kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Merangkai laba dari limbah bunga kering


Rabu, 05 Agustus 2015 / 13:49 WIB
Merangkai laba dari limbah bunga kering


Reporter: Robi Gunawan | Editor: Tri Adi

Eni Saputra memanfaatkan bahan limbah dari alam seperti hasil serutan pensil, pelepah pisang, daun hamada, dan daun lontar menjadi kerajinan rangkaian bunga yang cantik dan bernilai jual. Lewat usaha Cendani Dried Flower, produknya banyak dipesan konsumen di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Berbagai limbah lingkungan yang sering kali menjadi sampah dan terbengkalai bisa menjadi pundi-pundi uang. Lewat ide kreatif dan tangan terampi, sampah-sampah tidak berguna tersebut bisa menjadi produk yang bernilai jual. Inilah yang dilakukan Eni Saputra. Lewat usaha Cendani Dried Flower, dia membuat kerajinan hiasan bunga dari bahan-bahan limbah, seperti pelepah pusang, daun lontar, kulit jagung hingga kayu hasil serutan pensil. Dia juga menggunakan rumput hamada yang biasa dijadikan bahan baku pembuatan sapu.

Usaha ini berdiri pada tahun 2004 lalu di Yogyakarta karena kecintaannya terhadap bunga. Dia mengaku awal memulai membuat kerajinan bunga ini dari hasil belajar otodidak dari buku yang ia beli dari toko buku. Dari situ, dia memutuskan untuk membuat karya bunga kering hasil kreativitasnya sendiri. Berbagai bahan limbah tersebut dia sulap menjadi karya seni yang cukup diminati oleh masyarakat.

Pemilihan bahan baku dari daun-daun kering dan bahan baku daur ulang menurutnya dapat berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan.

Jenis bunga yang ditawarkan oleh Cendani Dried Flowers cukup banyak. Kayu halus hasil serutan pensil dia bentuk dan diberi warna yang menarik dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang bernilai lebih. Selain itu rumput hamada dia buat menjadi bentuk bunga yang unik. Sementara itu kulit jagung dibuat menjadi bunga mawar dengan berbagai ukuran, bunga anggrek dengan berbagai macam warna, serta bunga ketapang yang terlihat lucu dan unik.

Dia tidak perlu pusing mendapatkan bahan baku tersebut lantaran bahan-bahan tersebut sangat mudah ditemukan di berbagai tempat dan biasanya sudah tidak terpakai. Selain mudah mendapatkan pasokan, harga setiap bahan bakunya pun murah.

Untuk proses pembuatan cukup mudah. Semua bahan baku dicuci dan dibersihkan kemudian di gambar pola di atasnya sesuai dengan keinginan. Setelah itu dipotong mengikuti pola yang telah dibuat dan diberi pewarna. "Untuk warna terang, bahan baku harus diwarnai putih dulu, kecuali mau warna yang gelap", jelasnya.

Selain unik dan menarik, kreasi dari daun-daun dan bunga kering ini juga tahan lama daripada bunga asli.Harga jual setiap batang bunga berkisar Rp 1.500−Rp 30.000, tergantung dari bahan yang digunakan. Sementara harga jual rangkaian bunga mulai dari Rp 100.000−Rp 350.000 per unit, tergantung kerumitan dan banyaknya bunga dalam satu rangkaian.

Hingga kini pemesanan datang dari wilayah Yogyakarta hingga luar Pulau Jawa. Dalam sebulan dia mengaku dapat menjual 2.500 tangkai hingga 2.800 tangkai bunga, sehingga, omzetnya mencapai Rp 5 juta per bulan.    

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×