kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Menjajal gurihnya peluang cuan bakwan Pontianak (1)


Sabtu, 07 Maret 2020 / 13:25 WIB
Menjajal gurihnya peluang cuan bakwan Pontianak (1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis kuliner masih menjadi sektor usaha yang gurih untuk dikembangkan saat ini. Usaha kuliner mulai dari minuman, makanan berat hingga camilan. Kuliner tradisional dari suatu tempat juga menjadi peluang untuk berbisnis dengan inovasi kekinian agar bisa diterima oleh masyarakat luas.

Camilan tradisional yang kini naik kelas diantaranya adalah bakwan. Namun camilan ini bukan berbentuk sup layaknya bakwan malang yang disajikan seperti bakso. Namun bakwan yang ini adalah gorengan khas Pontianak, Kalimantan Barat.
 
Bakwan goreng yang biasa ditemui di Pulau Jawa adalah gorengan berupa campuran tepung terigu, dan sayuran seperti kol, wortel dan tauge serta topping udang. Bakwan Pontianak tampilannya berbeda. Camilan ini hasil adonan tepung terigu yang dicampur dengan kucai dengan tambahan topping ebi atau udang kering.
 
Dwi Agus Prianto salah satu pelaku usaha yang mengembangkan usaha camilan bakwan khas Pontianak ini. Ia mengusung brand Bakwan Pontianak. 
Bakwan Pontianak buatan Dwi mulai ia rintis sejak Mei 2019. Ia dan kawan satu daerahnya dari Pontianak mulai tekun mengembangkan Bakwan Pontianak sejak Oktober 2019.
"Awalnya saya jual via WhatsApp, sendirian lalu saya ajak sahabat saya, juga murid musik saya. Kami membuka usaha bareng. Sekarang sudah ada gerai di Kebon Kacang, Jakarta Pusat," jelas Dwi saat dihubungi KONTAN.
Dwi membandrol satu potong bakwan goreng seharga Rp 2.000. Uniknya Ia mengusung konsep drive thru untuk Bakwan Pontianak. Ide tersebut yang membuat jualan gorengannya viral di sosial media.
 
"Ceritanya lokasi jualan kami itu jalannya macet sekali. Saya memasang tulisan Bakwan Pontianak satu boks Rp 10.000 isi 5 pcs kami siap antar hingga jendela mobil, nah itu ada yang videoin sampai ada akun kuliner di Twitter yang review dan viral," cerita Dwi.
 
Dalam sehari Bakwan Pontianak mampu habiskan 30 kilogram tepung terigu dan 7 kilogram kucai. Jangan salah Bakwan Pontianak saban hari mampu kantongi omzet rata-rata hingga Rp 2 juta per hari.
 
"Kalau penjualan by online dan offline. Kalau hari Senin-Jumat banyak yang membeli via Grabfood. Kalau Sabtu-Minggu baru banyak yang beli langsung. Mayoritas pembeli di hari kerja adalah karyawan," kata Dwi.
 
Saat memulai usaha ini Dwi merogoh kocek sekitar Rp 10 juta. Rencananya ia akan membuat inovasi dengan tambahan topping ikan teri bagi pelanggan yang alergi udang. Dwi juga berencana ingin menawarkan kemitraan dari Bakwan Pontianak. "Kendala selama ini hanya di cari kucai yang susah. Di Jakarta orang makan kucai enggak kayak di Pontianak. Disana kucai mudah dicari," jelas pria asli Pontianak tersebut.      
 
(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×