kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45961,32   -9,47   -0.98%
  • EMAS929.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.21%
  • RD.CAMPURAN -0.01%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.05%

Perkembangan ekonomi digital membuat pendanaan untuk startup melesat


Senin, 04 Oktober 2021 / 17:28 WIB
Perkembangan ekonomi digital membuat pendanaan untuk startup melesat
ILUSTRASI. Ilustrasi Start Up. KONTAN/Muradi/2016/07/12

Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berkembangnya ekonomi digital membuat perusahaan-perusahaan rintisan (startup) ketiban untung. Aliran pendanaan begitu mudahnya mengalir ke startup berbasis teknologi digital sekalipun dunia sedang dihantam pandemi Covid-19.

Berdasarkan riset Scale Public Relations, tercatat ada 104 startup Indonesia yang memperoleh pendanaan sepanjang enam bulan pertama di 2021 atau naik 40,5% dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 dan meningkat 53% dari periode yang sama di tahun 2019.

Total pendanaan yang didapat 104 startup tersebut mencapai US$ 3,8 miliar pada semester I-2021 atau naik 91% dibandingkan pendanaan di semester I-2020 sebesar US$ 2 miliar. Total pendanaan ini juga melesat 216% dibandingkan semester I-2019 sebesar US$ 1,2 miliar.

Startup di sektor fintech, logistik, dan e-commerce menjadi favorit atau paling banyak dilirik oleh investor. Hal ini terlihat dari besarnya jumlah startup dan pendanaan yang mengalir ke sektor tersebut.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyampaikan, getolnya investor menanamkan modalnya ke startup digital tak lepas dari prospek ekonomi digital di Indonesia yang menjanjikan. Selain berbekal besarnya jumlah penduduk Indonesia, saat ini pun sedang terjadi perubahan konsumsi masyarakat dari produk berbasis offline menjadi online.

Baca Juga: Gencar dapat pendanaan, Kredivo terdorong untuk semakin ekspansif

Saat pandemi, intensitas pergerakan masyarakat Indonesia di area perumahan tampak lebih tinggi dibandingkan di kawasan toko ritel atau bahkan tempat kerja. Belum lagi, perilaku berbelanja masyarakat Indonesia meningkat dua kali lipat pada masa pandemi. “Faktor-faktor ini mendukung tumbuhnya ekosistem ekonomi digital,” kata Huda, Senin (4/10).

Dia menambahkan, sekitar 75% komponen ekonomi digital berhubungan erat dengan e-commerce. Ekosistem e-commerce sendiri begitu besar karena menyangkut aspek penjualan, permodalan, pembayaran, dan pengiriman. Alhasil, industri e-commerce tak bisa lepas dari sektor pendukungnya yaitu logistik dan fintech. Hal ini lah yang membuat sektor e-commerce, logistik, dan fintech laris manis di mata investor.

“Investasi di sektor e-commerce tentu akan meningkatkan sektor lain seperti logistik dan fintech,” imbuh Huda.

Ke depan, Huda menilai tren pendanaan startup digital masih berpeluang tumbuh lebih besar. Apalagi, startup-startup e-commerce terus-menerus membangun ekosistem bisnis yang besar dan menyebar ke berbagai sektor lainnya.

Ambil contoh raksasa e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee yang tak hanya berkecimpung di layanan e-commerce semata, melainkan juga mengembangkan berbagai layanan lain dalam satu aplikasi, seperti layanan pembayaran hingga hiburan.

“Semakin besar dan kompleks ekosistem yang dibangun oleh perusahaan e-commerce, maka akan semakin baik dari segi peluang pendanaan. Banyak investor yang tertarik masuk ke sana,” pungkas Huda.

Selanjutnya: Grab menjadi pemegang saham mayoritas di OVO Indonesia

 




TERBARU
Kontan Academy
Sukses Presentasi: Membuat Konsep yang Sulit Jadi Mudah Dipahami Batch 3 Certified Supply Chain Analyst (CSCA) Batch 12

[X]
×