Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Sanny Cicilia
KONTAN.CO.ID - Perjalanan Juragan SB, produsen siomay ikan tenggiri khas Bandung, tidak dimulai dari resep yang langsung jadi. Usaha yang dirintis Lia Luzia bersama suaminya pada 2016 justru lahir setelah serangkaian eksperimen kuliner yang sempat gagal. Kini, omzet bisnis siomaynya mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah per bulan.
Lia dan suaminya semula punya kegiatan usaha masing-masing. Namun, kondisi berubah pada 2015 ketika usaha mereka berhenti. "Sempat bingung mau usaha apa. Kebetulan saya dan suami senang kulineran dan mencoba makanan enak," kata Lia kepada KONTAN, pekan ini.
Eksperimen bisnis pun dimulai. Berbagai resep dicoba, mulai dari sambal kemasan hingga gulai. Namun, perjalanan itu belum juga menemukan resep yang tepat untuk menghasilkan bisnis seperti yang diharapkan. Sampai akhirnya, Lia teringat makanan yang dekat dengan masa kecilnya di Bandung, yakni siomay.
Potensi bisnis panganan berbahan dasar ikan tengiri ini cukup besar karena dikenal masyarakat luas. Tanggapan dari orang terdekat, yaitu anak-anak, pun positif. "Dari percobaan lebih dari lima kali itu selalu habis sama anak-anak. Jadi kami semakin semangat mencoba," kata dia.
Untuk mendapatkan rasa yang lebih mendekati siomay masa kecilnya, Lia dan suami pergi ke Bandung untuk belajar langsung kepada pedagang siomay langganan bernama Mang Atang. Setelah berkali-kali melakukan percobaan, Lia akhirnya memberanikan diri menjual siomay buatannya pada 2016. Kala itu, Facebook menjadi kanal pertama untuk menawarkan produk kepada teman dan kerabat.
Respons positif datang. Bahkan, Lia mulai rutin menerima pesanan. Pasangan ini kemudian menyewa tempat usaha kecil di sekitar Ciganjur, Jakarta Selatan, dengan biaya sewa saat itu kurang dari Rp 800.000 per bulan. "Hari pertama berjualan, siomay yang dibawa langsung habis," kata dia.
Mereka pun lebih percaya diri menjajal berbagai kanal pemasaran, mulai dari e-commerce Tokopedia, Gofood, hingga mengikuti program binaan Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta yang membuka kesempatan berjualan ke perkantoran hingga kegiatan berskala nasional dan internasional.
Lia menyambut kesempatan yang terbuka lebih lebar ini. "Kalau kita tidak memberanikan diri punya karyawan, kapan kita majunya. Jadi tugas kita kemudian mencari akses pasar, networking dan belajar dari pebisnis lain," tutur dia.
Setelah satu dekade berjalan, Juragan SB kini berkembang dari usaha rumahan menjadi bisnis dengan tim produksi yang didukung 8-10 karyawan. Sekitar 3.000 potong siomay diproduksi setiap hari.
Sebagian besar atau hampir 90% siomay terjual secara offline, mulai dari bazar, pameran, outlet hingga kantin perkantoran. Lia juga memasok produk ke sejumlah kafe dan restoran UMKM untuk ikut membangun ekosistem sesama usaha kecil.
Bukan hanya gencar berekspansi, Juragan SB juga melengkapi legalitas dengan izin usaha, sertifikasi halal, izin edar BPOM serta pendaftaran merek Juragan SB di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Kini, omzetnya mencapai Rp 60 juta per bulan dan dalam beberapa kesempatan bisa mencapai Rp 150 juta. "Kami menjalaninya sedikit demi sedikit. Yang penting bertahan, insya Allah berkembang," kata Lia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













