kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45788,56   1,37   0.17%
  • EMAS1.011.000 -0,10%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.11%

Menimbang tawaran bisnis homeschooling


Kamis, 11 Juli 2013 / 14:25 WIB
Menimbang tawaran bisnis homeschooling

Reporter: Marantina, Pravita Kusumaningtias | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Pendidikan di Indonesia kini bergerak semakin dinamis. Anak tak lagi terfokus pada sekolah konvensional, tapi juga punya pilihan lain, seperti homeschooling. Salah satu homeschooling yang berkembang di BSD, Tangerang adalah Kamyabi Homeschool.

Abdul Halim Said merintis usaha ini sejak 2005. Awalnya, ia prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini, di mana anak-anak tidak lagi diajari nilai moral, hanya nilai di atas kertas. Makanya, pria yang akrab disapa Said ini mencari tahu cara belajar para sahabat Nabi. "Ternyata mereka belajar di rumah dan diajari oleh ayah dan ibunya," cerita Said.

Sayangnya, orangtua masa kini terbatas waktu dan pengetahuannya untuk mengajari anak-anak mereka. Said pun terinspriasi mendesain Kamyabi supaya bisa memenuhi kebutuhan itu.

Kamyabi Homeschool menyediakan pendidikan dari TK, SD, SMP, hingga SMP. Kurikulumnya menggunakan pendidikan Islam berbasis rumah yang sesuai dengan Kompetensi Depdiknas. Kamyabi juga menjadi anggota Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) yang dikepalai DR Seto Mulyadi alias Kak Seto.

Said sangat menekankan kualitas pendidikan, selainĀ  moralitas. Ia menginginkan setiap murid belajar secara spesifik sesuai minat dan bakatnya, namun tetap memiliki ijazah resmi. Biaya bersekolah di Kamyabi Rp 2,5 juta per semester untuk TK & SD. Untuk SMP Rp 3,5 juta, dan Rp 4 juta untuk SMA.

Biaya royalti 11%

Supaya semakin berkembang, sejak tiga tahun silam, Said menawarkan franchise Kamyabi. Sekarang, sudah ada satu cabang milik mitra yang berlokasi di Jakarta.

Kamyabi menawarkan tiga paket investasi, yaitu paket Rp 50 juta, Rp 40 juta dan Rp 30 juta. Calon mitra di Jabodetabek harus merogoh kocek Rp 50 juta. Jika berlokasi di ibukota provinsi biayanya Rp 40 juta, sedangkan untuk mitra di luar Jabodetabek dan bukan ibukota provinsi, Rp 30 juta.

Paket itu sudah termasuk kerjasama 5 tahun, kurikulum, modul, paket soal dan latihan, SOP, dan sistem homebased Islamid education. "Untuk guru bisa dari pusat atau mitra sesuai kesepakatan," ujar Said.

Mitra wajib menyiapkan tempat dengan minimal 3 ruang kelas masing-masing seluas 20 m2, plus ruang pendukung seperi front office, ruang administrasi, ruang guru, dan mushola. Kelas Kamyabi minimal 10 murid untuk setiap program.

Mitra akan dikutip biaya royalti 11% dari omzet. Said memproyeksi, mitra bisa meraih omzet minimal Rp 25 juta sebulan atau Rp 150 juta per semester. Jika target laba bersih 15%-20% tercapai, mitra bisa balik modal dua tahun.

Pengamat waralaba, Khoerussalim Ikhsan menilai, Kamyabi memiliki tugas berat untuk menggaet mitra. Pasalnya, pangsa pasarĀ  homeschool amat terbatas.

Menurutnya, masyarakat masih belum familiar dengan homeschool karena konsepnya belum diterima semua kalangan masyarakat. "Jadi, Kamyabi sebaiknya memperkuat sistem internal dan melakukan sosialisasi lebih dulu," saran Khoerussalim.



TERBARU

[X]
×