kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menjahit pasar kerajinan tas berbahan kulit sapi (bagian 2)


Sabtu, 19 Oktober 2019 / 10:10 WIB

Menjahit pasar kerajinan tas berbahan kulit sapi (bagian 2)


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk kerajinan kulit hingga kini masih tetap eksis, meski ragam produk kulit imitasi terus bermunculan. Lantaran kualitas dari produk   kerajinan kulit yang beda kasta dengan produk imitasi.

Ini yang membuat perajin kulit masih terus menekuni usaha seperti pembuat tas berbahan dasar  kulit. Biasanya, produk tas yang terbuat dari kulit hewan, seperti sapi punya nilai lebih ketimbang produk sejenis yang memakai bahan baku kulit imitasi. Mulai dari harga dan kualitas.

Faktor inilah yang membuat perajin tas bisa meraup omzet besar. Seperti Hadi Setyo Wiyono pemilik brand Anantio Leather Bag asal Bagunharjo, Sewon, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sanggup meraup omzet hingga Rp 40 juta sebulan.

Tak mau kalah, Samsul Anwar, pemilik label Dandelion Leather Goods asal Magelang, Jawa Tengah justru sanggup meraup omzet Rp 300  juta sampai Rp 400 juta saban bulannya.  "Potensi bisnis ini semakin baik karena orang semakin dewasa memilih produk  yang berkualitas," katanya kepada KONTAN.

Samsul sendiri sudah berkiprah di bisnis kerajinan tas kulit sapi sejak 2014. Kebetulan, Samsul sudah punya bekal ilmu teknologi kulit saat duduk di bangku kuliah. Dengan modal tersebut, ia punya pengetahuan dasar membuat ragam produk berbasis kulit hewan.

Dengan bekal ilmu tersebut, ia pun mulai membuat ragam produk kerajinan dari kulit sapi. Tak cuma tas untuk wanita dan pria saja, tapi juga ada dompet, sabuk, gantungan kunci, sandal, sepatu, dan lainnya dengan harga mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 900.000 per item. Adapun produk terlaris masih tas wanita yang satu bulan rata-rata bisa terjual 700 tas sampai 1.000 tas.

Untuk bisa membuat ragam produk kerajinan kulit tersebut, Samsul membutuhkan bahan baku kulit sapi antara 100 lembar sampai 200 lembar kulit sapi yang didatangkan langsung dari Magelang Jawa Tengah.

Setelah mendapat bahan baku kulit, Samsul langsung memproduksi ragam kerajinan kulit di workshop-nya yang berada di Desa Donorojo, Brengosan,  Magelang, Jawa Tengah. Di tempat pembuatan kerajinan kulit tersebut, ia dibantu oleh delapan orang perajin.

Biasanya untuk memulai proses produksi, Samsu menunggu pesanan atau order yang masuk. Dan pemesanan yang dilakukan oleh para konsumen kebanyakan melalui media sosial yang sengaja ia buat.

Hasilnya pun tergolong manjur. Para pembeli produk Dandelion Leather Goods tidak cuma berasal dari pasar dalam negeri saja, tapi juga sudah sampai luar negeri. Pengiriman terjauh yang sudah ia lakoni adalah ke Hong Kong serta Austria.

Untuk tetap mempertahankan pasar, dirinya harus terus berinovasi dengan menelurkan produk anyar saban bulannya.           

(Selesai)


Reporter: Venny Suryanto
Editor: Markus Sumartomjon



Close [X]
×