Reporter: Rizki Caturini, Silvana Maya Pratiwi | Editor: Tri Adi
Tiap kali memasuki Ramadan, permintaan blewah selalu meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. Namun di tahun ini, para penjual buah mengaku penjualan turun dibanding Ramadan tahun lalu. Penjual buah di pasar induk Yogyakarta mengaku, penurunan penjualan bahkan hingga 40%. Berbarengan dengan tahun ajaran baru ditengarai menjadi penyebabnya.
Siapa yang tidak kenal blewah. Buah satu ini menjadi salah satu buah yang paling dicari selama bulan puasa. Biasanya blewah diambil dagingnya dan dijadikan minuman dingin dengan campuran air serta sirup. Rasanya yang nikmat dan menyegarkan cocok sebagai minuman penghilang dahaga ketika buka puasa tiba.
Saban tahun selama Ramadan, permintaan buah ini selalu meningkat dibanding bulan-bulan biasa. Peningkatan ini tidak terkecuali dialami pula oleh para penjual blewah di Pasar Palmerah, Jakarta Barat.
Nunung, salah satu pedagang buah di Pasar Palmerah mengatakan, dari berbagai buah yang dia jual seperti jeruk, salak, sirsak dan timun suri, buah yang paling laris saat ini adalah blewah. Dia biasanya mengambil pasokan dari pasar induk Kramat Jati, Jakarta.
Dalam sehari, dia bisa mengambil mengambil persediaan sebanyak 50 kg. Rata-rata Nunung bisa menjual sekitar 30 kg per hari. Jumlah ini meningkat berkali-kali lipat dari penjualan di bulan-bulan biasanya yang hanya sekitar 2 kg per hari. Harga jual seharga Rp 8.000 per kg. Sehingga omzet yang bisa dia raih sekitar Rp 240.000 per hari atau sekitar Rp 7,2 juta per bulan.
Sementara Jihan, pedagang buah lainnya di tempat ini biasanya bisa mengambil hingga 150 kg blewah tiap hari. Selain blewah, Jihan juga menjual jeruk, salak, melon, stroberi, semangka, buah naga, sirsak, hingga kurma. "Buah-buahan yang menyegarkan seperti melon dan blewah paling laris dibeli konsumen," ujar Jihan.
Dalam sehari Jihan bisa menjual 80 kg hingga 100 kg blewah per hari dengan harga jual sama sekitar Rp 8.000 per kg. Dari situ, omzetnya berkisar Rp 800.000 per hari. Jika dihitung dalam sebulan, Jihan bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 24 juta.
Meskipun terjadi penjualan meningkat, tapi Jihan mengaku penjualan blewah tahun ini tidak seramai Ramadan tahun lalu. Dulu, Jihan bisa menjual hingga 150 kg blewah per hari. Omzetnya pun bisa mencapai Rp 2 juta per hari.
Jihan tidak paham betul alasan penurunan permintaan blewah di tahun ini. Namun, memang banyak juga pembeli yang memilik timun suri ketimbang blewah sebagai bahan baku minuman untuk berbuka puasa.
Ali Wahid, pemilik Kios Agro Buah di Pasar Induk Yogyakarta pun mengalami hal serupa. Penjualan blewah dan buah-buahan lainnya umumnya turun hingga 40%. Dia menduga, hal ini terjadi lantaran bulan puasa tahun ini berdekatan waktunya dengan anak-anak masuk sekolah. Sehingga, mempengaruhi daya beli konsumen terhadap buah-buahan.
Tahun ini Ali memasok hanya sekitar 6 ton blewah dan buah lainnya saban minggu kepada para tengkulak di pasar induk. Khusus blewah dijual seharga Rp 6.000 per kg pada tengkulak. Selanjutnya, buah dijual ke para pengecer di sekitar Yogyakarta hingga Jakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













