kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.170
  • EMAS672.000 0,90%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Peluang budidaya cincau hijau masih kenyal (1)

Rabu, 06 Agustus 2014 / 17:12 WIB

Peluang budidaya cincau hijau masih kenyal (1)

Tanaman cincau hijau termasuk salah satu tanaman obat tradisional yang terkenal di Indonesia. Disebut tanaman obat karena diyakini mampu mengatasi hipertensi dan panas dalam.

Selain itu, menurut penelitian, tanaman yang termasuk dalam suku sirawan-sirawan atau Menispermaceae ini mengandung karbohidrat, polifenol, saponin, flavonida, lemak, kalsium, dan fosfor.

Konsumsinya banyak dibuat dalam bentuk minuman segar berbentuk gel. Selain dijadikan minuman segar, cincau hijau juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuat obat-obatan.

Tanaman dengan bahasa latin Cylea barbata myers ini memiliki batang lunak merambat dengan warna hijau tua. Daunnya berbentuk jantung agak bulat dan berwarna hijau tua.

Panjang dan lebar daun sekitar 10 sentimeter (cm). Cincau hijau membentuk rimpang atau umbi di dalam tanah berwarna cokelat cerah. Lantaran manfaatnya cukup banyak, tanaman ini cukup menjanjikan untuk dibudidayakan.

Salah satu pembudidaya tanaman ini adalah Muji Efendi (28) di Kediri, Jawa Timur. Muji membudidayakan cincau hijau sejak 2011 dengan luas lahan 100 meter persegi (m²). Ia tertarik membudidayakan cincau hijau karena peluangnya menjanjikan.

Menurut Muji, cincau hijau sudah bisa dipanen sejak umur enam bulan dan masa panen bisa setiap dua minggu sekali. Jika dirawat baik, tanaman ini bisa bertahan hingga puluhan tahun.

Muji bilang, saat panen, bagian yang diambil hanya daunnya saja. Bagian batang yang tersisa akan bertunas kemudian menghasilkan daun baru yang akan dipanen di minggu berikutnya.

Tanaman cincau yang ada di lahannya tidak dipanen secara sekaligus. Panen dilakukan setiap minggu. Sekali panen, Muji bisa menghasilkan 50 kilogram (kg) lebih daun cincau hijau segar.

Daun cincau itu dijual ke pengolah cincau untuk dijadikan minuman seharga Rp 30.000–Rp 40.000 per kg. Dari hasil panen itu ia bisa meraup omzet lebih dari Rp 5 juta per bulan. Muji bilang, permintaan cincau selalu tinggi. "Makanya, saya terus melakukan penanaman di lahan yang baru," lanjutnya.

Pembudidaya lainnya adalah Chasiat Prabowo (47) di Yogyakarta. Ia telah menanam cincau hijau sejak tahun 2011. Ia tertarik membudidayakan tanaman ini karena peminatnya banyak untuk keperluan konsumsi dan juga obat.

Selain cincau hijau, Chasiat juga menanam cincau hitam dan cincau china dengan luas lahan 400 m². Menurut Chasiat, permintaan daun cincau hijau lebih banyak karena sering dikemas dalam bentuk kalengan untuk minuman dingin. Ia mengaku, bisa mengantongi omzet
Rp 10 juta per bulan.      

(Bersambung)

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk, Rani Nossar
Editor: Havid Vebri

TERBARU
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0018 || diagnostic_api_kanan = 0.0518 || diagnostic_web = 11.2766

Close [X]
×