Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.578
  • SUN95,67 0,00%
  • EMAS656.000 -0,46%

Modal nekat si penjaga warung internet

Kamis, 25 Agustus 2016 / 17:15 WIB

Modal nekat si penjaga warung internet

Tokopedia menduduki peringkat atas dibandingkan situs e-commerce lainnya. Situs ini menjadi salah satu pilihan utama saat orang berbelanja di dunia maya.   

Namun, bukan perjalanan yang mudah bagi Tokopedia untuk bisa menggapai pencapaiannya saat ini. Berbagai rintangan dihadapi oleh para pendiri Tokopedia hingga bisa sebesar ini.

William Tanuwijaya, salah satu pendiri Tokopedia, menuturkan, mendirikan situs belanja ini memang tidak mudah. Apalagi, sebelum mendirikan Tokopedia, William bukanlah siapa-siapa.

Ia bukan anak orang kaya yang bisa berbisnis dengan membalikkan tangan saja. William hanya seorang Siantar Man yang datang ke Jakarta untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi.

Siantar Man adalah sebutan beken untuk orang yang berasal dari kota Pematang Siantar, Sumatra Utara. "Saya naik kapal laut ke Jakarta, empat hari tiga malam," ujar William.

Memang, seusai lulus SMA, orangtua William menginginkan dirinya bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi. Harapan orangtuanya, William bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Ia menceritakan, dirinya kuliah Fakultas Teknik Informatika di sebuah universitas swasta. Namun memasuki semester kedua, ayahnya mulai sakit-sakitan.

William pun mencari akal untuk bisa bertahan hidup di Jakarta. Ia memilih untuk menjadi seorang operator warung internet (warnet). "Waktu itu saya jadi operator warnet shift malam, jam 9 malam ke 9 pagi," kenang William.

Dari pekerjaan menjaga warnet inilah, William mulai mendalami dan jatuh cinta dengan dunia internet. Ia pun bercita-cita ingin bekerja di perusahaan internet.

William lulus dari kampusnya pada tahun 2003. Sayangnya perusahaan internet yang ia kagumi, seperti Google, belum memiliki kantor cabang di Indonesia.

"Saya kemudian hanya bekerja kantoran, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, yang tidak berhubungan sepenuhnya dengan internet," ujar pria yang memiliki hobi membaca dan menonton ini.

Karena memiliki jiwa muda untuk terus lebih maju, William tak pernah merasa puas. Apalagi kecintaannya terhadap internet tak bisa dijalankannya saat bekerja kantoran. William pun resah dengan cita-citanya.

Tahun 2007, William melihat peluang membangun marketplace di Indonesia. Ia melihat minimnya kepercayaan untuk menjual atau membeli produk dari orang yang tidak dikenal, tidak dapat bertemu karena terpisah oleh 17.000 pulau Indonesia. Padahal internet dapat mempertemukan dan menghubungkan mereka.

Dalam pikirannya, masih minimnya kepercayaan, serta belum adanya platform yang efisien untuk memulai dan mengembangkan bisnis secara online menjadi sebuah peluang bisnis yang besar. Ia berpikir untuk memulai bisnis marketplace pertama di Indonesia.

Namun, ide tinggallah ide. Karena sebuah ide kadang terbentur dengan yang namanya modal. William bingung karena sadar untuk mendirikan bisnis itu membutuhkan modal.

Untuk meminta bantuan ke orangtua pun tidak mungkin. Apalagi saat itu, ayahnya  didiagnosa kanker saat itu. "Saya adalah satu-satunya pekerja di keluarga saya," kenangnya.

Mencari pemodal

William pun memutar otak untuk menjalankan konsep Tokopedia itu. Ia pun terinspirasi entrepreneur muda di Silicon Valley, seperti pendiri Google dan Facebook, yang bisa memulai bisnis di bangku kuliah.

Dia pun belajar adanya konsep memulai bisnis dengan mencari pemodalan dari angel investors hingga pemodal ventura. Namun masalah masih ada, karena ia tidak kenal pemodal ventura manapun.

Tak kenal putus asa, William pun mendatangi orang kaya satu-satunya yang ia kenal. Yakni bos tempat William bekerja saat itu.

Melalui atasannya itu, William mulai dikenalkan dengan para pemodal. Namun selama dua tahun hingga 2009, belum ada satupun yang tertarik untuk mau menanamkan duitnya di Tokopedia.

"Saya mencoba pitching tentang ide Tokopedia, namun kondisi saat itu belum seperti sekarang, di mana perusahaan teknologi dianggap sebagai bisnis yang menjanjikan," ujarnya.

Kebanyakan orang menolak karena melihat belum ada satupun orang Indonesia yang menjadi sukses dan kaya karena bisnis teknologi dan internet. Semua pemodal masih belum yakin bahwa William bisa mengembalikan modal dengan menjalankan bisnis ini.

Ditambah lagi, para pemodal melihat peta persaingan di bisnis marketplace masih dikuasai oleh pemain internasional seperti eBay, Rakuten dan Alibaba. Tak heran, banyak yang nyinyir dengan pertanyaan, bagaimana cara pemain lokal dapat berkompetisi bila pemain asing tadi masuk ke Indonesia.

Penolakan ini bukannya membuat William patah arang.Namun ia juga sadar bahwa membangun bisnis tidak mudah. Ia melihat bahwa membangun bisnis terkait erat dengan memelihara kepercayaan.

Menurut William, kepercayaan adalah tentang kredibilitas dan rekam jejak masa lalu.

Investor masuk Indonesia

Sejarah pun mencatat pada Februari 2009, bos tempatnya bekerja memutuskan memberikan investasi pertama untuk Tokopedia. William bersama tim yang sudah dibentuknya pun bertekad untuk membangun marketplace impiannya.

Hal pertama William lakukan adalah kembali ke kampus. William mencari tenaga kerja yang bertalenta untuk membangun Tokopedia.

Lagi-lagi, cobaan terus datang. "Dua hari kami berdiri di kampus, berusaha menyakinkan para mahasiswa untuk bergabung dengan kami, namun tidak ada yang tertarik bergabung," ujarnya.

William mengisahkan, saat mencari talenta muda di kampusnya itu, ternyata di depannya ada booth sebuah bank terbesar yang membuka lowongan. Ribuan orang mendatangi booth itu.

Di situ kembali ia sadar bahwa Tokopedia belum apa-apa. William sadar Tokopedia bukan Silicon Valley.

Ia bersama timnya tak mengenal lelah. William mendapatkan waktu untuk bisa berbicara di dalam kelas untuk menceritakan peluang Tokopedia di masa depan.

Pelan-pelan ia pun mendapatkan orang untuk bisa bekerja membangun Tokopedia.

Saat ini Tokopedia sudah mempekerjakan lebih dari 500 orang, termasuk para lulusan terbaik universitas-universitas dunia. Tahun ini hanya ada 2 orang Indonesia yang berhasil mengambil MBA di Harvard, dan keduanya memilih Tokopedia sebagai tujuan summer internship mereka.

Operasional awal Tokopedia juga tidak berjalan mulus. Saat itu, tidak mudah mendapatkan orang yang mau menjual barang di situsnya.

Saat memulai, ia dibantu oleh beberapa anggota forum internet yang pernah ia moderatori, yang bersedia menjadi penjual di Tokopedia. "Saya pernah menjadi moderator di forum KafeGaul," ujar dia.

Pelan-pelan, Tokopedia mulai dipercaya oleh penjual yang mau menjual produknya. Perjalanan bisnis Tokopedia terus bersinar di 2010.

Pada saat itu ada momentum Yahoo mengakuisisi sebuah situs asal Indonesia, yakni Koprol. Indonesia pun mulai kedatangan venture capital kelas dunia.

"Saya sempat bertemu dengan mereka, namun terkendala karena keterbatasan bahasa. Bahasa Inggris saya pas-pasan, saya bisa membaca, dan mendengar, namun berbicara sulit sekali," kenangnya saat itu. Karena masalah bahasa tadi, akhirnya William gagal mengomunikasikan visi-misi Tokopedia dengan baik.

Rekor di Asia Tenggara

Namun William tidak menyerah. Bermodal tebal muka, dan kegigihan, keberuntungan akhirnya mengantarkan tim Tokopedia kepada investor-investor teknologi asal Jepang.

Untungnya, Bahasa Inggris para investor Jepang ini juga pas-pasan, sehingga toleransi mereka lebih tinggi. Dari situlah William mendapatkan investor awal.

Pada 2010, investor dari seperti East Ventures tertarik memberi modal. Di 2011 ada CyberAgent ikut masuk. Di 2012, ada nama Beenos yang masuk ke Tokopedia, disusul SoftBank Korea setahun setelahnya.

Dari investor awal ini, William banyak belajar berbahasa Inggris dan mendekati para pemodal. Puncaknya, pada Oktober 2014 menjadi momentum penting, karena Tokopedia menjadi perusahaan internet pertama asal Asia Tenggara yang meraih kepercayaan investasi sebesar US$ 100 juta dari SoftBank & Sequoia Capital.

Asal tahu saja, SoftBank sendiri merupakan investor terbesar dari Alibaba di China dan Yahoo Japan. Sementara Sequoia Capital merupakan investor awal di Apple, CISCO, Oracle, Yahoo, Google, Linkedin, Youtube, WhatsApp, dan Instagram.

Perlahan tetapi pasti, Tokopedia terus dipercaya, baik oleh pembeli maupun penjual, untuk melakukan transaksi. Hingga kini ada sekitar 700.000 merchant aktif di Tokopedia.

Sedangkan untuk produk yang tersedia di Tokopedia jumlahnya mencapai  20 juta jenis. Per bulannya, Tokopedia berhasil membantu para merchant untuk mengirimkan 15 juta produk kepada para pelanggannya di seluruh Indonesia.

William menyebutkan situs Tokopedia menjadi tertinggi dari pesaing lainnya. Menurut hasil pemeringkatan similarweb.com untuk wilayah Indonesia, Tokopedia malahan melewati Twitter dalam soal kunjungan dari pelanggan.

Ia menyebutkan, Tokopedia akan terus meningkatkan pelayanan dan terus mengeluarkan produk-produk baru.

William yang dulunya cuma menjadi penjaga warnet, saat ini bisa mendirikan Tokopedia dan membesarkannya. Karena itu, ia memberi nasihat kepada Anda: jangan takut untuk bermimpi.

Reporter: Lamgiat Siringoringo
Editor: S.S. Kurniawan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0074 || diagnostic_api_kanan = 0.0507 || diagnostic_web = 0.4605

Close [X]
×