kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45775,60   4,94   0.64%
  • EMAS887.000 -1,88%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Panen bisnis kue Lebaran ikut-ikutan terlewat di masa pandemi


Sabtu, 16 Mei 2020 / 10:10 WIB
Panen bisnis kue Lebaran ikut-ikutan terlewat di masa pandemi

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi korona memang tidak pandang bulu. Para pembuat kue kering dan roti pun sampai terkena imbas dari pandemi tersebut.

Yang sangat disayangkan adalah pandemi ini masih terus berlangsung hingga kini  malah kemungkinan besar sampai Lebaran nanti. Padahal momen hari raya biasanya menjadi sumber rezeki bagi para pembuat kue kering dan yang sejenis.
 
Lihat saja hasil penjualan kue kering untuk Lebaran di Amaleea Cookies dan Cakes yang ada di Cibubur, Jakarta Timur. "Omzet untuk kue Lebaran hingga 12 Mei kemarin dan belum sebulan baru Rp 12 juta," kata Isna Amaliah, pemilik Amaleea Cookies dan Cakes kepada KONTAN.
Padahal Lebaran tahun lalu, menjadi puncak panen dengan omzet hingga Rp 41 juta dari penjualan kue kering untuk Lebaran. Pesanan kue Lebaran itupun tidak cuma datang dari perseorangan saja tapi juga secara kelompok. Satu orang rata-rata bisa memesan enam stoples kue kering.
Kini situasinya sudah jauh berbeda. Satu orang rata-rata cuma memesan satu stoples saja kue kering dan baru ada 100 stoples yang terjual. Jangkauan pasarnya pun tidak seluas tahun lalu yang bisa sampai seluruh pulau Jawa. Saat ini sebagian besar berada di Jabodetabek dan ada pesanan dari Magelang.
 
Padahal dirinya sudah gencar berpromosi lewat media sosial, promosi mulut ke mulut hingga memanfaatkan komunitas di sekitar tempat tinggal. Sampai memberikan tester gratis kepada para tim pemasaran.
 
Adapun kue kering yang dijual Amaleea Cookies and Cakes mulai dari Rp 68.000 per 350 gram dan Rp 85.000 per 500 gram. Varian kuenya ada kastengel, nastar, putri salju, lidah kucing, kue coklat, dan cookies.
 
Dengan situasi saat ini, Isna berharap modal yang sudah ia keluarkan minimal bisa kembali. "Untung sedikit tidak apa-apa, yang penting bisa napas," ucapnya.
 
Pemain lain di usaha kue kering khas lebaran ialah Umi Salamah pemilik Roti Daffa dari Desa Ciketing, Bekasi Jawa Barat. Biasanya diluar momen hari raya, Umi memproduksi roti manis yang ia pasarkan di pabrik  dan juga sekolah.
 
Ia juga biasa membuat takjil selama puasa dan di malam takbiran. Namun semasa pandemi virus korona ini, penjualan roti dan lainnya merosot tajam hingga tinggal 50%nya. 
 
Ini membuat kapasitas produksi untuk membuat roti dan lainnya juga anjlok tingga 50% dari biasanya. Padahal biasanya ia bisa membuat 15 kilogram adonan roti.
 
Untungnya ada bisnis lain yang jadi penolong usahanya. Yakni  bisnis kue kering Lebaran. Tahun lalu, Umi sanggup menjual 100 stoples kue kering. Kini jumlahnya malah bertambah menjadi 150 stoples. Rupanya ia membuat varian wadah di bisnis kue keringnya. Ada satu stoples, paket tiga stoples hingga kiloan. "Alhamdulliah, kue kering banyak  pesanan," katanya.
 
Untuk saat ini, bisnis kue kering Lebaran jadi penyelamat bisnis Umi..

 



TERBARU

[X]
×