kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Pijak Bumi menginjak laba dari bisnis alas kaki hijau


Sabtu, 14 Maret 2020 / 10:00 WIB
Pijak Bumi menginjak laba dari bisnis alas kaki hijau

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Sepatu, kini, menjadi salah satu produk fesyen yang paling digemari oleh banyak kalangan. Apalagi bila model atau bahan baku alas kaki tersebut lain daripada yang lain. Misalnya saja terbuat dari bahan-bahan yang ramah lingkungan.

Inilah yang menjadi ciri khas Pijak Bumi, marketplace ragam produk alas kaki dengan bahan baku yang ramah lingkungan. Aplikasi ini sudah aktif sejak 2016. Dengan kekhususan itu, mulai banyak pasar yang melirik produk spesial tersebut. Tak cuma dari dalam negeri tapi juga luar negeri. 

Rowland Asfales, Chief Executive Officer (CEO) Pijak Bumi, Kamis (5/3), menjelaskan ,untuk saat ini saja, dirinya sudah menyiapkan koleksi sepatu sebanyak 20-25 stock-keeping unit (SKU). Adapun rata-rata produksi sepatu khusus ini saban bulannya adalah sebanyak 1.500 pasang. Hebatnya, setiap produksi sepatu itu tandas terjual.

Baca Juga: Sneakers kolaborasi fenomenal di ujung tahun yang menjadi buruan

"Untuk permintaan setiap bulan, kurang lebih sama dengan produksi dan saat ini kami tengah mengalami permintaan yang berlebih, karena terkadang ada masalah produksi dan tertunda," katanya kepada KONTAN.

Baca Juga: Laba Lekker dari Sepatu Sneakers

Untuk membuat sepatu ini, Pijak Bumi memakai beberapa bahan baku lokal berupa kulit samak nabati dari Pekalongan, kemudian ada katun organik, serta kulit kelapa atau coconut leather yang terbuat dari batok kelapa yang sudah dilebur menjadi bubuk dan kemudian dicetak menjadi kain.

Dari beragam bahan baku tersebut, Pijak Bumi langsung mendesain dan membuat sepatu secara mandiri. Harga sepatu ramah lingkungan ini dipatok mulai dari Rp 375.000 per pasang sampai Rp 1,8 juta per pasang.

Untuk mempermudah proses produksi, Pijak Bumi sudah bermitra dengan 50 perajin sampai 60 perajin. Mereka juga menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan manufakur besar untuk membantu proses pembuatan sepatu kulit. "Tempat produksi kebanyakan di Bandung dan Tangerang," tuturnya.

Melihat respon pasar yang positif, Pijak Bumi menargetkan bisa meraup pertumbuhan penjualan hingga 40% di akhir tahun ini. Untuk bisa menggapai target tersebut, start up ini baru saja melansir produk anyar dan, kalau tidak ada halangan, bakal dipamerkan di Micam Milano 2020 yang akan berlangsung pada April 2020 mendatang. Acara ini adalah salah satu pameran dagang internasional khusus sepatu yang berlangsung dua setiap tahun sekali. Kebetulan, tahun ini fokus perhatian Pijak Bumi adalah menyasar pasar Eropa.

Rencana ekspansi lainnnya yang sudah masuk agenda adalah Pijak Bumi, nantinya, tidak juga menjual produk sepatu saja tapi juga produk fesyen dari atas kepala hingga ujung kaki alias head to toe yang ramah bumi.

Tak cuma produk yang bertambah, jangkauan pasar juga diharapkan semakin luas. Misalnya menyasar pasar Asia seperti Jepang dan Hong Kong. "Kami mendapatkan kesempatan untuk ekspansi ke negara tersebut," katanya. 

Meski bisnisnya sudah berkembang, sejauh ini, dana ekspansi start up ini masih dilakukan secara  mandiri. Namun start up ini tengah negosiasi dengan beberapa calon investor untuk pengembangan bisnis.                       




TERBARU

Close [X]
×