kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45811,59   9,89   1.23%
  • EMAS1.054.000 0,57%
  • RD.SAHAM 0.85%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Meraup omzet ratusan juta dari jualan makanan ringan


Sabtu, 18 Juli 2020 / 17:25 WIB
Meraup omzet ratusan juta dari jualan makanan ringan
ILUSTRASI. dok. popcookies.id

Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi memang bikin banyak bisnis merugi, namun juga membuka peluang untuk bisnis lain. Salah satunya bisnis makanan ringan. Maklumlah, banyak berdiam di rumah, bikin orang pintar cari camilan.

Nah, di sinilah, soft cookies lantas jadi trending. Cookies berbentuk bulat dengan lelehan cokelat, ini memang gampang disukai anak-anak. Alhasil, pengusahanya pun panen cuan.

Salah satunya Helga Audia Putri, pemilik usaha Chocokiechip di Bandung. Melihat banyaknya generasi muda mengkonsumsi makanan manis, Helga memasarkan kukisnya lewat akun instagram @chocokiechip. Alhasil, dalam seminggu dia bisa menjual 100 pieces kukis ke seluruh Indonesia. Dia bilang setidaknya dalam sebulan dia bisa mengantongi omzet Rp 5 juta sampai Rp 11 juta.

"Berkat minat pembeli yang makin kesini makin meningkat, maka pendapatan yang tinggi membuat usaha ini menjanjikan," ujar Helga kepada KONTAN, Sabtu (18/7).

Baca Juga: Meraup fulus dari jasa bisnis cukur rambut online saat pandemi

Pemain lainnya, Maharani Widia Chandra juga sama. Semenjak di rumah saja, Widia jadi suka ngemil kukis setiap hari. Bahkan untuk memenuhi hasratnya itu, Widia pun mencoba untuk membuat soft cookies sederhana di rumahnya. Rupanya setelah dicoba teman dan saudara, kue buatannya pun lahap dimakan sampai habis. Dari situlah Widia terbesit untuk menjajal usaha soft cookies bernama Cascara Cookies.

“Setelah keluar dari kantor pengacara, coba jualan soft cookies di sosial media. Ternyata permintaannya cukup banyak,” ujar Widia yang memulai usahanya pada April lalu.

Kalau sebelumnya dia bisa meladeni tiga sampai lima orang pembeli per hari, kini setidaknya ada 10-20 pembeli yang memesan soft cookies buatannya. Widia menjelaskan penjualannya tak dapat dipastikan, hanya saja, setiap hari sabtu dan minggu pesanan bisa meningkat. Setidaknya dalam seminggu, dia bisa menjual 100 lebih pieces soft cookies.

Bicara soal kukis, Widia menyebut memproduksi dua jenis soft cookies. Yakni soft cookies tipis (thin) dan tebal (thick). Dari dua jenis kukis tersebut, untuk yang berbentuk tipis ada sembilan varian, yaitu choco cheese, classic, choco peanut, lotus biscoff, dan lainnya.

Sementara untuk kukis berukuran tebal ada tiga varian, yakni classic, double chocolate, dan walnut chocolate. Harganya dibanderol Rp 18.000 untuk yang tipis, dan Rp 28.000 untuk yang tebal. Omzet yang didapat setiap bulannya tak sedikit. Sekitar Rp 20 juta sampai Rp 50 juta bisa dikantongi Widia. Dari capaian tersebut, Widia mengaku setidaknya mendapat marjin diatas 10%.

Baca Juga: Jangan ragu berinvestasi di masa pandemi

Melihat animo pembeli dan keuntungan yang tak sedikit, tentu menimbulkan pelaku usaha baru yang bermunculan. Termasuk juga Leonard Utomo dengan brand Endorphins.

Menjajal usaha sejak awal April 2020, Leonard yakin bisa meraih pasar kukis di Jakarta. “Kami yakin dengan produk, branding, foto dan kemasan yang luar biasa, Endorphins bisa mengambil alih segmen kukis di Jakarta bahkan Indonesia,” ucap Leonard.



TERBARU

[X]
×