kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45811,59   9,89   1.23%
  • EMAS1.054.000 0,57%
  • RD.SAHAM 0.85%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Menjadikan Rendang Datuk obat rindu perantau (1)


Selasa, 09 Juli 2013 / 16:04 WIB
Menjadikan Rendang Datuk obat rindu perantau (1)

Sumber: Kontan 9/7/2013 | Editor: Havid Vebri

Pecinta rendang daging di mana pun berada, termasuk di luar negeri tak lagi kesulitan jika ingin menikmati kuliner asli Padang, Sumatera Barat ini. Pasalnya, kini sudah banyak produsen rendang kering dan krispi yang bisa dikemas seperti produk makanan olahan kering yang lain.

Salah satunya  Firsty Indah di Cililitan, Jakarta. Perempuan berdarah Padang ini bahkan termasuk pioner pembuat rendang kering. Awal mulanya, ia mengaku mencoba membuat rendang kering karena karena melihat orang kesulitan membawa rendang saat bepergian.

Maklum, masakan yang menggunakan santan ini sangat berminyak. Ini berdasarkan pengamatannya selama membuka usaha rumah makan Padang di Cililitan, sejak tahun 2003.

Meski lahir di Kuningan, Jawa Barat, perempuan yang akrab disapa Tetty ini memang piawai mengolah rendang karena suaminya pun asli Payakumbuh, Sumatera Barat. Sejak 2005, Tetty memutuskan fokus membuat inovasi rendang, yaitu memproduksi rendang kering dengan merek Rendang Datuk.

Ia bilang, rendang biasa paling lama tahan satu bulan, sementara Rendang Datuk bisa tiga bulan. Prestasi ini tercapai setelah melakukan uji coba selama beberapa bulan hingga diperoleh formula yang tepat.

Ia mengemas rendang  dalam stoples mika, sehingga  mudah dibawa. Rendang Datuk tak sebatas berbahan daging, tetapi juga paru dan telur. Tetty membanderol Rp 40.000 - Rp 200.000 per stoples.

Kini, setiap bulan Tetty biasa menghabiskan daging sapi 500 kg  untuk diolah menjadi rendang kering. Ia juga mengolah sekitar 200 kg paru dan 1.000 butir telur menjadi rendang krispi setiap bulan. Tak heran, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 150 juta sebulan dari bisnis rendang kering ini.

Bahkan, jika musim Lebaran Idul Fitri dan Lebaran Haji, omzetnya bisa meningkat berkali-kali lipat. Pasalnya, ia mengaku, pada momen semacam itu, pesanan yang datang bisa mencapai 10 kali lipat dari bulan-bulan biasa.

Perempuan kelahiran 44 tahun silam ini menyulap rumahnya yang berlokasi di Fatmawati, Jakarta, menjadi tempat produksi sekaligus outlet kecil. Kini, produknya tak hanya terjual di berbagai daerah di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Pasalnya, ia juga menjual secara online.

Tetty bilang, Rendang Datuk menjadi pengobat rindu rendang para perantau di luar negeri. "Produk saya sudah sampai ke Australia, Amerika, Eropa, dan Timor Leste," kata ibu satu anak tersebut. Tidak jarang, ada pembeli rendang kering untuk bekal umroh dan haji.

Tetty bahkan pernah ditawari untuk memasok Rendang Datuk di sebuah toko makanan Indonesia di Australia. Tapi tawaran itu ia tolak, karena kendala pengiriman dan keterbatasan produksi. Maklum, walaupun disajikan kering dan dikemas modern, namun bumbu yang digunakan dan cara pengolahannya masih secara tradisional, demi menjaga kualitas dan rasa.

Katanya, mengolah rendang kering dan renyah persis sama dengan rendang basah. Hanya saja, bahan baku santan yang digunakan harus murni, tanpa campuran air.        

(Bersambung)



TERBARU

[X]
×