kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Mengupas tren waralaba dan kemitraan usaha pada tahun 2020 ini (2)


Sabtu, 18 Januari 2020 / 12:40 WIB
Mengupas tren waralaba dan kemitraan usaha pada tahun 2020 ini (2)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tak bisa dipungkiri usaha kuliner yang eksis dalam beberapa tahun terakhir akan berlanjut tahun ini. Walhasil tawaran kemitraan atau waralaba bidang usaha makanan dan minuman masih terus bermunculan sepanjang 2020.

Pengamat dan pelaku bisnis waralaba kompak optimistis bisnis tumbuh tahun ini.  "Masyarakat masih merespon baik bisnis kuliner sehingga kini masih menduduki peringkat teratas," ucap Levita Supit, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia.
 
Terlebih bisnis kuliner terbantu dengan keberadaan teknologi digital. Utamanya adalah layanan pesan antar makanan minuman via ojek online dari Grab atau Gojek. 
 
Bhakti Alamsyah, pemilik PT Best Brand Indonesia yang mengelola sejumlah kemitraan kuliner seperti Ayam Geprek Mek Prek serta Boben, mengakui keberadaan aplikasi digital membuat jangkauan pasar usaha kuliner makin luas. 
 
Agar pertumbuhan tak terhenti, pebisnis kuliner terus berkreasi menciptakan menu variatif guna memenuhi kebutuhan konsumen. "Kuliner fast food yang kreatif bakal terus tumbuh," tuturnya ke KONTAN.
 
Lantas, apakah usaha waralaba dan kemitraan di sektor non kuliner tidak dilirik? Tidak juga. Para pengamat masih menilai usaha waralaba bidang non makanan dan minuman masih punya prospek tumbuh, meski potensinya masih kalah dengan kuliner. 
 
Djoko Kurniawan, konsultan bisnis dan waralaba dari DK Consulting menyebut usaha jasa pendidikan masih bisa berkembang pada tahun ini. Usaha jasa pendidikan baik yang formal maupun informal. Pertimbangan Djoko masyarakat makin minat untuk meningkatkan pendidikan.
 
Bidang lain yang layak menjadi perhatian adalah jasa layanan gaya hidup. "Sektor ini diisi oleh usaha klinik kecantikan, salon modern, spa dan refleksi dan lainnya," katanya kepada KONTAN.
 
Tambahan lainnya dari Levita adalah bisnis baju, sepatu, hingga ritel yang ia nilai masih cukup berpotensi. Asalkan masih berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan lagi ngetren.
 
Jika dibandingkan dengan bisnis kuliner, tentu bisnis non makanan ini tidak mengenal masa kadaluarsa, karena kebanyakan berupa layanan jasa. Kalaupun ada yang menjual produk non makanan, bisa dijual dengan durasi yang lebih panjang. "Tapi tetap  harus dilihat trennya," saran Levita.
 
Erwin Halim, konsultan waralaba dari Proverb Consulting juga menilai usaha non makanan lebih stabil ketimbang makanan. Tapi kelemahannya adalah balik modalnya butuh waktu yang lebih panjang.
 
Namun Djoko mengingatkan, baik itu waralaba makanan dan non makanan tetap harus punya sistem kerja yang sudah teruji. Sementara pihak pusat atau pewaralaba harus membantu mitranya di segala kesempatan.  
 
(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×