacang Sihobuk (bagian 2)


Sabtu, 24 Agustus 2019 / 09:15 WIB

Mengupas legenda kacang Sihobuk (bagian 2)


KONTAN.CO.ID - TARUTUNG. Rasa gurih, renyah dan manis menjadi salah satu ciri khas kacang Sihobuk. Inilah salah satu buah tangan khas dari daerah Tapanuli Utara. Keberadaan kacang tanah dari Desa Sihobuk, Tarutung Tapanuli Utara, Sumatra Utara tersebut sudah bisa ditemui di hampir setiap toko di Tapanuli Utara.

Untuk bisa menghasilkan rasa yang khas tersebut ternyata butuh proses yang tidak sebentar. Perajin kacang tanah Desa Sihobuk pun rutin melakukan hal ini.
Seperti Sabar Manalu, pemilik UD Marroan, salah satu produsen kacang tanah di Sihobuk. Menurut Sabar, yang membuat rasa kacang tanah Sihobuk gurih dan renyah dan terkadang manis karena proses penyangraiannya dilakukan tanpa minyak goreng, melainkan pasir.

Sebelum disangrai, para perajin termasuk dirinya, akan memilih kacang tanah yang terbaik.  Artinya bentuk yang tidak rusak dan utuh.

Langkah berikutnya adalah merendam kacang yang sudah dipilih dengan air bersih selama satu hari sampai dua hari. "Karena kami harus menjual kacang tanah kualitas bagus," kata Manalu kepada KONTAN yang  mempunyai 12 pekerja.

Setelah direndam, dan dikeringkan barulah proses penyangraian dimulai. Biasanya produsen menggoreng kacang dengan pasir selama sejam lebih. Dalam sehari, Manulu bisa menyangrai kacang tanah antara enam sampai sembilan kali. Volume sekali sangrai 35 kilogram kacang tanah. Maklum, ia memakai mesin sangrai.

Pemain lainnya yakni Sihar Pakpahan, justru masih memakai cara tradisional saat menyangrai kacang tanah. Yakni dengan menggunakan wajan penggoreng besar yang berisi pasir. Alhasil dalam sehari, ia cuma sanggup menyangrai kacang dua kali sehari dengan kapasitas wajan hingga 10 kilogram kacang.

"Menyangrai pakai sendok besi dan terus mengaduk nonstop selama dua jam dan api kompor harus stabil supaya tidak gosong," jelasnya yang memproduksi kacang bareng keluarganya.

Yang harus diperhatikan,  pasir harus diganti setiap hari. Jika tidak, akan menimbulkan rasa pahit di kacang karena efek pasir yang sudah gosong akibat proses penyangraian sebelumnya.

Untuk bahan baku kacang tanah sendiri Pakpahan mendapatkan dari daerah Sipoholon, Lobu Pining dan terkadang Hutapea. Sekali belanja bahan baku kacang tanah bisa mencapai 10 kaleng yang setara 45 kilogram - 50 kilogram.

Sementara Manalu yang mengharuskan bahan baku kacang tanah berasal dari daerah Hutapea. Ia merasa kacang hasil produksi di tempat ini lebih manis.
Selain gurih dan manis tahapan produksi yang tak kalah penting adalah agar kacang hasil produksi awet alias tahan lama. Nah, dari tingkat keawetan ternyata kacang Sihobuk yang disangrai secara tradisional bisa tahan lebih lama dari yang modern. Dengan cara masak kacang secara tradisional, biasanya bisa tahan hingga enam bulan, dan yang modern cuma tiga bulan. Syaratnya, kemasan kacang masih tertutup rapat.

Dari segi pemasaran, Pakpahan andalkan warung di depan gang masuk desa. Sedangkan Manalu mulai  berjualan online.        n

(Bersambung)


Reporter: Ratih Waseso
Editor: Markus Sumartomjon

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0015 || diagnostic_api_kanan = 0.0025 || diagnostic_web = 0.4939

Close [X]
×