kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Murai pemenang kontes bisa jadi indukan (2)


Kamis, 17 September 2015 / 13:01 WIB


Reporter: Merlina M. Barbara, Rani Nossar | Editor: Tri Adi

Agar tingkat keberhasilan budidaya burung murai batu sangat besar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pembudidaya. Selain pemilihan kandang, pembudidaya juga harus memilih indukan murai yang unggul. Indukan bisa diambil dari pemenang kontes burung berkicau atau habitat aslinya.

Meski terbilang hanya usaha rumahan, budidaya burung murai batu dapat menghasilkan keuntungan besar jika ditekuni serius. Pasalnya, harga burung murai di pasaran tergolong tinggi.

David Susilo, pembudidaya burung murai batu asal Kudus Jawa Tengah, mengatakan, agar tingkat keberhasilan budidaya sangat besar, ada sejumlah hal yang perlu diketahui para penangkar pemula. Salah satunya, pemilihan tempat budidaya.

Idealnya, budidaya burung murai membutuhkan tempat penangkaran berupa kandang yang luas. Ini agar sirkulasi udara lebih bagus dan burung bisa leluasa bergerak.

Namun, jika tak memiliki lahan luas, tempat minimalis pun tak menjadi soal. Dalam membudidayakan murai, David juga hanya membuat kandang ukuran minimalis dengan panjang 150 sentimeter (cm), lebar 70 cm, dan tinggi 70 cm. Umumnya, kandang murai batu berukuran panjang 150 cm, lebar 90 cm, dan tinggi 250 cm.

Selain kandang, pemberian pakan harus teratur. Pakan diberikan dua kali sehari pada pagi dan sore. Pakan itu, antara lain, jangkrik, ulat bambu, dan voer.

Menurut David, untuk pakan murai, ia bisa mengeluarkan biaya Rp 10 juta per bulan. Ini belum termasuk  vitamin yang harus diberikan setiap hari dan menelan biaya sekitar Rp 2 juta per bulan.

Agus Setiawan, pembudidaya murai batu asal Medan, Sumatra Utara menambahkan, untuk menghasilkan murai berkualitas, pembudidaya harus memilih indukan unggul. Murai yang menang kontes burung berkicau layak dipilih sebagai indukan. Selain suaranya berkualitas, kesehatannya juga baik.

Selain indukan juara, Agus juga dapat indukan murai dari hutan di Sumatra. Murai asli hutan, biasanya memiliki suara nyaring dan dapat meniru suara lain seperti tembakan, air terjun, dan hewan lainnya karena meniru suara alam di sekitarnya.

Tapi, kata Agus, mengawinkan murai butuh proses waktu. Pembudidaya tidak bisa langsung menggabungkan indukan betina dan jantan dalam satu sangkar. Jika salah satunya belum siap, maka burung murai akan agresif dan menyerang pasangannya hingga mati.

Indukan betina bisa menghasilkan 3 telur-5 telur. Dalam proses pengeraman, butuh 14 hari hingga telur menetas. Jika telur sudah menetas, anakan murai harus dipisah dari sang induk.

Tapi, Agus kerap menemukan telur infertil atau tak ada benihnya. "Kadang induk betina sudah mengerami telur berhari-hari, telur tidak juga menetas. Ini yang bikin kecewa, " kata dia.

Biasanya, hal ini disebabkan karena faktor gizi indukan yang kurang diperhatikan atau suasana yang membuat indukan stres. Karena itu, pembudidaya harus memperhatikan gizi indukan dan kebersihan kandang penangkaran.   

(Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×