kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Persaingan ketat, bisnis kebab tetap pekat


Sabtu, 08 Februari 2014 / 10:16 WIB
Persaingan ketat, bisnis kebab tetap pekat

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk, Pratama Guitarra, Tri Sulistiowati, Marantina | Editor: Rizki Caturini

 KEBAB sudah cukup akrab di lidah masyarakat Indonesia. Tengok saja, sudah banyak bisnis kuliner yang menjajakan menu khas Timur Tengah ini. Peluang bisnis makanan berupa hidangan daging panggang atau bakar ini memang selezat rasanya. Ini terbukti dengan bermunculan berbagai usaha yang mengangkat nama kebab sebagai menu utama. Tak ayal, banyak bisnis kebab menawarkan kemitraan, yang membuat kebab semakin dikenal hingga ke daerah-daerah.

Namun, banyaknya pemain yang bertarung dalam bisnis kebab membuat persaingan semakin tinggi. Para pemilik usaha kebab harus menerap  strategi yang tepat untuk memenangkan persaingan. Bagaimana prospek bisnis ini? Berikut ulasan KONTAN terhadap tiga kemitraan kebab yaitu Zahfy Kebab, Kebab Kings, dan Corner Kebab.

n Zahfy Kebab

Zahfy Kebab berdiri di tahun 2009. Tak hanya kebab, Zahfy Kebab juga menawarkan burger dan roti maryam. Pada awal 2010, Hefni Tri Sriyantono, pemilik Zahfy kebab, mulai menawarkan kemitraan. KONTAN telah mengulaskemitraan usaha kebab yang ada di Bekasi ini pada Februari 2012. Kala itu, jumlah gerai mereka sebanyak 28 gerai dengan 10 gerai milik sendiri dan sisanya milik mitra. Saat ini, gerai telah bertambah menjadi 45 gerai. Rinciannya,  dua gerai milik pribadi dan sisanya milik mitra.

Manager Operasional Zahfy Kebab, Hendra menjelaskan, mereka sengaja mengurangi kepemilikan pribadi karena ingin fokus mengembangkan gerai untuk mitra. Ada sedikit perubahan tawaran kemitraan. Sejak akhir tahun lalu, mereka hanya menawarkan tiga model investasi yaitu paket booth Rp 30 juta, paket outlet Rp 45 juta dan paket foodcourt Rp 65 juta. Sebelumnya, Zahfy kebab mempunyai enam pilihan model investasi.

Sejak akhir 2012, Zahfy Kebab juga telah menghapuskan sistem biaya royalti sebesar 3,5%. Alasannya, karena ini tidak menguntungkan mitra.
Omzet yang didapatkan dari bisnis ini lumayan, yaitu sekitar 30 juta per bulan dengan laba bersih sebesar 30%-40% dari omzet. Sehingga, hitungan Hendra para mitra bisa balik modal sekitar 8-11 bulan.

Akhir tahun lalu, Zahfy Kebab mengeluarkan dua menu baru yaitu Nasi Goreng Kebab dan Mie Goreng Kebab. Sehingga, saat ini Zahfy Kebab menjual delapan menu di gerainya. Adapun harga menu mengalami kenaikan dari kisaran Rp 9.000-Rp 11.000 menjadi Rp 12.000- Rp 20.000.

n Kebab Kings

Bisnis kebab ini dirintis Bobby Hendrawan sejak 2006 di Surabaya. Untuk membesarkan kebab Kings, Bobby mulai menawarkan peluang kemitraan di 2007.

Ketika KONTAN mengulas kemitraan ini pada awal 2013, sudah tercatat sebanyak 365 gerai kebab Kings yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Rinciannya, sebanyak 20 gerai di antaranya milik Bobby dan sisanya milik mitra.

Seiring berjalannya waktu, jumlah gerai Kebab Kings bertambah sekitar 135 gerai yang tersebar di kota-kota besar Indonesia. Sehingga, total gerai Kebab Kings sekitar 500 gerai. "Pusat punya sekitar 50 lebih gerai baru," kata Bobby.

Ia bilang, pertumbuhan pesat jumlah gerai lantaran promosi tim manajemen hingga saat ini yang lumayan gencar. Selain promosi di internet,  Kebab Kings sering mengikuti pameran-pameran waralaba hingga saat ini.

Di tahun 2013, Bobby menawarkan empat paket investasi, yakni, paket gerobak senilai Rp 35 juta, booth Rp 40 juta, paket kios Rp 50 juta, dan paket motor roda tiga seharga Rp 55 juta. Saat ini, nilai investasi untuk menjadi mitra Kebab Kings sudah meningkat. Untuk masing-masing paket, ada kenaikan biaya sebesar Rp 5 juta. Jadi, paket investasi Kebab Kings kini berkisar Rp 40 juta-Rp 60 juta.

Meski demikian, harga jual produk ke konsumen tidak naik, yakni di kisaran harga Rp 12.000-Rp 15.000 per porsi. Namun, harga jual bisa lebih mahal di lokasi tertentu, seperti Papua, yang bisa mencapai Rp 20.000 per porsi.

Bobby mengklaim, tiap gerai bisa meraup omzet berkisar Rp 15 juta-Rp 60 juta per bulan. Ia menargetkan, awal tahun ini, jumlah gerai Kebab Kings akan bertambah menjadi 800 gerai. "Saya ingin, gerai kebab Kings tidak saja berada di kota-kota besar, tapi juga mencapai pelosok daerah," ucap Bobby.

Meski persaingan kian ketat dengan banyaknya pemain baru, namun Bobby masih yakin, karena bisnis kebab di Indonesia masih cukup menjanjikan.

n Kebab Corner

Kebab Corner dirintis oleh Ardiansyah Murdiawan Saputra sejak Agustus 2007. lantas pada Juli 2008, ia mulai menawarkan sistem kemitraan bagi masyarakat.

Usaha yang bermarkas di Komplek Ruko Ogie Plaza, Pamulang, Tangerang Selatan ini mampu berkembang. Ketika KONTAN mengulas tawaran kemitraan ini pada April 2013, Kebab Corner baru memiliki 350 gerai, yakni 15 gerai milik pusat dan sisanya milik mitra. Kini, total jumlah gerai bertambah menjadi 400 gerai. Rinciannya, 70 dikelola pusat dan sisanya sebanyak 330 gerai dimiliki mitra.

Ardiansyah mengatakan, perkembangan Kebab Corner yang lumayan ditandai dengan pertambahan gerai yang cukup cepat, tidak lepas dari  upaya inovasi dan terus mengontrol mitra. Selain itu, ia juga terus meningkatkan pelayanan pada konsumen serta menjalin hubungan yang baik dengan karyawan. "Kita menjalin hubungan baik dengan karyawan karena mereka adalah aset kita," tutur Ardian.

Inovasi yang dilakukan Kebab Corner adalah dengan menggunakan outlet berbahan 100% stainless steel dan meluncurkan menu-menu baru dan mengganti menu lama yang sudah tidak terlalu diminati pelanggan.

Awal tahun 2014, Ardian meluncurkan menu baru yaitu Burger Duo yang terdiri dari daging sapi dan ayam. "Pelanggan yang ingin menikmati dua macam daging dalam satu menu bisa memilih ini," ujarnya.

Selain itu, Ardiansyah juga terus berusaha menjaga kepercayaan klien dan komitmen untuk membantu jika mitra mengalami kesulitan.
Paket investasi yang ditawarakan Kebab Corner masih sama seperti tahun lalu senilai Rp 40 juta. Ardian belum berencana menaikkan paket investasi karena hal itu akan berpengaruh pada target balik modal mitra. Menurut dia, tidak bagus bagi perkembangan usaha jika mitra harus balik modal di atas dua tahun. "Oleh karena itu kita tidak berencana menaikkan harga paket investasi," kata dia.

Namun, untuk mengimbangi kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional, Kebab Corner terpaksa menaikkan harga jual sekitar Rp 1.000- Rp 2.000 per menu. "Kalau cuma bahan baku yang naik tidak masalah. Tapi karena biaya operasional yang kita keluarkan untuk pegawai semakin besar jadi terpaksa menaikkan harga jual," jelasnya.

Sepanjang tahun 2013, Ardian  tidak banyak melakukan kegiatan promosi. Ia lebih fokus pada perbaikan dari sisi internal untuk memperkuat manajemen perusahaan. "Kalau tahun 2012 kita banyak mengikuti pameran.  Tapi di tahun 2013 kita lebih fokus memperbaiki sistem seperti membuat pusat pelatihan," tuturnya.

Ardian mengatakan, kedepan Kebab Corner masih akan terus melakukan inovasi baik dari sisi infrastruktur, produk, sistem dan Sumber Daya Manusia (SDM). Tahun ini ia menargetkan memiliki hingga 500 mitra. “Tahun 2012 sistem kemitraan kami bagi hasil syariah, tahun kita akan lebih fokus mengembangkan mitra mandiri,” ujar dia.       

Meski berasal dari Timur Tengah, kuliner kebab sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia. Kuliner berbasis daging ini cukup popular di Indonesia. Meski ada pandangan   bisnis kebab sudah mulai jenuh, kenyataannya gerai-gerai kebab terus bermunculan. Para pemilik kemitraan kebab terus menambah mitra mereka.

Pengamat waralaba, Amir Karamoy menilai bahwa prospek bisnis kebab masih cukup menarik. Namun, ia juga tidak menutup mata bahwa persaingan antar pemain cukup ketat. Apalagi, beberapa gerai kebab berada pada lokasi yang berdekatan. Ini tentu harus menjadi perhatian para pelakunya. “Sebenarnya, perbandingan antara gerai yang menjual kebab dengan jumlah penduduk Indonesia masih terlampau jauh. Jadi pangsa pasar masih ada,” ujarnya.

Amir bilang, di beberapa pelosok, kebab belum terlalu populer. Artinya, daerah-daerah tersebut bisa dijadikan pangsa pasar yang baru. Ia juga menuturkan bahwa bisnis kuliner butuh waktu yang sangat lama hingga bisa jenuh. Di sisi lain, tentu saja pemilik usaha harus terus berinovasi untuk membesarkan usaha. “Dalam hal ini, inovasi rasa atau menu bisa jadi fokus agar konsumen tetap tertarik menikmati kebab,” tandasnya.

Ia menyoroti kebab Baba Rafi yang masih memimpin pasar hingga saat ini. Menurut Amir, usaha kebab yang lain pun seharusnya terpacu bukan hanya mencuil kue bisnis, tapi bisa merebut pasar. Selain inovasi, konsistensi kualitas, baik dalam hal rasa dan pelayanan pun harus terus ditingkatkan jika ingin bisnis kebab terus berjaya.  n




TERBARU

Close [X]
×