kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45776,70   6,04   0.78%
  • EMAS887.000 -1,88%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Peluang ternak ayam mitra Japfa Comfeed (bagian1)


Sabtu, 11 Mei 2019 / 10:00 WIB
Peluang ternak ayam mitra Japfa Comfeed (bagian1)

Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daging ayam hingga kini masih menjadi salah satu makanan favorit hampir sebagian orang. Ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat konsumsi daging ayam ras pada 2017 sebesar 5,68 kg per kapita per tahun. Angka itu naik 563 gram atau 11,2% dari tahun sebelumnya.

Kondisi itu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi peternak ayam ras. Mereka butuh teknologi dan metode budidaya yang efektif dan efisien dalam menyediakan pasokan daging ayam.

Ferry Poernama, Adjuct Profesor Fakultas Peternakan UGM sekaligus Head of Technology and Nutrition PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), mengatakan, saat ini ada inovasi yang bisa menjawab tantangan ini. Yaitu closed house farm atau peternakan tertutup. Metode ini memungkinkan peternak meningkatkan berat ayam secara signifikan tanpa harus memberi pakan tambahan.

Jadi ayam dipelihara dalam kandang tertutup dengan suhu yang sudah diatur sesuai kebutuhan. Ini untuk meminimalisir gangguan dari luar. "Ayam bisa rileks dan berat badannya otomatis bisa naik," tuturnya.

Dengan cara ini, ia klaim, ayam yang dipelihara dalam peternakan tertutup bisa punya bobot lebih gemuk 200 gram dari ayam yang diternakan dalam peternakan terbuka atau open house.

Ayam broiler yang dipelihara dalam peternakan open house biasanya memiliki berat sekitar 2,3 kilogram setelah 35 hari. Sementara yang berada dalam closed house bisa memiliki berat sekitar 2,5 kg dalam periode yang sama.

Itu bisa terjadi karena ayam bakal dikontrol dengan ketat dalam peternakan tertutup. Mulai dari pengaturan sirkulasi udara, suhu ruangan, hingga kecepatan angin. "Pengontrolan dilakukan secara digital," katanya.

Nah, lingkungan yang terkendali akan menghadirkan kondisi ideal untuk ayam. Ini bisa meminimalisir risiko stres yang dialami ayam ketika dibesarkan di peternakan terbuka. Tingginya kelembaban atau suhu di negara tropis biasanya menekan produktivitas ternak.

Namun, model peternakan seperti ini ada kelemahannya, yakni butuh modal besar. Menurut Ferry, para peternak perlu menyiapkan modal lebih besar ketimbang membangun peternakan terbuka. Hitungannya, peternak harus menyiapkan modal Rp 65.000 per ekor–Rp 85.000 per ekor jika ingin membuat closed house.

Jumlah tersebut dua kali bahkan tiga kali lipat lebih mahal dibanding dengan modal beternak open house yang hanya menghabiskan investasi sekitar Rp 25.000 per ekor - Rp 45.000 per ekor. "Modal besar di awal, tapi saya jamin semua bakal pay off, tidak sebanding dengan efisiensi pakan dan biaya operasional lainnya," klaimnya.

Untuk membuat closed house, para peternak bisa bermitra dengan beberapa perusahaan pakan. Wakil Kepala Divisi Unggas Komersial Japfa, Achmad Dawami, bilang mitra harus menyiapkan modal Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar untuk membuat peternakan tertutup 12 m x 120 m dengan kapasitas maksimum 45.000 ekor ayam.

"Kami sediakan segalanya untuk rumah, lantas peralatan, bibit ayam, hingga pakan untuk ayam di dalamnya," katanya.

(Bersambung)



TERBARU

[X]
×