kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pedas ayamnya, nikmat untungnya


Sabtu, 11 Januari 2020 / 09:10 WIB
Pedas ayamnya, nikmat untungnya

Reporter: Ratih Waseso, Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Makanan yang menggunakan bahan dasar ayam memang masih menjadi primadona dan favorit kebanyakan orang. Apalagi, beberapa tahun belakangan kuliner dari olahan ayam terus berinovasi. Sebut saja, ayam geprek dengan baluran aneka sambal khas Indonesia. Semakin hari semakin banyak saja pemain-pemain di bisnis ayam geprek, mulai dari yang kecil hingga besar. Maklum, pasarnya memang besar dan terus berkembang.

Tapi, seiring persaingan yang semakin ketat, para pengusaha ayam geprek tak kehilangan akal untuk tetap berekspansi. Apalagi, melihat antusiasme pasar, para pemilik usaha ayam geprek terus berusaha melakukan inovasi terhadap menu untuk mempertahankan sekaligus menambah pelanggan.

Kurang lebih satu tahun lalu KONTAN pernah mengulas kemitraan ayam geprek. Kali ini, Rubrik Review Waralaba  menyajikan perkembangan bisnis ayam geprek. Berikut ulasan lengkapnya: 
 
 Ayam Geprek  Mek Perk 
 
Ayam Geprek Mek Perk milik Bhakti Desta Alamsyah asal Jakarta rintis bergulir mulai 2016 dan langsung menawarkan kemitraan gerai pada tahun yang sama.
 
Saat KONTAN mengulasnya tahun lalu, Ayam Geprek Mek Perk baru memiliki 4 gerai mitra yang tersebar di Bandung. Saat ini, sudah ada 12 mitra yang bergabung dan tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, serta Kalimantan.
 
Selain itu, ada kenaikan investasi kemitraan. Tahun lalu, paket kemitraan Ayam Geprek Mek Perk hanya senilai Rp 100 juta. Nah, tahun ini Bhakti menawarkan dua paket kemitraan, yakni Rp 125 juta dan Rp 175 juta. Mitra akan mendapatkan fasilitas lengkap hingga bantuan dalam proses grand opening. 
 
Tapi untuk harga jual ayam geprek, tidak ada perubahan, masih mulai Rp 10.000 sampai Rp 17.000 per porsi. Menunya masih sama, yakni MekPrek Original, Mekprek n Cheese, Mekprek n Salad. Konsumen bisa memilih aneka sambal, mulai sambal matah, sambal bawang, hingga sambal terasi. "Menu masih sama seperti dulu, tapi pilihan sambal semakin banyak," kata dia.
 
Menurut Bhakti, tak ada kendala yang berarti sejauh ini selama menjalani usaha ayam geprek. Hanya, terkadang mitra sulit mematuhi ketentuan sistem standar operasional prosedur (SOP).
 
Bhakti optimistis, bisnis ayam geprek akan terus berkembang setiap tahun. Untuk itu, ia menargetkan, penambahan hingga 24 mitra usaha sampai akhir tahun ini.
 
Ayam Geprek Sa'i
 
Pemain di usaha ayam geprek lainnya adalah Erwan Barudi dengan mengibarkan label Ayam Geprek Sa'i. Mengusung bisnis syariah, Ayam Geprek Sa'i kini melejit dalam pertambahan mitra.
 
KONTAN sempat membahasnya pada September 2018 lalu, Ayam Geprek Sa'i saat itu memiliki 60 gerai mitra. Sekarang, lebih dari setahun berlalu, gerai mitra mereka bertambah menjadi 130 gerai, dengan persebaran cabang di Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi, dan Kalimantan.
 
"Tapi, mayoritas gerai kami ada di Jawa Timur. Jumlah total ada 130 gerai, tapi satu orang mitra kami ada yang punya tiga gerai hingga empat gerai," ungkap Erwan.
 
Tak hanya jumlah mitra yang meningkat, untuk paket investasi juga mengalami kenaikan. Jika setahun lalu berkisar Rp 200 juta, kini paket investasinya ada di angka 
Rp 250 juta-Rp 350 juta.
 
Kerjasama ini menerapkan sistem bagi hasil dari keuntungan bersih usaha sebesar 30% untuk manajemen dan 70% buat pemilik modal. "Kami model bisnisnya bagi hasil, jadi tidak ada seperti franchise fee atau biaya royalti, menghindari riba utama. Mitra pun kami pilih selektif, jadi pemilik modal bukan uang dari riba," tegas dia.
 
Erwan bilang, paket investasi Ayam Geprek Sa'i mengalami kenaikan sejak enam bulan lalu. Penyebabnya, kenaikan biaya sewa tempat untuk membuka gerai.
Selain itu, ada pula kenaikan volume bisnis, mulai penambahan peralatan usaha, seperti dua penggorengan, freezer, dan kursi 150 unit. Luas gerai juga bertambah jadi 125 meter persegi.
 
Saat ini harga jual menu di tiap gerai Ayam Geprek Sa'i mengikuti harga yang berlaku di daerah masing-masing. Rata-rata harga menu Ayam Geprek Sa'i berkisar Rp 7.000-Rp 17.000 seporsi.
 
"Harga hancur sekarang, karena banyak kompetitor berdekatan. Jadi, kalau secara penjualan sebetulnya meningkat, tapi margin profit mitra turun. Sekarang, margin hanya 8,5%, padahal kami ingin 12,5%," ungkap Erwan.
 
Guna menarik konsumen, Ayam Geprek Sa'i juga menyediakan sayur guna mengimbangi menu serba ayam. Saat ini, ada kangkung, kacang panjang, brokoli.
Mengenai target mitra di 2020, Erwan menyebutkan, ia ingin berjalan alami. Soalnya, Ayam Geprek Sa'i memang selektif dalam memilih mitra yang jadi pemilik modal. 
 
 Ayam Gepruk Wonogiri (Agewo)
 
Pemain berikutnya ialah Denny Setiawan dengan usaha Ayam Gepruk Wonogiri (Agewo). Bisnis ayam geprek ini berdiri sejak awal 2017 dan menawarkan kemitraan pada akhir tahun tersebut.
 
Gerai mitra dari Agewo memang belum mengalami kenaikan jumlah sejak KONTAN menulisnya pada Oktober 2018 lalu, masih 4 gerai. Namun, Denny mengatakan, gerai milik pusat bertambah menjadi dua outlet. Seluruh gerai Agewo, baik kepunyaan pusat maupun mitra masih berada di Jakarta.
 
Paket kemitraan yang Agewo tawarkan kini ada dua skema: paket ruko dan paket rumahan. Untuk paket ruko , investasinya Rp 18 juta untuk wilayah Jabodetabek dan 
Rp 20 juta di luar Jabodetabek. Sedang investasi paket rumahan Rp 7 juta saja.
 
"Semua paket sudah lengkap dan saya tidak ada royalti bulanan. Mitra hanya diwajibkan mengambil ayam dari pusat saja untuk jaga kualitas rasa," jelas Denny.
Sama seperti Ayam Geprek Sa'i, Agewo juga tidak mematok harga menu yang sama di tiap gerai. Denny menjelaskan, semua harga jual menyesuaikan dengan kondisi di
lokasi masing-masing.
 
Tapi, rata-rata harga menu di Agewo berkisar Rp 16.000 untuk paket nasi ayam dan Rp 20.000 untuk paket komplit. Tiga varian sambal, menurut Denny, jadi andalan Agewo yang membedakan dengan usaha sejenis lainnya. Keistimewaan Ayam Gepruk Wonogiri memang ada pada citarasa sambal koreknya. 
 
Saban hari, satu gerai Agewo bisa menghabiskan 10 ekor ayam atau sama dengan 40 potong ayam. Dengan begitu, Denny menyebutkan, satu hari mitra bisa mengantongi omzet hingga Rp 1 juta.
 
Pemesanan dan pembelian via ojek online, Denny nilai, menjadi salah satu faktor peningkatan penjualan Agewo. Tahun ini, ia berharap, ada investor tertarik menyuntikkan dana ke Agewo.
 
Bukan cuma itu, Denny menargetkan mampu menggandeng 10 mitra hingga 15 mitra lagi untuk Agewo. Saat ini, ia mengungkapkan, ada  8 calon mitra yang sudah melakukan komunikasi dengannya.    




TERBARU

Close [X]
×