kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pasokan seret, penjualan laptop bekas lesu


Minggu, 12 November 2017 / 13:05 WIB
Pasokan seret, penjualan laptop bekas lesu


Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Johana K.

KONTAN.CO.ID - Penjualan komputer dan laptop bekas lesu dalam dua bulan terakhir. Yang menjadi penyebabnya adalah pasokan laptop bekas yang tiba-tiba seret.

Haryono, pemilik CV Reank Centra Indo, pedagang komputer dan laptop bekas di Tanah Abang, Jakarta Pusat mengalami kesulitan mencari sumber pasokan laptop bekas. "Padahal, biasanya pasokannya lancar, namun dua bulan ini susah sekali mendapatkannya," ungkap Haryono.

Sayang, sebagai pengepul komputer dan laptop bekas, Haryono tak mengetahui penyebab langkanya pasokan laptop seken. "Baru terjadi tahun ini, tahun-tahun sebelumnya tak pernah terjadi kelangkaan pasokan seperti sekarang. Bahkan, dua bulan lalu masih lancar, saya juga heran," ujarnya. Ia pun berharap, pada bulan Desember nanti, pasokan laptop bekas kembali seperti biasanya.

Menurut Haryono, merek laptop yang paling sulit dicari  versi bekasnya saat ini adalah Dell dan Asus.  Padahal, selama ini, kedua merek tersebut yang paling banyak diburu oleh konsumen. Menyusul kedua mereka itu adalah  Acer, Toshiba dan HP.

Karena kondisi ini, Haryono terpaksa meminta pelanggannya menunggu. "Lumayan lama menunggunya, paling cepat seminggu, paling lama ya sebulan. Itupun kalau mereka mau," tuturnya.

Pelanggan Haryono kebanyakan adalah penjual laptop bekas eceran. Mereka datang dari Jabodetabek, Solo, Yogyakarta, Surabaya dan Bandung. Mereka biasanya menjual kembali laptop itu dengan harga lebih tinggi.

Laptop bekas dengan prosesor Intel Core 2 Duo dibanderol sekitar Rp 500.000 - Rp 1,5 juta per item, tergantung mereknya. Sedangkan laptop dengan prosesor terbaru, yakni i3, i5 dan i7 dibanderol mulai Rp 2,5 juta - Rp 4,5 juta per item, tergantung merek. "Pelanggan banyak yang mencari laptop dengan prosesor Intel i3 yang mereknya Dell atau Asus. Jadi makin susah lagi itu carinya, kalau pun dapat harganya juga sudah tinggi, beda sedikit dengan laptop baru," jelas Haryono.

Kelangkaan pasokan laptop bekas juga diakui oleh Adrian, pemilik salah satu toko elektronik di pasar Glodok, Jakarta Pusat. "Bukan susah lagi cari pasokan laptop bekas. Susah banget. Biasanya dari pengepul lancar distribusi laptopnya. Sekarang seret, sampai saya buka fasilitas kalau ada konsumen yang mau jual laptopnya," terangnya.

Berbeda dengan Haryono yang merupakan pedagang atau pengepul komputer dan laptop bekas dengan skala besar, Adrian yang menjadi pengecer ini banyak mendapatkan laptop bekas langsung dari pemakainya atau perorangan yang langsung datang ke tokonya untuk menjual laptopnya. Sementara, Haryono banyak mendapat pasokan laptop bekas dari perkantoran, dari pemasok khusus.                  

Harus lihai mencari jalur pasokan atau tawarkan produk baru

Langkanya pasokan laptop bekas di Jakarta tak langsung menyurutkan bisnis yang cukup potensial ini. Berbagai cara dilakukan oleh para pelaku usaha untuk bisa bertahan. Mulai dari mencari sumber pasokan baru hingga beralih pada barang dagangan lainnya.  

Haryono, pemilik CV Reank Central Indo yang berlokasi di Tanah Abang, Jakarta Pusat bilang, pasokan laptop bekas selama dua bulan terakhir turun sampai 80%. Lantas, dia pun bergerilya dari kantor ke kantor untuk mencari pasokan laptop bekas. "Karena kalau menunggu ada yang datang untuk menjual laptop bekasnya pasti susah dan lama," tuturnya.

Jika ada pesanan laptop bekas, Haryono pun tak langsung menolak. Biasanya, ia meminta waktu selama seminggu sampai sebulan, tergantung spesifikasi (spek) dan merek.  

Dia pun akan berburu dari jaringan bisnisnya di berbagaikota. Boleh jadi, pasokan laptop bekas merek A di Jakarta sedang kosong, di kota lain malah memiliki banyak pasokan.

Namun, dia tetap mempertimbangkan kebutuhan konsumen. "Kalau dia mau cepat dan yang langsung ada barangnya, saya arahkan ke merek tertentu, misal Acer atau Toshiba, Lenovo. Merek-merek itu lebih mudah didapat dibanding Asus dan Dell," kata Haryono.

Ia pun tak jarang menyarankan untuk membeli personal computer (PC) bekas saja. Pasalnya, pasokan komputer bekas jenis ini lebih lancar dibanding laptop bekas. "Lihat dulu kebutuhan konsumennya. Kalau sekiranya dia butuh spekl saja, bukan untuk dibawa kemana-mana, saya sarankan ambil PC. Dengan spek lebih lengkap, harga hampir sama, dan yang jelas tidak perlu nunggu lama," jelas Haryono.

Berbeda dengan Haryono, Adrian, pemilik salah satu toko elektronik di kawasan pasar Glodok, Jakarta Pusat yang menggunakan strategi lain untuk mempertahankan bisnisnya. Ia akan mengarahkan pembeli laptop bekas untuk membeli versi barunya. Kebetulan toko milik Adrian tak hanya menjual laptop bekas, tapi juga ada laptop baru dan barang-barang elektronik baru lainnya.

"Saya tawarkan versi barunya karena dari segi harga, selisihnya tidak sampai sejuta. Kualitasnya juga pasti lebih baik, yang penting ada garansi minimal satu tahun. Jadi kalau misal belum sampai setahun sudah ada kerusakan, bisa segera ditangani oleh toko atau distributor resmi," terang Adrian.

Menurut Adrian, laptop bekas akan lebih mudah dicari dengan harga yang miring, apabila sebuah merek sudah tidak mengeluarkan versi barunya. Jadi, jika sebuah merek sudah tak mengeluarkan versi baru, pasokan bekasnya mudah dicari di pasaran. "Intinya saya akan mengarahkan konsumen untuk mendapatkan barang terbaik sesuai budget yang mereka punya," tukasnya.         

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×