kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Peluang untung usaha penerbitan yang berawal dari iseng


Kamis, 27 Februari 2020 / 08:05 WIB
Peluang untung usaha penerbitan yang berawal dari iseng

Reporter: Tabloid Kontan | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menulis dan membaca. Dua kegiatan ini jadi kesukaan Herlina Puspita Dewi. Hobi itu yang mendorong wanita kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, ini merintis usaha penerbitan.

“Pas terbayang ingin usaha apa, yang pertama muncul, ya, bisnis penerbitan karena sesuai dengan passion,” ungkap pemilik gelar diploma sastra dan sarjana ekonomi ini.

Kini, bisnis Dewi di bawah bendera Stiletto Book berkembang. Selain penerbitan, dia memiliki lini usaha bergerak di bidang industri kreatif berupa produk dekorasi rumah dan pernak-pernik. Divisi ini bernama Stiletto in Style.

Dari tidak punya karyawan, sekarang Dewi memiliki 40 pekerja. Saban bulan, perempuan yang lahir 6 Oktober 1984 ini bisa mengantongi omzet Rp 300 juta hingga Rp 350 juta dari bisnisnya yang berbasis di daerah Sleman, Yogyakarta.

Meski begitu, sejatinya Dewi enggak sengaja terjun ke dunia bisnis. Sebelum membuka usaha penerbitan, jebolan Jurusan Sastra Prancis Universitas Padjadjaran, Bandung, dan Akuntansi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ini rajin menulis tentang perencanaan keuangan di blog-nya.

Pada 2010, ia membukukan tulisan-tulisan yang ada di blog-nya lewat jalur indie. “Kalau dimasukkan ke penerbit, kan, seleksinya lama, ribet,” kata Dewi yang merogoh kocek sendiri buat menerbitkan dan mendistribusikan bukunya berjudul Mengelola Keuangan Pribadi untuk Perempuan.

Dewi memilih Stiletto Book sebagai nama penerbit. Secara harfiah, stiletto memiliki arti belati. Namun dalam dunia mode, stiletto berarti sepatu hak tinggi. “Alasan saya pakai nama Stiletto Book karena buku saya tentang pengelolaan uang secara pribadi bagi kaum perempuan,” jelas dia.

Setelah bukunya beredar termasuk di Toko Buku Gramedia, banyak yang mengira Stiletto Book adalah perusahaan penerbitan. Alhasil, banyak yang mengirim naskah juga menawarkan kerjasama ke Dewi.

Melihat prospek yang cukup bagus, dia pun memutuskan membangun usaha penerbitan. “Sambil bekerja, saya mengumpulkan modal juga banyak belajar tentang usaha penerbitan selama setahun,” ujarnya yang pernah bekerja jadi penerjemah bahasa Prancis di PT Bina Mutuprima Indonesia.

Awalnya iseng

Di Januari 2011, bisnis penerbitan Dewi berkibar. Dan ketika itu, ia masih bekerja. Dia mengelola usahanya seorang diri sepulang kerja, mulai mencari dan menyeleksi naskah untuk diterbitkan jadi buku hingga promosi.




TERBARU

Close [X]
×