kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45774,91   4,24   0.55%
  • EMAS887.000 -1,88%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Naik turun kemitraan usaha burger


Senin, 02 Juni 2014 / 11:31 WIB

Reporter: Ranimay Syarah, Dina Mirayanti Hutauruk, Tri Sulistiowati, Kornelis Pandu Wicaksono | Editor: Rizki Caturini

 JAKARTA. Burger telah menjadi salah satu menu populer di Indonesia. Makanan asal Negeri Paman Sam ini makin lekat dengan lidah masyarakat dengan sentuhan berbagai modifikasi rasa.

Tidak heran bila banyak pelaku usaha menjajal peruntungan di bisnis makanan ini. Banyak juga yang membuka tawaran kemitraan untuk mengembangkan pasar. Sebagian sukses dan sebagian  lainnya tenggelam.

Apakah saat ini bisnis burger masih diminati dan memiliki peluang yang bagus? Bagaimana prospeknya? Untuk mengetahuinya, kali ini KONTAN akan mengulas perkembangan usaha tiga kemitraan burger yakni Burger Nase, Burger Queen dan Big Burger. Mari simak ulasannya.

Big Burger

Harian KONTAN pernah mengulas perkembangan usaha Big Burger asal Semarang ini pada Februari 2013. Kala itu, Big Burger telah memiliki 254 gerai. Jumlah tersebut naik dari jumlah gerai pada dua tahun sebelumnya yang masih sebanyak 200 gerai.

Erwin Bulan, Manajer Pemasaran Area Semarang Big Burger, mengatakan, jumlah outlet secara keseluruhan saat ini bertambah menjadi sekitar 260-an gerai. "Ada penambahan, namun memang tidak banyak," ujarnya.

Sesuai dengan namanya, Big Burger menawarkan berbagai varian burger sebagai andalan. Total ada enam rasa burger dan tiga hot dog yang ditawarkan.

Crispy Onion Ring Burger dan Sunny Beef Burger merupakan beberapa varian andalan Big Burger.  Harga jual masih tetap yaitu antara
Rp 7.000 hingga Rp Rp 12.000 per porsi untuk penjualan di wilayah Jawa Tengah.

Jika Anda tertarik dengan bisnis ini, cukup mengeluarkan biaya investasi Rp 42 juta untuk paket mini kafe dan senilai Rp 59 juta untuk paket kafe di luar Jawa Tengah.

Untuk paket mini kafe,  mitra akan mendapat gerai mini ukuran 2 meter (m) x 2,5 m tanpa atap dengan bahan utama stainless steel. Mitra juga akan mendapat meja persiapan, dua buah meja tamu dengan delapan kursi dan neonbox. Jika ingin menambah atap, mitra harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp 4 juta.

Untuk paket kedua senilai Rp 59 juta untuk di Luar Jawa Tengah  atau sebesar Rp 57 juta untuk di Jawa Tengah, mitra nantinya mendapatkan gerai berbahan stainless steel ukuran 6 m x 3 m. Selain itu mitra juga akan mendapatkan meja persiapan makanan, empat buah meja tamu dan 16 kursi, serta neon box.

Dari kedua paket tersebut, mitra usaha ini juga akan mendapatkan peralatan standar dan peralatan masak lengkap. Di antaranya, mitra mendapat tiga buah seragam sebuah kompor dua tungku dan sebuah meja lipat.

Berdasarkan perhitungan manajemen Big Burger pusat, dengan penjualan minimum 40 burger per hari maka mitra sudah bisa meraup keuntungan. Laba kotor dari penjualan sebanyak itu  diperkirakan Rp 4,5 juta per bulan.

Sedangkan pengeluaran per bulan berupa gaji karyawan dan biaya operasional lainnya sebesar Rp 2,6 juta. Dengan demikian laba bersih per bulan sekitar Rp 1,9 juta. Jika mitra mengambil paket mini kafe, berarti balik modal sekitar 22 bulan.

Menurut Erwin, kendala pebisnis makanan terutama burger ini masih sama, yaitu harga daging yang cenderung naik. Musim penjualan burger juga menghadapi masa pasang surut yang sulit diperkirakan sebelumnya.

Untuk mengatasi sepinya penjualan, Erwin memberikan promo paket murah. Harapannya, tentu promo tersebut bakal menarik pelanggan.

Burger Nase

Muhammad Ichsan mendirikan usaha Burger Nase di Medan pada tahun 2009. Setahun kemudian, ia menawarkan peluang kemitraan. Ketika KONTAN sempat mengulas usaha ini pada Oktober 2013,  gerai Burger Nase sudah ada delapan gerai yang tersebar di beberapa kota.

Pada awal 2012, Ichsan sempat mengubah paket investasinya dari paket Rp 60 juta dan paket Rp 240 juta menjadi  hanya satu paket resto seharga Rp 400 juta. Ini dia tujukan untuk menyasar kalangan menengah ke atas.

Namun strategi itu kurang berhasil menggaet pertambahan mitra. Bahkan, sejak awal tahun 2014, Ichsan memutuskan untuk menutup usahanya karena banyak kekurangan dalam sistem. Selain itu dia mengeluhkan kurangnya tenaga kerja untuk mengontrol usaha para mitra yang ada di luar kota. Sebelumnya, sudah ada beberapa mitra yang menutup usahanya. Saat ini gerai yang masih eksis hanya ada di Jambi.

Dia juga sempat membuka usaha Burger Nasi Mini di 2012. Hampir sama dengan nasib Burger Nase, saat ini gerai Burger Nasi Mini tinggal satu gerai yang bertahan di Condet. Sedangkan tiga gerai lainnya yang sempat beroperasi sudah ditutup.

Meski begitu, Ichsan mengatakan, saat ini masih tetap menjalankan usaha Burger Nasi Mini. Bahkan ada beberapa calon mitra yang ingin bergabung.

Investasi untuk Nasi Burger Mini hanya Rp 25 juta. Dengan modal tersebut mitra sudah mendapatkan seluruh perlengkapan memasak, bahan baku, branding dan perlengkapan tambahan lainnya. Burger Nasi Mini menjual empat varian rasa burger yaitu pedas, blackpaper, mayo dan asin. Harga jual burgernya sekitar Rp 8.000 per tangkup.

Burger Queen

Usaha yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat ini sudah berdiri sejak 2009 dan baru membuka tawaran kemitraan akhir tahun 2013. Saat itu, Burger Queen masih memiliki satu gerai milik sendiri yang berlokasi di Jl Dr Setiabudi, Bandung.

Meski hampir setengah tahun menawarkan kemitraan, belum ada satu mitra pun yang bergabung. Gerai milik pusat pun masih belum bertambah.
Reno Syafrudin, Manajer Pemasaran Burger Queen, bilang, meskipun belum ada mitra yang serius bergabung, peminat burger di sekitar JalanSetiabudi Bandung tidak sepi. Ia bilang, Burger Queen masih konsisten menjaga kualitas rasa dan pelayanan.

Memang, dia merasa pemasaran dan promosi yang kurang maksimal menjadi beberapa penyebab hingga saat ini belum banyak masyarakat yang mengetahui ada tawaran kemitraan dari Burger Queen. Sejak pertama kali menawarkan kemitraan, pemilik Burger Queen, Bhakti Alamsyah, membuka dua paket investasi sebesar Rp 25 juta untuk paket booth dan Rp 50 juta untuk paket mini resto.

Hingga kini, kata Reno, Burger Queen tak mengubah paket dan maupun biaya investasinya "Kami belum bisa menaikkan tarif kemitraan, karena jika kami naikkan malah tidak ada mitra yang mau bergabung, " kata Reno.

Begitu pula dengan harga jual burger. Rata-rata harga burger dijual berkisar Rp 11.500 hingga Rp 35.000 per tangkup. Meskipun harga daging akan mengalami kenaikan jelang Lebaran, Burger Queen tidak akan menaikkan harga jual. Sebab itu dikhawatirkan akan berpengaruh besar pada penjualan.

Menu yang disajikan juga masih sama, seperti beef burger, chicken burger, cheese burger yang disajikan dengan french fries, fried chicken. Serta tersedia pula aneka minuman ringan seperti teh, jus buah  dan iced blended.

Pada tahun ini Burger Queen belum berencana untuk menambah varian menu makanan maupun minuman. Namun, dalam waktu dekat, Reno mengklaim bakal ada mitra baru yang berlokasi di Jakarta dan Bandung yang akan bergabung. Dia berharap, calon mitra tersebut serius untuk menggeluti bisnis kuliner ini.                        n



TERBARU

[X]
×