kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pencetak pebisnis sepatu sukses


Sabtu, 18 Agustus 2018 / 07:00 WIB

Pencetak pebisnis sepatu sukses
ILUSTRASI.

KONTAN.CO.ID - Ada ribuan merek sepatu di pasar Indonesia. Merek seperti Yongki Komaladi, Charles and Keith, Homyped, Sophie Martin, Pakalolo, Apple Green hingga Andre Valentino tentu tidak asing bagi Anda.

Nah, sebelum bikin usaha, para pebisnis sepatu sukses tersebut, ternyata belajar membuat sepatu dengan Jeffry Antono. Sosok Jeffry bisa jadi tenggelam dibandingkan deretan merek sepatu terkenal, yang secara tidak langsung, lahir dari tempat kursusnya.

Setidaknya, kita sebagai konsumen tentu lebih mengenal merek-merek sepatu, ketimbang Jeffry yang ada jauh di balik sepatu tadi.

Jeffry yang sekarang berumur 70 tahun ini harus menjalani lika-liku perjalanan karier dan bisnis yang panjang sebelum bisa menikmati berkah menjadi konsultan sepatu ternama. Bahkan, ia jatuh bangun dalam usaha hingga masalah rumah tangga.

Dunia sepatu sendiri, bukan hal yang baru bagi Jeffry. Dia dilahirkan dalam lingkungan pebisnis sepatu.

Kakak Jeffry merupakan pemilik pabrik sepatu terkenal, PT Panarub Industry di Tangerang. Walau begitu, Jeffry tidak segera menikmati fasilitas dan kemudahan sebagai adik empunya pabrik.

Seusai lulus sekolah ekonomi di Singapura sekitar tahun 1970-an, pria asal Bangka ini diminta kakaknya sekolah lagi ke Inggris untuk menimba ilmu ekonomi. Tujuannya, nanti kalau lulus Jeffry bakal membantu mengurusi Panarub.

Makanya, setelah lulus sekolah di Inggris, Jeffry kembali ke Indonesia dan bekerja di pabrik tersebut. Walau berbekal ilmu ekonomi, Jeffry ditempatkan di bagian Quality Control. Tugasnya mengecek produksi sepatu agar sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Berkah bekerja di pabrik, ternyata Jeffry berkenalan dengan wanita yang menjadi istrinya, yakni putri salah satu distributor biskuit. Setelah menikah, “Mertua meminta saya berjualan biskuit. Saya pun menuruti permintaan itu, dengan membuka pabrik biskuit,” kata Jeffry yang tetap membantu kakaknya di pabrik sepatu.

Namun, kisah hidup pria yang rambutnya sudah memutih itu tidak seindah yang dibayangkan. Waktu pabrik biskuitnya berjalan empat tahun, isterinya meninggal.

Jeffry menjadi gamang, karena merasa tidak mungkin menjalankan bisnis biskuit sendirian. Maklum, selama ini almarhum istrinyalah yang lebih banyak memegang bisnis biskuit.

Belajar ke Italia

Jeffry sempat konsultasi kepada kakaknya, yang pengusaha sepatu, tapi sayang ia pun tidak paham mengenai usaha biskuit. Akhirnya, dengan berat hati, Jeffry memutuskan menutup pabrik biskuitnya.

Masih dirundung duka kehilangan istri dan pabriknya, sang kakak memintanya untuk fokus bekerja di pabriknya. Apalagi saat itu, perusahaan kakaknya memang kian berkibar.

Panarub memproduksi merk Specs yang jadi sangat terkenal di Indonesia. Tambah lagi, berbagai perusahaan sepatu asing seperti Mitsuno dan Adidas juga masuk ke perusahaan kakaknya ini.

Jeffry, yang saban kerjanya mengamati apakah sepatu kanan dan kiri jahitannya rapi atau tidak, tetap merasa ada yang kurang dalam pekerjaannya. Ia merasa, bahwa sebenarnya tidak ada yang tahu pasti bahwa sepatu yang mereka produksi memang pas di kaki pembeli.

“Betul sudah ada standar dari para bule, orang Jepang, orang Korea. Tapi, saya merasa juga harus tahu dong, jangan hanya menjadi pesuruh saja. Dari situ saya memutuskan untuk harus mempunyai ilmunya,” jelasnya.

Jeffry berpikir untuk mencari ilmu ke negara yang memang sudah terkenal soal sepatu, yakni Italia. Namun, mencari ilmu itu tak mudah karena biayanya sangat mahal. “Saya kekurangan biaya dan minta tambahan kepada kakak saya,” ujarnya.

Pada tahun 1980-an, biaya kursus di Italia itu setara dengan harga tiga mobil. Kakaknya pun memodalinya uang senilai satu mobil dan dirinya juga menjual mobil miliknya. “Masih kurang, saya pinjam bank yang nilainya setara dengan harga satu mobil,” ucapnya.

Setelah dana terkumpul, rupanya tempat kursus di Italia juga mensyaratkan hal yang sulit. Salah satunya adalah ada rekomendasi dari perusahaan sepatu di negara asal siswa.

Karena syarat yang tidak mudah itu, murid yang diterima belajar di sekolah tersebut hanya delapan murid. Jeffry beruntung karena kakaknya memiliki perusahaan sepatu, sehingga syarat ini pun bisa diatasi.

Tahun 1981, Jeffry berangkat ke Italia. Di sana, Jeffry sempat bingung lantaran tidak mengerti Bahasa Italia samasekali. Parahnya lagi, sang guru memberi pelajaran dan pelatihan menggunakan bahasa Italia.

Namun, Jeffry tetap punya kemauan tinggi untuk belajar. Ia mendapatkan bantuan dari temannya yang berasal dari Swiss sebagai penerjemah. “Jadi, setelah selesai kursus, saya langsung tanya apa yang dijelaskan oleh guru, pada dia,” papar Jeffry.

Setelah kurang lebih tiga tahun mempelajari mengenai cara produksi sepatu di Italia, Jeffry kembali pulang ke Jakarta. Dia juga melanjutkan bekerja di pabrik kakaknya.

Sekembalinya dari Italia, Jeffry mendapatkan peran baru, tak hanya menjaga kualitas barang, ia juga menjadi konsultan sepatu. Pekerjaannya adalah memastikan agar produksi Panarub nyaman dipakai dan berkualitas internasional. Sembari bekerja, Jeffry membuka kursus sepatu privat di rumahnya.  

Seiring waktu, kakaknya mulai kebanjiran order. Jeffry diminta untuk membuka pabrik kecil agar order yang membanjir itu bisa dibagi-bagi. “Saya pikir itu ide yang menarik dan bagus. Jadi tahun 90-an saya mulai mendirikan pabrik dan memproduksi sepatu dengan merek Jeffry,” kenangnya.

Trauma buka pabrik

Di tahun itu juga, Ia sudah menikah lagi dan memiliki seorang putri. Sayangnya, perjalanan bisnis pabrik sepatu Jeffry ini juga tidak mulus. Ia terkena dampak krisis moneter tahun 1997–1998.

Lagi-lagi dengan berat hati dirinya harus menutup usahanya. “Saat itu pesanan banyak, tapi semua bahan baku kan harus impor. Saya tak bisa meneruskan bisnis ini, pabrik tutup. Ada 500 orang pekerja dirumahkan,” ungkapnya.

Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula, hantaman krismon memporakporandakan usaha dan rumah tangganya. Dia bercerai dengan istrinya. Tentu hal ini membuatnya terpuruk.

“Utang di bank menumpuk, saya menjual pabrik, utang hampir tertutup. Masih sisa beberapa ratus juta. Dengan modal utang yang belum terbayar ini, saya hidup dan memulai produksi kecil-kecilan di rumah,” jelasnya.

Selain memproduksi sepatu di rumahnya, Jeffry juga membuka pelatihan seluk beluk bisnis sepatu. Nah, pada momen inilah, para calon produsen sepatu mendatangi Jeffry untuk belajar cara memproduksi sepatu. Salah satu yang diajarkan di pelatihan Jeffry adalah cara memilih bahan baku dan menggunakannya secara efisien.

Jeffry juga memutuskan tak mau membuka pabrik lagi. Soalnya, ia mengaku cukup trauma karena dua kali gagal jadi produsen biskuit dan sepatu.

Lagipula, menurutnya, dari membuka kursus sepatu, ia merasakan kedamaian batin dan kebahagiaan yang selama ini hilang. Jeffry merasa senang saat murid-muridnya di kelas antusias dan aktif bertanya. Kalau muridnya bisa sukses dan berhasil, itu merupakan bonus yang disyukuri oleh Jeffry.

Karena itulah, meski sudah tidak muda, Jeffry masih membuka usaha pelatihan sepatu di rumahnya. Selain itu, Jeffry juga menjadi konsultan dari para pelaku bisnis.

Untuk les privat sepatu, Jeffry menawarkan biaya dari Rp 15 juta sampai Rp 35 juta per orang, bergantung lamanya kursus, yakni antara 40 jam sampai 75 jam.

Ia tak mau blak-blakan soal berapa pemasukannya dari membuka kursus sepatu itu. Yang pasti ia senang melihat banyak didikannya ternyata bisa melahirkan merek-merek terkenal.


Reporter: Merlinda Riska
Editor: S.S. Kurniawan


Close [X]
×