kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45936,49   -8,95   -0.95%
  • EMAS1.027.000 -0,19%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Potensi pasar luas, peluang berkebun kakao terbuka


Selasa, 28 November 2017 / 12:00 WIB
Potensi pasar luas, peluang berkebun kakao terbuka


Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Johana K.

KONTAN.CO.ID - LUWU, SULAWESI SELATAN Seiring berjalannya waktu, kebutuhan industri pengolahan kakao bertambah besar. Namun, kebutuhan itu ternyata tak sebanding dengan produksi kakao di Indonesia. Menurut data The International Cocoa Organization (ICCO), tren produksi kakao Indonesia justru menurun sejak 7 tahun terakhir, yakni dari 700.000 metrikton (MT) menjadi 290.000 MT. 

Oleh karena itu, peluang petani kakao di Indonesia masih besar. Alexander, petani kakao asal Desa Kalotok, Luwu Timur, Sulawesi Selatan pun memutuskan kembali menggeluti kakao melanjutkan perkebunan kakao milik orangtuanya. "Jadi petani sebenarnya sejak 1999, tapi saya sempat merantau dari tahun 2001. Tahun 2014 balik ke sini dan jadi petani kakao," ujarnya. 

Saat ini, Alex memiliki lahan seluas 4,5 hektare (ha). Namun, baru sekitar 1 ha yang bisa menghasilkan buah kakao. Tiap dua minggu sekali, ia memanen sekitar 900 kilogram (kg) kakao. Dalam sebulan, hasil panennya sekitar 1,8 ton. Namun, "Hasil maksimal 900 kg biasanya pada bulan Maret, April dan Oktober. Kalau bulan-bulan lain rata-rata 500 kg," tuturnya. 
 
Seluruh hasil panen kakao di kebunnya diserap oleh industri pengolahan kakao di sekitar Luwu Timur. Harga kakao yang digunakan sesuai dengan acuan harga kakao internasional, yakni sebesar Rp 9.800 per kg basah. "Sejauh ini, saya jual ke industri dalam bentuk basah dan belum dijual ke pasar, karena kakao ini harus diolah dulu," kata Alex. 
 
Tak hanya menjual buah kakao, Alex juga membuat bibit kakao untuk dijual ke masyarakat sekitar. Satu bibit kakao dijual Rp 5.000. Dalam satu kali penjualan, Alex bisa menjual sedikitnya 1.000 bibit kakao. Praktis, ia bisa mengantongi omzet sampai Rp 20 juta per bulan dari penjualan buah dan bibit. 
 
Manajer Operasional Lapangan dan Sumber Daya Kakao PT Mars Symbioscience Indonesia, A. Amiruddin menjelaskan, Mars memang mengambil sumber kakao dari hasil panen petani lokal. "Biasanya kami beli langsung dari tempat petani atau petani bisa menyetor hasil panennya ke buying station milik Mars," jelasnya. 
 
Mars biasanya mendirikan buying station di tiap kabupaten. Amiruddin  mengatakan para petani kebanyakan menjual buah kakao dalam bentuk basah. "Kalau mereka jual dalam bentuk kering, harganya bisa tiga kali lipat lebih mahal. Tapi mengeringkan dan fermentasi buah kakao butuh waktu lama dan belum tentu berhasil," tutur Ame. 
 
Harga beli kakao akan terpengaruh jika ada panen raya di wilayah Pantai Gading, Afrika. "Harga  terkoreksi sedikit, paling sekitar Rp 100 sampai Rp 150 per kg," terangnya. Kakao yang sudah tersertifikasi juga punya harga lebih baik.  

Pohon Kakao Lebih Mampu Bertahan Pada Musim Kering

 

Kakao memang tumbuh di negara beriklim tropis. Selain di Indonesia, tumbuhan ini banyak ditemui juga di Brazil dan Pantai Gading, Afrika.  
 
Menurut Alexander, petani kakao asal desa Kalotok, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, membudidayakan tanaman kakao termasuk mudah. Tanaman ini relatif tahan terhadap cuaca panas ketimbang hujan. Jika hujan turun terlalu sering akan membuat buah kakao cepat busuk. Namun, jika cuaca panas, tanaman kakao bisa bertahan sampai satu bulan tanpa disiram.
 
Soal pemupukan, tergantung kebutuhan tanaman. Alex rutin memupuk kakao tiap tiga bulan. "Ada juga yang enam bulan sekali, tergantung pasokan pupuk," tuturnya saat  ditemui di kawasan kebunnya.
 
Sedangkan, penyemprotan pestisida dia lakukan dua kali sebulan. Penyemprotan lebih sering dilakukan karena tanaman kakao sangat rentan dengan hama Pengerek Buah Kakao (PBK) dan PSC. Kedua hama tersebut adalah musuh utama tanaman kakao. "Hama PBK bentuknya seperti nyamuk, dia menyerang buah kakao hingga bentuknya tak bulat sempurna dan tak bisa matang, serta cepat menular," ujarnya. 
 
Sedangkan, hama PSC menyerang daun kakao. Hama ini mengakibatkan warna daun berubah warna menjadi cokelat dan mengering. Jika dibiarkan, daun bisa habis dan akhirnya mati. 
 
Alex bilang tanaman kakao biasa ditanam dalam jarak 3x3 meter. Butuh waktu sekitar dua tahun bagi bibit kakao ukuran 50 cm hingga berbuah. Perawatan tanaman dilakukan dengan memangkas ranting yang sudah tua. Tujuannya, agar ranting baru bisa tumbuh lebih cepat. 
 
Di sisi lain, untuk memperbanyak tanaman kakao, A. Amiruddin, CVC Growth Manager PT Mars Symbioscience Indonesia menjelaskan, ada dua cara untuk membibitkan kakao. Yakni, sambung pucuk dan sambung samping. "Pembuahan atau polinasinya bisa dikakukan secara alami oleh serangga atau secara manual oleh manusia," terangnya.
 
Sambung pucuk biasanya digunakan untuk membuat bibit baru. Sedangkan sambung samping dilakukan untuk merevitalisasi tanaman kakao yang sudah lama agar produktivitasnya jadi lebih baik. Menurut Ame, sapaan akrab A.Amiruddin, kedua cara tersebut merupakan cara yang paling cepat dan efisien bagi para petani. 
 
Dengan cara sambung samping, tanaman kakao yang sudah lebih dari 15 tahun bisa diremajakan tanpa harus memotong batang lama. Ame bilang, seharusnya, untuk menjaga kelangsungan produktivitas kakao, pohon yang sudah di atas 20 tahun harus ditebang kemudian ditanam yang baru.
 
Namun dengan adanya metode sambung samping ini tak perlu menebang batang lama. Sebab, kalau batang tua dipotong, pemasukan petani berkurang, hingga dua tahun. Sedangkan teknik sambung samping bisa menghasilkan buah dalam jangka waktu 9 bulan. "Jadi sambil disambung samping, nanti kalau sudah ada hasilnya, batang yang tua bisa langsung ditebang," pungkas Ame.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×